Catatan Fa Hien tentang Tarumanegara menjadi penting sebab keterangannya merupakan salah satu sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara. Fa-Hien adalah seorang biksu yang berasal dari negeri Cina (Tiongkok). Di dalam upaya memperdalam ilmu tentang ajaran agama Buddha terutama dengan mencari salinan dari Vinaya Pitaka, Fa-Hien melakukan perjalanan dari Cina menuju India. Di dalam perjalanannya kembali dari India, Fa-Hien melintasi jalur laut dan mengunjungi beberapa wilayah di selatan daratan Cina, salah satunya ia juga mengunjungi Pulau Jawa. Di Pulau Jawa inilah Fa-Hien juga memberikan kesaksiannya tentang kehidupan masyarakat yang hingga saat ini diduga bahwa tempat yang dikunjungi oleh Fa-Hien adalah Tarumanegara. Di dalam artikel ini akan memberikan penjelasan tentang catatan Fa-Hien tentang Tarumanegara.

Perjalanan dan Laporan Fa Hien di Negeri-Negeri Yang Dikunjungi

Fa Hien memulai perjalanannya pada tahun 399 M menuju India sebagai salah satu peziarah pertama dari Tiongkok dan bahkan dunia yang mengunjungi India. Di dalam perjalanannya mengunjungi India Fa Hien melalui jalur darat, sedangkan di dalam perjalanan kembali ke Tiongkok, ia menempuh jalur laut. Dengan demikian banyaklah negeri-negeri yang telah ia kunjungi dalam upayanya menerjemahkan teks-teks agama Buddha.

Perjalanan Mengunjungi India

Fa Hien berangkat bersama sembilan orang lainnya untuk mencari teks suci agama Buddha. Ia memulai perjalanannya jauh dari Tiongkok dengan melintasi gurun, pegunungan es dan juga gunung-gunung dengan medan yang terjal. Ia mulai berhasil tiba di India pada permulaan awal abad ke-5 M dari arah barat laut dan mencapai Pataliputra. Di sini ia berhasil membawa sejumlah besar teks berbahasa Sansekerta dan gambar Buddha yang disakralkan dalam agama Buddha.

Baca Juga  Pengakuan Negara-Negara Arab Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Kunjungan Fa Hien ke India ini terjadi pada masa pemerintahan Chandragupta II dari Dinasti Gupta. Berdasarkan pada memoarnya, Fa Hien kira-kira tinggal di India selama 10 tahun. Selama tinggal di India, ia mengunjungi situs-situs utama yang terkait dengan Sang Buddha, serta pusat pendidikan dan biara Buddha yang terkenal. Ia mengunjungi Kapilvastu (Lumbini), Bodh Gaya, Benares (Varanasi), Shravasti, dan Kushinagar, semuanya terkait dengan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Sang Buddha.

Di India ini pula Fa Hien mempelajari bahasa Sansekerta, dan mulai mengumpulkan literatur-literatur agama Buddha di India. Beberapa tempat yang dijadikan sebagai upayanya dalam mengumpulkan literatur-literatur agama Buddha antara lain dari Pataliputra (Patna), Oddiyana, dan Taxila di Gandhara. Berdasarkan keterangannya, di India pada abad ke-5 tradisi Mahayana dan Hinayana yang muncul dengan sub-tradisi Therevada yang mengalami perpecahan dalam menafsirkan ajaran agama Buddha. Setelah berhasil mengumpulkan banyak sekali literatur-literatur agama Buddha di India, ia segera mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke Tiongkok melalui jalur laut.

Singgah di Sri Lanka dan Terdampar di Jawa (?)

Setelah selama 10 tahun tinggal di daratan anak benua India, Fa Hien segera mempersiapkan dirinya untuk kembali ke Tiongkok. Sebelum kembali ke Tiongkok pada 412 M, ia terlebih dahulu mengunjungi Sri Lanka. Di Sri Lanka, Fa Hien tinggal selama dua tahun sambil menunggu kapal yang berangkat menuju ke Tiongkok. Pada tahun 414 M kapal yang ditunggu untuk mengantarnya menuju Tiongkok pun tiba. Fa Hien segera menaiki kapal tersebut, namun ditengah perjalanan mendapatkan tantangan. Kapal yang ditumpanginya diterjang oleh badai dan membuat kapal terseret ke sebuah pulau yang diperkirakan adalah Pulau Jawa.

Baca Juga  Kerajaan Sambas

Catatan Fa Hien Tentang Tarumanegara

Catatan Fa Hien tentang Tarumanegara didapatkan berdasarkan keterangan yang diberikan di dalam A Record Buddhistic Kingdoms yang merupakan catatan perjalanan Fa Hien saat keluar dari Tiongkok menuju India dan kembali lagi ke Tiongkok. Dijelaskan setelah melakukan perjalanan dengan bertolak dari Srilanka selama lebih dari sembilan puluh hari, mereka tiba di sebuah negara yang disebut Ye-p’o-ti, di mana berbagai bentuk kesalahan dalam kepercayaan dan Brahmanisme tumbuh subur, sedangkan agama Buddha di dalamnya tidak layak dibicarakan. Setelah tinggal di sana selama lima bulan, (Fa-hien) kembali berangkat dengan pedagang besar lainnya, yang juga membawa lebih dari 200 orang. Mereka membawa perbekalan selama lima puluh hari, dan memulai pelayaran pada hari keenam belas bulan keempat.

Negeri Ye-p’o-ti yang dimaksud dikunjungi oleh Fa Hien pada tahun 414 M ditranskripsikan dengan Yawadwipa. Negeri yang dikunjungi itu kemungkinan adalah negeri Taruma yang terletak di bagian barat Pulau Jawa. Berdasarkan pada keterangan di atas kiranya dapatlah diperoleh deskripsi bahwa ajaran agama Buddha di Jawa (Kerajaan Tarumanegara) belum menjadi mayoritas dianut oleh penduduk. kata-kata “tidak layak dibicarakan” bukan berarti tidak ada penganut ajaran agama Buddha sama sekali, mungkin jumlahnya yang terlampau sedikit. Sehingga menurut Fa Hien yang fanatik terhadap ajaran Buddha, kehidupan ajaran agama Buddha di Jawa pada saat itu tidak perlu dibicarakan. Sedangkan menurut keterangannya pula meyakini bahwa Kerajaan Tarumanegara penduduknya sebagian besar menganut kepercayaan lokal dan sebagian besar lainnya menganut ajaran agama Hindu.

Catatan Fa Hien tentang Tarumanegara ini tentu saja meyakinkan sebab ia tinggal selama lima bulan lamanya di negeri itu untuk menunggu kapal yang hendak ia tumpangi kembali ke negeri Tiongkok. Meskipun gambaran itu tentu saja adalah sesuatu hal yang umum dan tidak memberikan penjelasan secara terperinci, setidaknya keterangan Fa Hien ini menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan India di negeri Taruma.

Baca Juga  Resiguru Manikmaya (536-568)

Daftar Bacaan

  • Fa Hien. (terj.) Legge, James. 1886. A Record of Buddhistic Kingdom: Being an account by the Chinese Monk Fa-Hsien of Travels in India and Ceylon (A.D. 399-414). Oxford: Oxford Clarendon Press.
  • Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu.
  • Krom, N.J. 1954. Zaman Hindu. Djakarta: PT Pembangunan Djakarta.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca