Kebudayaan Pacitan

Kebudayaan Pacitan adalah kebudayaan pra-aksara tertua di Indonesia yang terletak di Pacitan, Jawa Timur. Penelusuran Kebudayaan Pacitan ini dapat ditelusuri dari dua buah situs yang hingga kini (2020) sedang dalam tahap lanjutan ekskavasi dan pemugaran. Kedua buah situs yang menjadi saksi adanya kebudayaan pra-aksara di Indonesia ini adalah Goa Song Terus dan Goa Tabuhan.

Goa Song Terus yang terletak di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Pacitan, Jawa Timur. Goa Song Terus kini telah menjadi sorotan para arkeolog baik dalam maupun luar negeri. Keberadaan Goa Song Terus saksi bisu kehidupan pertama di Jawa dan dunia yang berkaitan dengan manusia purba (hominidae). Selain kedua situs tersebut, masih terdapat beberapa situs yang dianggap sebagai bagian dari kebudayaan Pacitan. Di dalam artikel ini akan diberikan penjelasan tentang kebudayaan Pacitan sebagai kebudayaan tertua yang ada di Pulau Jawa. Kebudayaan Pacitan ini didukung oleh salah satu jenis hominidae tertua di dunia yakni dari jenis pithecantrophus erectus.

Situs Kebudayaan Pacitan

Pada bagian ini akan diberikan penjelasan singkat tentang situs-situs pendukung kebudayaan Pacitan:

Situs Kali Baksoko

Sungai Baksoka adalah sungai terbesar yang berada di Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Di musim kemarau sungai ini dapat surut hingga nampak dasar sungainya, sedangkan pada musim penghujan air dapat mencapai ketinggian 2-3 meter dari dasar sungai. Penemuan alat-alat batu banyak dihasilkan oleh adanya pengikisan air terhadap dinding sungai dan juga terhadap permukaan tanah. Pengikisan ini tidak hanya disebabkan oleh arus sungai dan juga oleh air hujan.

Baca Juga  Agresi Militer Belanda 2 (1948)

Materi tanah di daerah situs Kali Baksoko ini sebagian besar didominasi oleh tanah gamping putih kekuningan. Pada kedalaman sekitar rata-rata 1 meter dari permukaan tanah, secara umum berupa tanah gembur yang berwarna coklat kemerahan, yang merupakan hasil pelapukan batu gamping yang di beberapa bagian masih melekat di atas batuan induknya.

Goa Song Terus

Goa Song Terus memiliki kedalaman sepanjang 150 meter dengan lebar 10-20 meter dan tinggi sekitar 10 meter. Situs Goa Song Terus mulai menarik banyak perhatian sejak ditemukannya rangka manusia purba pada 1999. Diperkirakan, rangka manusia purba yang ditemukan itu berusia 10.000 tahun. Saat ditemukan, posisi manusia purba tersebut berada dalam posisi sedang berbaring dengan kedua tangan menggenggam alat dari batu dan tulang. Beberapa kepala monyet ekor panjang atau yang biasa disebut dengan makaka tersebar di sekelilingnya. Sedang kuburannya sendiri ditutupi dengan daun pakis, yang di atasnya diletakkan sepotong besar daging sapi bakar.

Goa Song Terus sendiri diperkirakan pertama kali di ekskavasi berbarengan dengan situs Goa Tabuhan pada tahun 1953. Goa Tabuhan berjarak tidak jauh dari Goa Song Terus, kira-kira ± 250 meter dan telah lama dijadikan sebagai tempat wisata. Penelitian yang secara intensif dilakukan di daerah Punung sejak 1972-1973 menghasilkan bahwa jenis alat kapak perimbas adalah alat yang paling banyak ditemukan di Pacitan. Kebudayaan Kapak Perimbas merupakan unsur pokok budaya Paleolitik di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Artefak Kebudayaan Pacitan

Artefak-artefak yang ditemukan di daerah Pacitan kemudian lebih dikenal dengan Kebudayaan Pacitan. Pada umumnya, kapak genggam ini adalah alat yang dipahat secara kasar memanjang, yaitu suatu teknik yang umum pada budaya kapak perimbas, tetapi ada juga beberapa buah yang diserpih dengan teliti dan dibentuk teratur (lonjong, bundar).

Baca Juga  Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC (1628-1629)

Kelompok-kelompok lain di lingkungan kapak perimbas Asia Tenggara dan Asia Timur yang menghasilkan beragam kapak genggam yang masih sederhana adalah Budaya Soan dan Budaya Tampan. Melihat karakteristik serta temuan-temuannya, goa-goa di Pacitan itu diyakini sebagai rumah, tempat tidur dan berbagai aktivitas lainnya termasuk memasak.

Berdasarkan keterangan ini, dapat dikatakan bahwa goa-goa tempat tinggal di Pacitan telah menjadi bukti nyata penggunaan api di dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan salah satu kehidupan tertua di Pulau Jawa dan bahkan Asia Tenggara yang telah cukup maju, di mana telah memanfaatkan api yang telah ditemukan sejak 450.000 tahun lalu.

Ekskavasi Situs Song Terus

Sejak Ekskavasi pada tahun 1994, di situs Goa Song Terus telah ditemukan lebih dari 70.000 artefak. Selama 10 tahun terakhir, penggalian dilakukan secara intensif oleh tim gabungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Museum National d’Histoire NaturAlle Paris, Perancis, dipimpin oleh Truman Simanjuntak dan Francois Semah. Ekskavasi ini melakukan penggalian di pintu masuk goa, dengan dua buah lubang uji yang digali hingga kedalaman 16 meter.

Situs ini memiliki lapisan arkeologi yang panjang dan di identifikasikan merupakan kebudayaan pendukung masa paleolitikum di Indonesia. Di dalam situs Kebudayaan Pacitan ini terdapat Lapisan Terus dengan bukti peninggalan peradaban sekitar 300.000-80.000 tahun lalu. Kemudian terdapat Lapisan Tabuhan (60.000-18.000 tahun lalu), dan Lapisan Keplek (12.000-6.500 tahun lalu). Di dalam situs Goa Song Terus disebutkan, bahwa terdapat tiga lapisan lapisan budaya, yaitu budaya paleolitik di dua lapisan pertama dan budaya pra-neolitik pada Lapisan Keplek. Sedangkan penemuan alat-alat serpih, kapak perimbas, dan penetak dari batu rijang atau batu gamping tersebar di dua lapisan terbawah.

Baca Juga  Sistem Perdagangan VOC Di Indonesia (1602-1799)
‘Mbah Sayem’ fosil yang ditemukan di situs Goa Song Terus, Pacitan

Berdasarkan “kekayaan” artefak yang terdapat di situs Goa Song Terus, dalam beberapa tahun belakangan ini pemerintah pusat membangun museum prasejarah di kawasan situs Song Terus yang posisinya bersebrangan dengan situs. Semoga saja museum tersebut dapat segera selesai dan dibuka bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih mendalam tentang masa pra-aksara tertua di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Demikianlah penjelasan singkat tentang keberadaan situs Song Terus, sebagai situs pra-aksara di Indonesia.

Daftar Bacaan

  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
error: Content is protected !!