Homo Neanderthalensis

Homo Neanderthalensis atau Manusia Neanderthal 

Homo Neanderthalensis – Homo neanderthalensis (neandertal) atau yang biasa disebut juga dengan Homo sapiens neanderthalensis adalah salah satu jenis manusia purba yang telah punah. Homo neanderthalensis diperkirakan hidup di dataran Eurasia hingga sekitar 40.000 tahun yang lalu. Berbagai kemungkinan penyebab kepunahannya pun hingga kini masih menyimpan perdebatan, termasuk telah mengalami asimilasi dengan manusia modern, maupun disebabkan oleh adanya perubahan iklim yang ekstrim. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Homo neanderthalensis.

Penemuan

Sisa-sisa kehidupan Homo neanderthalensis pertama kali ditemukan pada tahun 1829 oleh seorang naturalis asal Belanda, Philippe-Charles Schmerling di daerah Grottes d’Engis, Belgia. Awalnya Philippe beranggapan bahwa temuannya adalah fosil dari tengkorak manusia modern. Pada tahun 1848 sebuah tengkorak yang ditemukan di Tambang Forbes dipresentasikan di dalam Gibraltar Scientific Society oleh Letnan Edmund Henry Rene Flint.

Pada tahun 1856, Johann Carl Fuhlrott mengidentifikasi bahwa tulang yang ditemukan di Kleine Feldhofer Groote di Lembah Neander adalah tulang-tulang yang berbeda dengan manusia modern. Pada tahun 1857 Johann Carl Fuhlrott kemudian memberikannya kepada antropolog Jerman, Hermann Schaaffhausen untuk dipelejari. Beberapa tulang yang dipelajari oleh Hermann Schaaffhausen antara lain adalah tempurung kepala, tulang paha, humerus dan ulna kiri, tulang pinggul, lengan kanan, bagian tulang belikat kanan dan potongan tulang rusuk. Menurut pengamatan Johann Carl Fuhlrott dan Hermann Schaaffhausen, tulang-tulang ini berasal dari manusia modern kuno (Hermann Schaaffhausen merujuk pada Origins of Species karya Charles Darwin). 

Pengamatan yang dilakukan oleh Johann Carl Fuhlrott dan Hermann Schaaffhausen terhadap temuan di Lembah Neander itu mendapat tentangan dari Rudolf Virchow. Pada tahun 1872 Rudolf Virchow mengidentifikasi bahwa karakteristik dari temuan itu adalah seseorang yang menunjukkan bukti dari kepikunan, penyakit dan malformasi. Berdasarkan pernyataan Rudolf Virchow inilah maka penelitian tentang Neanderthal diakhiri hingga akhir abad ke-19.

Memasuki awal abad ke-20, banyak penemuan-penemuan spesimen yang diduga memiliki kemiripan dengan penemuan di Lembah Neanderthal. Dengan demikian menjadikan Homo Neanderthalensis sebagai spesies yang sah. Hal ini terutama dengan ditemukannya spesimen yang berasal dari La Chapelle-aux-Saints, Perancis. Ahli Paleontologi Perancis, Marcellin Boule merekonstruksi temuan itu dengnan ciri agak membungkuk, mirip dengan kera dan memiliki kekerabatan yang jauh dengan manusia modern. Penemuan pada tahun 1912 yang disebut dengan “Manusia Piltdown” yang lebih mirip dengan manusia modern dibandingkan dengan Homo Neanderthalensis menunjukkan adanya hubungan jauh dengan manusia dan mendukung rekonstruksi yang dilakukan oleh Marcellin Boule.

Memasuki pertengahan abad ke-20, berdasarkan pemaparan terhadap Manusia Piltdown, komunitas-komunitas ilmiah mulai melakukan penelitian dan pemahaman ulang tentang apa yang disebut dengan Homo Neanderthalensis. Pada tahun 1939, antropolog berkebangsaan Amerika Serikat, Carleton Coon merekonstruksi Homo Neanderthalensis memiliki karakteristik yang hampir sama dengan manusia modern. William Golding pada tahun 1955 menggambarkan sosok Homo Neanderthalensis sebagai manusia yang lebih emosional dan beradab, tidak seperti yang digambarkan pada abad ke-19 yang dianggap sebagai manusia yang tinggal di dalam gua dan tidak beradab.

Ciri-Ciri Homo Neanderthalensis

Berdasarkan penemuan fosil Homo Neanderthalensis, maka dapat diketahui ciri-ciri dari Homo Neanderthalensis:

  1. Memiliki tengkorak yang memanjang ke belakang;
  2. Memiliki tulang kening yang sangat menonjol;
  3. Memiliki dahi yang datar, muka lebar dan telah memiliki otak yang besar;
  4. Memiliki tubuh yang lebih kuat dan kekar dibandingkan manusia modern;
  5. Memiliki tinggi untuk laki-laki sekitar 164-168 cm dan perempuan 152-156 cm. Meskipun dalam beberapa kasus, Homo Neanderthalensis bisa mencapai tinggi 177 cm.
  6. Bobot Homo Neanderthalensis diperkirakan sebesar 77,6 kg untuk laki-laki dan 66,4 kg untuk perempuan.
  7. Memiliki dagu yang lebih kecil, dahi yang miring, dan hidung yang besar, yang juga mulai agak lebih tinggi dibandingkan dengan wajah daripada manusia modern. 
  8. Memiliki volume otak rata-rata sekitar 1600 cc untuk laki-laki dan 1300 cc untuk perempuan.

Demikianlah penjelasan singkat tentang manusia Neanderthal dan ciri-ciri dari Homo Neanderthalensis.

Daftar Bacaan

  • Beals, K., Smith, C., Dodd, S. 1984. “Brain size, cranial morphology, climate, and time machines”. Current Anthropology. 12 (3): 301–30.
  • Briggs, A. W., Good, J. M., Green, R. E. 2009. “Targeted retrieval and analysis of five Neandertal mtDNA genomes”. Science. 325 (5, 938): 318–321.
  • Endicott, P., Ho, S. Y. W., Stringer, C. 2010. “Using genetic evidence to evaluate four palaeoanthropological hypotheses for the timing of Neanderthal and modern human origins”. Journal of Human Evolution. 59 (1): 87–95.
  • Formicola, V., Giannecchini, M. 1998. “Evolutionary trends of stature in Upper Paleolithic and Mesolithic Europe”. Journal of Human Evolution. 36 (3): 325.
  • Froehle, A. W., Churchill, S. E. 2009. “Energetic competition between Neandertals and anatomically modern humans”. PaleoAnthropology: 96–116
    – Fuhlrott, J. C. 1859. “Menschliche Uberreste aus einer Felsengrotte des Dusselthales”. Verh Naturhist Ver Preuss Rheinl. 16: 131–153.
    – García-Martínez, D., Bastir, M., Huguet, R. 2017. “The costal remains of the El Sidron Neanderthal site (Asturias, northern Spain) and their importance for understanding Neanderthal thorax morphology”. Journal of Human Evolution. 111: 85–101.
  • King, W. 1864. “The reputed fossil man of the Neanderthal”. Quarterly Journal of Science. 1: 96.
  • Klaatsch, H. 1909. “Preuves que l’Homo Mousteriensis Hauseri appartient au type de Neandertal”. L’Homme Prehistorique. 7: 10–16.
  • Lack, B. A., Neely, R. R., Manga, M. 2015. “Campanian Ignimbrite volcanism, climate, and the final decline of the Neanderthals” . Geology. 43 (5): 411–414.
    – Lee, S. S. M., Piazza, S. J. 2009. “Built for speed: musculoskeletal structure and sprinting ability”. Journal of Experimental Biology. 212 (22): 3700–3707.
  • Menez, A. 2018. “Custodian of the Gibraltar skull: the history of the Gibraltar Scientific Society”. Earth Sciences History. 37 (1): 34–62.
  • Paabo, S. 2014. Neanderthal man: in search of lost genomes. New York: Basic Books.
  • Serangeli, J., Bolus, M. 2008. “Out of Europe – The dispersal of a successful European hominin form”. Quartar. 55: 83–98.
  • Sommer, M. 2006. “Mirror, mirror on the wall: Neanderthal as image and ‘distortion’ in early 20th-century French science and press”. Social Studies of Science. 36 (2): 207–240. 
  • Sullivan, A. P., de Manuel, M., Marques-Bonet, T., Perry, G. H. 2017. “An evolutionary medicine perspective on Neandertal extinction”. Journal of Human Evolution. 108: 62–71.
error: Content is protected !!