Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara yang terletak di bagian barat Pulau Jawa. Sebelum mendirikan Kerajaan Salakanagara, Dewawarman adalah seorang utusan dari Maharaja Pallawa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan raja tersebut, beliau pernah mengunjungi kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina, dan Abasid (Mesopotamia).

Dewawarman memiliki dua orang istri, yang pertama merupakan putri dari Benggala (India) dan yang kedua adalah puteri dari Aki Tirem yang bernama Pohaci Larasati. Setelah mendirikan Kerajaan Salakanagara, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara (selanjutnya disebut Dewawarman I). Sedangkan Pohaci Larasati (permaisurinya) bergelar Dewi Dwani Rahayu.

Dari pernikahannya yang pertama dengan putri Benggala, beliau memiliki putra yang bernama Singasagara Bhimayasawirya. Sedangkan dari pernikahannya dengan Pohaci Larasati, Dewawarman I memiliki beberapa orang anak. Anak laki-laki tertua yang bernama Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra (Dewawarman II) menggantikan kedudukan ayahnya selaku penguasa Kerajaan Salakanagara.

Dewawarman I, kerap kali harus memimpin langsung pasukannya untuk menumpas para bajak laut. Karena beliau begitu ahli dalam bertempur, maka para perompak saat itu dapat ditumpas dan enggan untuk memasuki wilayah Kerajaan Salakanagara. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Salakanagara juga terlibat dalam aktivitas kemaritiman pada awal Masehi terutama dalam aktivitas perdagangan internasional. Sehingga sangatlah diperlukan adanya stabilitas di daerah perairan kawasan Kerajaan Salakanagara.

Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari Hou Han-Shu menyebutkan bahwa seorang raja dari Ye-Tiao (Transkripsi Cina untuk Pulau Jawa) yang bernama Tiao Pien (Dewawarman I) mengirimkan utusannya pada tahun 132 ke negeri Cina. Melalui utusannya itu Raja Tiao Pien mendapatkan anugerah kehormatan dari negeri Cina. Apabila mengacu pada keterangan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa Kerajaan Salakanagara pada masa pemerintahan Dewawarman I telah menjalin hubungan dengan negeri Cina. Terkait dengan anugerah kehormatan dari negeri Cina itu merupakan suatu bentuk pengakuan dari negeri Cina terhadap eksistensi Kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Dewawarman I.

Baca Juga  Prabu Citraganda (1303-1311)

Selain hubungan dengan Cina, kiranya perlu juga memahami keterangan yang diberikan oleh Claudius Ptolomeus pada tahun 165;

“Di antara pulau pulau Nusantara disebut “Barousai Lama”, dihuni oleh pemakan daging manusia, “Sabadeibai Tiga”, juga dihuni oleh pemakan daging manusia, dan pulau Yabadiou atau Sabadiou nama yang berarti negeri Jelai, yang dikatakan sangat subur dan menghasilkan emas banyak dan ibukotanya di ujung sebelah baratnya, sebuah kota dagang bernama Argyre atau Kota Perak.”

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Claudius Ptolomeus tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Salakanagara dengan ibukotanya Argyre (Rajatapura) merupakan kota pelabuhan dagang yang disinggahi oleh berbagai pedagang dari berbagai tempat. Keterangan Claudius Ptolomeus itu mungkin tidak berlebihan sebab peta yang ia buat pada tahun 165 itu merupakan kumpulan keterangan yang berasal dari Strabo yang berasal dari abad ke-1 SM dan Plinus akhir abad ke-1 M. Di dalam peta itu dijelaskan tentang jalur pelayaran dari Eropa ke Cina dengan melalui: India, Vietnam, ujung utara Sumatera, kemudian menyusuri pantai barat Sumatera, Pulau Panaitan, Selat Sunda, terus melalui Laut Tiongkok selatan sampai ke Cina.

dewawarman i
Situs Batujaya awal mula dibangun oleh Dewawarman I

Dewawarman I pada masa kekuasaannya, membentuk sebuah kompleks candi di daerah Batujaya (Karawang). Bangunan candi-candi kecil yang semuanya berjumlah 24 buah tersebut memperlihatkan unsur bangunan agama Buddha. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa selain agama Hindu juga terdapat agama Buddha yang telah dianut oleh masyarkat Kerajaan Salakanagara.

Daftar Bacaan

  • Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa
  • Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Sarga 4 Parwa 2
  • Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Sarga 3 Parwa 2
  • Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Ekajati, Edi S. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
Baca Juga  Perlawanan Banten Terhadap VOC (1652-1682)
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca