Fa Hien (337-424 M): Pengelana Buddhis Pertama Asal Tiongkok Yang Menerjemahkan Karya-Karya Agama Buddha

Fa Hien adalah seorang bikkhu/biksu agama Buddha yang berasal dari Tiongkok yang hidup selama periode Dinasti Jin Timur di Tiongkok. Fa Hien/ Fa Hsien/Faxian selain sebagai seorang biksu ia juga sebagai pengelana yang melakukan perjalanan dari Tiongkok ke India untuk mencari salinan lengkap dari vinaya-pittaka dan karya-karya agama Buddha lainnya untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Di India, ia berhasil mengumpulkan banyak naskah-naskah yang berkaitan dengan agama Buddha. Setelah kembali ke Tiongkok, ia menerjemahkan teks-teks ini ke dalam bahasa Mandarin sehingga dapat dipergunakan oleh komunitas-komunitas Buddha yang ada di Tiongkok.

Naskah-naskah yang telah diterjemahkan oleh Fa Hien ini menjadi salah satu terjemahan naskah-naskah Buddha yang paling akurat dan terpercaya dalam bahasa Mandarin. Terjemahan yang ia lakukan ini nyatanya memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan ajaran Buddha di Tiongkok sebagai pondasi dasar. Tidak hanya memberikan sumbangan kepada agama Buddha di Tiongkok saja, perjalanan yang dilakukannya juga memberikan wawasan budaya bagi masyarakat di Asia Tengah, India, dan Asia Tenggara yang tulisannya dipelajari oleh para sarjana hingga berabad-abad. Di dalam artikel ini akan dijelaskan secara singkat biografi Fa Hien sebagai seorang biksu dan pengelana Agama Buddha dari Tiongkok.

Masa Kecil Dan Pendidikan Fa Hien

Tidak begitu banyak sebenarnya yang dapat diketahui tentang Fa Hien selain apa yang dapat diketahui dari catatan perjalanan yang telah ia lakukan. Dirinya lahir pada tahun 337 M pada masa Dinasti Jin Timur berkuasa di Tiongkok. Ia berasal dari daerah Wu Yang yang terletak di Kabupaten P’ing Yang, Provinsi Shanxi, Tiongkok. Dia lahir dari keluarga bermarga Kung dengan memiliki tiga orang saudara laki-laki namun ketiganya meninggal sejak masih kanak-kanak.

Baca Juga  Kerajaan Ostrogoth (469-553)

Sejak kecil, Fa Hien diperintahkan oleh ayahnya untuk melayani masyarakat yang menganut Buddhisme dengan menjadi seorang sramanera (calon bikkhu/biksu). Saat masih kecil dririnya sempat jatuh sakit dan ayahnya mengirimnya ke sebuah biara dimana akhirnya ia dapat sembuh. Namun, setelah sembuh, ia menolak untuk kembali ke orangtuanya. Ketika dia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dan seorang pamannya yang iba melihat ibu Fa Hien yang tidak berdaya mendesak Fa Hien untuk meninggalkan kehidupan monastik dan kembali kepada kehidupan masyarakat pada umumnya. Namun, Fa Hien menjawab:

“…Saya tidak keluar dari keluarga sesuai dengan keinginan ayah saya, tetapi karena saya menginginkannya. jauh dari debu dan cara hidup yang vulgar. Inilah mengapa saya memilih kebhikkhuan.”

Fa-Hien

Mendengar kekerasan sikap Fa Hien, pamannya menyetujui sikap dan kata-katanya lalu menyerah mendesaknya untuk meninggalkan kehidupan monastik. Tidak berapa lama ketika ibunya juga meninggal, Fa Hien keluar dari biara untuk mengingat kembali betapa besar kasih sayang ibunya kepadanya karena sifatnya yang baik; tetapi setelah penguburan ibunya ia memutuskan untuk kembali ke biara.

Pada suatu hari Fa Hien yang sedang memotong padi bersama dengan satu atau dua rekannya, melihat beberapa pencuri mendatangi mereka dan berupaya untuk mengambil gabah mereka dengan paksa. Semua sramanera lainnya melarikan diri, namun Fa Hien berkata kepada para pencuri:

“Jika Anda harus mendapatkan padi ini, ambillah sesuka Anda. Tetapi, Tuan-tuan, pengabaian kedermawanan Anda sebelumnyalah yang membawa Anda ke dalam keadaan melarat saat ini; dan sekarang, sekali lagi, Anda ingin merampok orang lain. Saya khawatir bahwa di waktu mendatang Anda akan mengalami kemiskinan dan kesusahan yang lebih besar lagi;—saya minta maaf kepada Anda sebelumnya dengan kata-kata ini.”

Fa-Hien

Dengan kata-kata itu Fa Hien segera mengikuti teman-temannya menuju kembali ke vihara, sementara para pencuri meninggalkan potongan padi itu dan pergi. Mengetahui hal ini semua biksu yang terdapat di dalam vihara, yang jumlahnya beberapa ratus orang menghormati perilaku dan keberanian yang ditunjukkan olehnya.

Baca Juga  Gerakan Non Blok 1961

Perjalanan Fa Hien

fa hien
Fa Hien saat berada di reruntuhan Istana Raja Asoka

Ketika Fa Hien telah berhasil menyelesaikan pendidikannya, ia memikul tanggung jawab dari seluruh aliran Buddhis di Tiongkok. Berbekal keberaniannya yang tulus dan kebulatan sikap dan tekadnya untuk agama Buddha, ia segera melakukan rencana keberangkatan ke India untuk mencari salinan lengkap dari vinaya-pittaka. Hal menarik dari perjalanannya adalah bukan cerita perjalanan dari Tiongkok menuju India, melainkan perjalanan pulang dari India kembali ke Tiongkok melalui jalur laut. Di dalam perjalanan laut ini telah terjadi beberapa insiden yang luar biasa terjadi selama perjalanannya itu.

Berikut ini adalah catatan perjalanan yang dilakukan oleh Fa Hien;

  1. Dari Ch’ang-gan ke Gurun Pasir;
  2. Menuju Shen-shen dan Selanjutnya ke Khoten;
  3. Khoten;
  4. Menuju Gunung Shung dan Selanjutnya ke K’eeh-ch’a;
  5. Majelis Agung Lima Tahunan;
  6. Menuju India Utara, Narada;
  7. Menyebrang Sungai Indus;
  8. Woo-Chang atau Udyana;
  9. Soo-ho-to;
  10. Gandhara;
  11. Takshashila;
  12. Purushapura atau Peshawar;
  13. Nagara;
  14. Kematian Hwuy-king di Pegunungan Kecil Bersalju;
  15. Bhida;
  16. Menuju Mathura atau Muttra;
  17. Sankasya;
  18. Kanyakubja;
  19. Sha-che;
  20. Kosala dan Sarvasti;
  21. Tiga Pendahulu Sakyamuni dalam Kebudhaan;
  22. Kapilavastu;
  23. Rama dan Puncak;
  24. Dimana Buddha Akhirnya Meninggalkan Dunia;
  25. Vaisali;
  26. Kematian Ananda Yang Luar Biasa;
  27. Pataliputtra atau Patna, di Magadha;
  28. Rajagriha, Sekarang dan Masa Lalu;
  29. Bukit Gridhra-kuta, Dan Legenda;
  30. Gua Srataparna, Atau Gua Konsili Pertama;
  31. Gaya;
  32. Legenda Raja Asoka dan Masa Kelahiran Sebelumnya;
  33. Gunung Gurupada;
  34. Dalam Perjalanan Kembali ke Patna;
  35. Dakshana dan Biara Merpati;
  36. Di Patna;
  37. Ke Champa dan Tamalipti;
  38. Di Sri Lanka;
  39. Pengkremasian Seorang Arhat;
  40. Setelah Dua Tahun Menaiki Kapal Menuju Tiongkok.

Hal yang paling menarik dari perjalanan Fa Hien terutama adalah ketika kembali ke Tiongkok setelah selama dua tahun tinggal di Sri Lanka. Di dalam perjalanannya kembali ke Tiongkok dari Sri Lanka, Fa Hien mendapatkan banyak rintangan terutama sekali ketika kapal yang ditumpanginya harus menghantam badai. Kapal itu kemudian terpaksa menepi di sebuah pulau yang kemudian dikenal dengan nama Ye-p’o-ti pada tahun 414 M. Di Ye-p’o-ti dirinya tinggal selama lima bulan untuk melanjutkan perjalanannya kembali ke negeri Tiongkok. Kata Ye-p’o-ti ditranskripsikan dengan Yawadwipa atau Pulau Jawa.

Baca Juga  Kebudayaan Dong Dau (3500-3000 SM)

Apabila ditinjau dari kemungkinan perjalanan yang dilakukan oleh Fa Hien menuju kembali ke negeri Tiongkok, kemungkinan Pulau Jawa yang ia singgahi adalah wilayah pulau bagian barat. Sehingga para sarjana tempo lalu menganggap bahwa negeri yang dikunjungi oleh Fa Hien adalah negeri Taruma atau Kerajaan Tarumanegara yang posisinya tepat berada di wilayah bagian barat Pulau Jawa. Setelah tinggal selama lima bulan di Jawa, ia segera melanjutkan perjalanannya pulang ke negeri Tiongkok. Di Tarumanegara inilah Fa Hien juga memberikan catatannya tentang penduduk secara umum yang dengan begitu catatannya menjadi salah satu sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara.

Kembali Ke Negeri Tiongkok

Setelah Fa Hien kembali ke negeri Tiongkok, ia segera pergi ke ibu kota Nanking dan di sana bersama para Sramana India menerjemahkan beberapa karya yang berhasil ia peroleh dari India. Sebelum ia berhasil menerjemahkan seluruh karya itu, ia dipindahkan ke King-chow (Hoo-pih sekarang) dan meninggal di Biara Sin, pada usia 88 tahun pada 424 M. Fa Hien wafat dengan meninggalkan karya berupa catatan perjalanannya di berbagai negara.

Daftar Bacaan

– Fa Hien. (terj.) Legge, James. 1886. A Record of Buddhistic Kingdom: Being an account by the Chinese Monk Fa-Hsien of Travels in India and Ceylon (A.D. 399-414). Oxford: Oxford Clarendon Press.

error: Content is protected !!