Dewawarman VIII (348 – 363)

Dewawarman VIII merupakan panglima angkatan laut Kerajaan Palawa yang mengungsi bersama ibunya, Sri Gandari Lengkaradewi ke Kerajaan Salakanagara pada tahun 346. Di saat dinobatkan sebagai raja Kerajaan Salakanagara, beliau diberi gelar Prabu Darmawirya Dewawarman. Pada masa kekuasaannya inilah, Kerajaan Salakanagara mencapai puncak keemasannya. Kehidupan penduduk makmur sentosa, dan sang raja memajukan kehidupan keagamaan. Mayoritas penduduk saat itu memeluk agama Ganapati yang memuja Ganesha. Sedangkan sisanya ada yang memuja Wisnu, Siwa, Siwa-Wisnu, dan kepercayaan asli leluhur.

Dewawarman VIII membuat candi dan patung bagi semua penganut agama yang ada saat itu. Untuk penganut Siwa dibuatkan Siwa Mahadewa dengan hiasan bulan sabit pada kepalanya (mardhacandrakapala). Untuk penganut Ganapati dibuatkan patung Ganesha (Ghayanadawa). Tidak ketinggalan juga patung Wisnu dia persembahkan bagi para pemujanya. Dewawarman VIII juga mendirikan candi di wilayah Lebak Cibedug, (sekarang termasuk Kabupaten Lebak).

dewawarman viii
Arca Ganesha yang ditemukan di Pulau Panaitan, Banten. Arca Ganesha ini diduga sebagai peninggalan masa pemerintahan Dewawarman VIII dari Salakanagara.

Dewawarman VIII mempunyai 2 orang permaisuri. Yang pertama adalah Spatikarnawa Warmandewi yang kelak menurunkan keturunan menjadi raja-raja di barat Jawa dan Kalimantan. Sedangkan permaisuri yang kedua bernama Candralocana (puteri seorang Brahmana dari Calankayana), dari permaisuri ini lahirlah keturunan yang kelak menjadi raja-raja di Pulau Sumatera, Semenanjung, dan Jawa Tengah.

Berikut ini merupakan putra-putri dari Dewawarman VIII :

  1. Iswari Tunggal Pertiwi Warmadewi (Dewi Minawati), puteri ini kelak menikah dengan Sang Maharesi Jayasingawarman (pendiri Kerajaan Tarumanagara);
  2. Aswawarman, putera ini diangkat anak sejak kecil oleh Kudungga (raja pertama Kerajaan Kutai), kemudian dijodohkan dengan puterinya dan akhirnya meneruskan kekuasaan di Kutai;
  3. Dewi Indari, kelak puteri ini menikah dengan Maharesi Santanu (Raja Kerajaan Indraprahasta yang pertama);
  4. Dewawarman IX

Putera-puterinya yang lain tinggal di Yawana dan Semenanjung. Sementara yang berpindah ke pulau Sumatera, kelak akan menurunkan keturunan raja-raja disana termasuk Sang Adityawarman (Raja Sriwijaya). Sedangkan putranya yang bungsu menjadi penerus Kerajaan Salakanagara dengan gelar Dewawarman IX.

Baca Juga  Perundingan Hooge Veluwe (1946)

Daftar Bacaan

  • Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa
  • Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Sarga 4 Parwa 2
  • Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara Sarga 3 Parwa 2
  • Ayatrohaedi. 2005. Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Ekajati, Edi S. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
error: Content is protected !!