Mulawarman

Mulawarman Raja Terbesar Kerajaan Kutai

Mulawarman – Raja Mulawarman merupakan salah satu dari tiga orang anak Raja Aswawarman yang menjadi penerusnya sebagai raja Kerajaan Kutai. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Raja Mulawarman adalah raja terbesar dari Kerajaan Kutai.  Di bawah pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa kejayaannya. Rakyatnya hidup tentram dan sejahtera di mana terlihat dari aktivitas Raja Mulawarman yang dijelaskan dalam salah satu yupa. Raja Mulawarman mengadakan upacara kurban emas dengan jumlah yang sangat banyak.

mulawarman

Masa Pemerintahan

Masa pemerintahan Mulawarman di Kerajaan Kutai sebagian besar dapat diketahui dari ketujuh prasasti yang ditinggalkan oleh Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaannya. Hal ini dapat diketahui dari berbagai bentuk upacara persembahan yang dilakukan oleh raja Mulawarman selama memerintah. Berikut ini adalah beberapa keterangan yang didapatkan dari sumber prasasti Yupa mengenai kondisi Kerajaan Kutai:

Teks: “…Yastpa bahusuvarnnakam, Tasya yajnasya yupo yam, Dvijendrais samprakalpitah.”

Terjemahan: Sang Mulawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (salamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.

Berdasarkan pada petikan prasasti ini menunjukkan bahwa raja Mulawarman melakukan sebuah upacara yang disebut dengan kenduri (selamatan/salamatan). Di dalam upacara ini disebutkan bahwa sang raja Mulawarman memberikan emas yang sangat banyak. Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa sesungguhnya emas menjadi salah satu komoditas penting bagi Kerajaan Kutai. 

Selain keterangan mengenai jumlahnya yang amat banyak (meskipun belum diketahui jumlahnya) dalam upacara kenduri, perlu diketahui pula emas-lah yang menarik kedatangan orang-orang India untuk singgah di Kerajaan Kutai.

Selain emas, raja Mulawarman pun juga memberikan dukungannya kepada perkembangan peternakan bagi masyarakat Kerajaan kutai. Hal ini dapat diketahui dari salah satu kutipan prasasti yang berisi;

Teks : “Srimato nrpamukhyasya, Rajnah sri muavarmmanah, Danam punyatame ksetre, Yad dattam vaprakesvare, Dvijatibhyo gnikalpebhyah, Vinsatir nggosahasrikam, Tasya punyasya yupo yam, Krto viprair ihagataih.”

Terjemahan : “Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahman yang seperti api, (bertempat) di tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara. Untuk (peringatan) akan kebaikan budi yang raja itu, tugu ini telah dibuat oleh para brahmana yang datang di tempat ini”.

Jumlah sebesar 20.000 ekor sapi nampaknya menjadi petunjuk bahwa peternakan pada masa Mulawarman sangatlah maju dan mendapatkan prioritas utama. Meskipun ada kemungkinan bahwa sapi yang digunakan dalam upacara waprakeswara di impor dari wilayah lain. Namun, hal itu nampaknya agak meragukan apabila mengetahui jumlahnya yang demikian besar. Sehingga tentulah sapi yang disedekahkan berasal dari Kerajaan Kutai sendiri.

Setelah pemerintahan Raja Mulawarman tidak banyak hal yang dapat diketahui tentang Kerajaan Kutai. Kerajaan Kutai tidaklah runtuh, sebab eksistensinya masih tetap ada hingga berdirinya Kerajaan Kutai Kertanegara pada abad ke-13. Apabila merujuk pada naskah-naskah kuno, maka raja-raja Kutai setelah Mulawarman adalah;

  1. Marawijaya Warman 
  2. Gajayana Warman 
  3. Tungga Warman 
  4. Jayanaga Warman 
  5. Nalasinga Warman 
  6. Nala Parana Tungga 
  7. Gadingga Warman Dewa 
  8. Indra Warman Dewa 
  9. Sangga Warman Dewa 
  10. Singa Wargala Warman Dewa 
  11. Candrawarman 
  12. Prabu Mula Tungga Dewa 
  13. Nala Indra Dewa 
  14. Indra Mulya Warman Dewa 
  15. Sri Langka Dewa 
  16. Guna Parana Dewa 
  17. Wijaya Warman 
  18. Indra Mulya 
  19. Sri Aji Dewa 
  20. Mulia Putera 
  21. Nala Pandita 
  22. Indra Paruta Dewa 
  23. Dharma Setia
error: Content is protected !!