Interpretasi Sejarah

Interpretasi Sejarah Interpretasi sejarah adalah tahapan selanjutnya dalam penelitian sejarah setelah sejarawan maupun penulis sejarah melakukan kritik sumber sejarah. Interpretasi sejarah adalah proses menafsirkan dan memahami peristiwa sejarah dengan menggunakan sumber-sumber sejarah yang tersedia. Interpretasi sejarah dapat dilakukan oleh sejarawan atau individu lain yang tertarik pada sejarah.

Di dalam interpretasi sejarah, sejarawan dan pembaca harus menyadari bahwa setiap interpretasi bersifat subjektif, dan dapat dipengaruhi oleh sudut pandang, nilai, dan pengalaman individu. Oleh karena itu, interpretasi sejarah harus dilakukan dengan hati-hati dan berdasarkan sumber-sumber yang terverifikasi secara akurat dan obyektif. Di dalam artikel ini akan dijelaskan secara singkat tentang interpretasi sejarah.

Baca Juga  Memahami Tema Sejarah Ekonomi

Pengertian Interpretasi Sejarah

Di dalam penulisan sejarah, digunakan secara bersamaan tiga bentuk teknis dasar tulis-menulis yaitu deskrpisi, narasi dan analisis. Ketika seorang sejarawan maupun penulis sejarah menulis, sebenarnya merupakan keinginannya untuk menjelaskan (eksplanasi) sejarah. Di mana dalam hal ini ada dua dorongan utama yang menggerakkannya yaitu mencipta ulang (re-create) dan menafsirkan (interpret).

Dorongan pertama menuntut deskripsi dan narasi, sedangkan dorongan kedua menuntut analisis. Sejarawan yang berorientasi pada sumber-sumber sejarah saja, akan menggunakan porsi deskripsi dan narasi yang lebih banyak, sedangkan sejarawan yang berorientasi kepada problema, selain menggunakan deskripsi dan narasi, akan lebih mengutamakan analisis. Akan tetapi apapun cara yang dipergunakannya, semua akan bermuara pada sintesis.

Sehubungan dengan teknik deskripsi, narasi dan analisis di atas, sebenarnya sebagian terbesar sejarawan dalam karya-karya mereka itu “bercerita”. Akan tetapi sejarah yang diceritakan oleh para sejarawan itu, menurut Arthur C. Danto adalah “cerita-cerita yang sebenarnya.” Mereka berusaha sebaik-baiknya untuk menceriterakan cerita-cerita sebenarnya menurut topik-topik atau masalah-masalah yang mereka pilih. Hanya saja teknik deskripsi-narasi ini sering di kaitkan dengan bentuk atau model “sejarah lama” (old history), sedangkan teknik analisis dikaitkan dengan bentuk atau model “sejarah baru” (new history) yang ilmiah (scientific).

Meskipun sebagian besar dapat dikatakan benar, bahwa Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai biang subjektivitas, tetapi sebagian lagi salah. Tanpa adanya penafsiran yang dilakukan oleh sejarawan, data atau sumber sejarah tidak dapat berbicara. Sejarawan yang jujur akan mencantumkan data dan keterangan dari mana data itu diperoleh. Orang lain dapat melihat kembali dan menafsirkan ulang. Itulah sebabnya, subjektivitas penulisan sejarah diakui, tetapi untuk dihindari. Perlu diketahui, jenis interpretasi terdapat dua macam, yaitu analisis dan sintesis. Di bawah ini akan dijelaskan dua jenis dari interpretasi sejarah itu.

Baca Juga  Hermeneutika Dalam Eksplanasi Sejarah

Analisis

Berdasarkan etimologi katanya, analisis berarti menguraikan. Perlu dipahami bahwa terkadang sebuah sumber mengandung beberapa kemungkinan. Misalnya, ditemukan daftar pengurus suatu organisasi masyarakat (ormas) di sebuah kota. Dari kelompok sosialnya, dapat di baca di sumber itu ada petani bertanah, pedagang, pegawai negeri, petani tak bertanah, orang swasta, guru, tukang, mandor. Dari keterangan ini mungkin kita dapat menyimpulkan bahwa ormas itu terbuka untuk semua orang. Jadi, bukan khusus untuk petani bertanah, tetapi juga untuk petani tak bertanah, pedagang, guru, pegawai negeri dan sebagainya.

Mungkin soal petani bertanah dan tak bertanah harus kita cari dengan cara lain, sebab dalam daftar pengurus tidak mungkin dicantumkan kekayaan, yang ada kemungkinan hanyalah dicantumkan jenis pekerjaan. Setelah melakukan analisis itu dapatlah ditemukan fakta bahwa pada tahun tertentu ormas tertentu bersifat terbuka, berdasarkan data yang kita peroleh dan kita cantumkan.

Mengenai kenaikan naiknya harga tanah, dapat ditemukan dari data-data yang diperoleh dari kecamatan maupun dari kota. Setelah melalui analisis statistik, atau melalui presentase biasa, ditemukan fakta bahwa harga tanah di dalam kota mengalami kenaikan. Di dalam demografi pun dapat ditemukan bahwa secara total terjadi integrasi. Hal ini sesuai dengan data dari kecamatan di dalam kota yang menunjukkan semakin banyaknya pendatang berasal dari luar daerah.

Sintesis

Berdasarkan pada etimologi katanya, sintesis berarti menyatukan. Setelah ada data tentang pertempuran, rapat-rapat, mobilisasi massa, penggantian pejabat, pembunuhan, orang-orang yang mengungsi, penurunan dan pengibaran bendera, dapatlah ditemukan fakta bahwa telah terjadi suatu revolusi. Jadi revolusi adalah hasil interpretasi kita setelah data-data kita kelompokkan menjadi satu. “Mengelompokkan” data itu hanya memungkinkan apabila kita memiliki konsep. Revolusi adalah generalisasi konseptual yang kita peroleh dari pembacaan. Dalam interpretasi baik itu analisis maupun sintesis, orang bisa saja berbeda pendapat. Dan perlu diketahui, bahwa perbedaan interpretasi itu sah, meskipun menggunakan data yang sama.

Baca Juga  Memilih Topik Penelitian Sejarah

Contoh lainnya, dari pembacaan data misalnya diketahui bahwa ada anggota sebuah laskar yang kemudian tidak menjadi tentara, di mana proses ini disebut demobilisasi. Dari data yang terkumpul, ternyata ada ketegangan antara profesionalisme dan amatirisme. Dari data yang berhasil kita kumpulkan tentang kriminalitas, ada jenis kriminalitas, yaitu organised crime, mungkin ini kelanjutan dari yang sebelumnya disebut grayak. Dari data yang terkumpul tentang pertumbuhan pasar, dapat kita temukan fakta bahwa ada perluasan kota.

Terkadang perbedaan antara analisis dan sintesis itu dapat kita lupakan, sekalipun dua hal itu penting untuk proses berpikir. Kita menyebutnya dengan interpretasi, suatu analisis sejarah, tidak pernah kita dengar “sintesis sejarah”. Sama halnya, kita selalu mengatakan analisis statistik untuk analisis dan sintesis.

Kadang-kadang antara data danfakta hanya ada perbedaan bertingkat. Jadi, tidak perbedaan kategoris. Seperti dalam pekerjaan detektif, kalau yang dicari adalah sebab kematian, data tentang pisau yang berdarah sudah sangat dekat dengan fakta. Kalau keingintahuan itu dilanjutkan dengan pertanyaan: siapa pembunuhnya? apa motifnya? Jika yang dicari semua sudah tersedia. itulah fakta yang dapat disidangkan. Demikian juga bagi sejarawan, kalau yang dicari adanya rapat dan bukan revolusi, maka data berupa notulen rapat sudah sangat dekat dengan fakta.

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca