Pithecanthropus erectus adalah spesies yang tidak dapat luput dibicarakan ketika mempelajari tentang manusia purba di Indonesia. Spesies Pithecanthropus erectus adalah spesies yang paling banyak ditemukan di Indonesia terutama sekali ditemukan di Pulau Jawa. adalah Pithecanthropus erectus artinya manusia kera yang dapat berjalan tegak. Selain dikenal dengan spesies Pithecanthropus erectus, spesies ini juga awalnya disebut dengan Anthropopithecus erectus. Namun, berdasarkan klasifikasi sekarang dikategorikan sebagai Homo erectus.

Sejarah Penemuan Fosil Pithecanthropus Erectus

Penelitian manusia Purba yang ada di Asia Tenggara terinspirasi dari pendapat Charles Darwin yang menyatakan bawah umat manusia berevolusi dari Afrika karena di Afrika inilah kera besar seperti gorila dan simpanse hidup. Meskipun pernyataannya kini telah dapat dibuktikan dengan catatan dan temuan fosil, sedangkan klaim yang dilakukan pada saat itu diajukan tanpa ada bukti apa pun.

Chares Lyell dan Alfred Wallace yang memiliki pemahaman tentang evolusi tidak setuju dengan pendapat Charles Darwin. Menurut keduanya yang memiliki pemikiran tentang teori evolusi serupa meyakini bahwa manusia berkerabat lebih dekat dengan owa atau kera besar lainnya terutama Orangutan dan mengidentifikasi bahwa wilayah Asia Tenggara adalah tempat lahir manusia karena disinilah mereka hidup. Sedangkan Eugene Dubois lebih condong pada pendapat Lyell dan Wallace dan berusaha untuk membuktikan pendapat keduanya.

Eugene Dubois Memulai Penelitiannya

Eugene Dubois mulai meninggalkan karir akademiknya dan memulai perjalanan ke Hindia-Belanda (Indonesia) pada tahun 1887 untuk tujuan mencari fosil nenek moyang manusia modern. Sebelum keberangkatannya ke Hindia-Belanda sebenarnya telah terdapat beberapa upaya untuk menemukan fosil nenek moyang manusia modern, namun tidak pernah berhasil menemukan fosil yang dimaksud. Sehingga, usaha Eugene Dubois pun tidak mendapatkan pendanaan dari pemerintah Belanda. Eugene Dubois kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Tentara Hindia-Belanda sebagai ahli bedah militer. Disebabkan oleh kesibukan pekerjaannya di militer, Eugene Dubois baru memulai ekskavasi pada bulan Juli 1888 dengan melakukan penggalian di sebuah gua di Sumatra.

Penggalian yang dilakukan oleh Eugene Dubois di Sumatra ternyata berhasil menemukan banyak fosil yang termasuk ke dalam kategori mamalia besar. Oleh karena hasil yang dicapainya itu, Eugene Dubois dibebaskan dari tugas militernya pada bulan Maret 1889. Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda kemudian menugaskan dua orang insinyur dan lima puluh orang narapidana untuk membantu pekerjaan Eugene Dubois. Namun, di dalam ekskavasi yang dilakukan di Sumatra Eugene Dubois tidak menemukan hasil berupa fosil nenek moyang manusia modern. Setelah kegagalan di Sumatra, Eugene Dubois akhirnya memindahkan penelusurannya ke Jawa pada tahun 1890.

Di Pulau Jawa, Eugene Dubois mulai melakukan penggalian pertamanya pada tahun 1890 di Desa Kedungbrubus, Madiun. Di Kedungbrubus Eugene Dubois menemukan sebuah fragmen rahang atas yang pendek dan sangat kekar, dengan sebagian gigi geraham yang masih tersisa. Beberapa gigi geraham itu menujukkan ciri gigi manusia, bukan gigi kera. Berdasarkan temuan inilah Eugene Dubois melanjutkan penelitiannya.

Penemuan Fosil di Trinil

Penelitian yang dilakukan oleh Eugene Dubois selanjutnya dibantu oleh para buruh yang berasal dari para narapidana dan dengan bantuan dua orang tentara berpangkat kopral dimulai pada bulan Agustus 1891 dengan menelusuri sepanjang Sungai Bengawan Solo, di daerah Trinil. Di wilayah Trinil inilah tim yang dipimpin oleh Eugene Dubois segera melakukan penggalian dan berhasil menemukan gigi geraham (Trinil 1) dan tengkorak (Trinil 2).

Baca Juga  Mulawarman: Raja Terbesar Kerajaan Kutai

Ciri-ciri dari temuan yang didapatkan di Trinil adalah berupa struktur tengkorak yang panjang dengan lunas sagital dan dengan alis yang tebal. Tulang keningnya sangat menonjol dan di bagain belakang mata terdapat penyempitan dengan sangat jelas. Berdasarkan temuannya ini, Eugene Dubois memberi nama Anthropopithecus (manusia-kera). Dubois memilih menggunakan nama ini karena gigi serupa yang telah ditemukan di Perbukitan Siwalik, di India pada tahun 1878 diberi nama Anthropopithecus, dan karena temuan ini Eugene Dubois memperkirakan bahwa tengkorak itu memiliki ukuran sekitar 700 cm3, yang lebih mirip dengan kera dibandingkan dengan manusia.

Pada bulan Agustus 1892, tim yang dipimpin oleh Eugene Dubois berhasil menemukan femur (tulang paha) dengan panjang yang menyerupai manusia, dan menunjukkan bahwa pemiliknya dapat berdiri tegak. Tulang femur itu ditemukan tidak jauh dari temuan sebelumnya hanya kira-kira sekitar 15 meter. Eugene Dubois percaya bahwa ketiga fosil itu milik satu individu (kemungkinan spesies betina yang sudah tua). Berdasarkan pada temuan yang ketiga ini, Eugene Dubois mengganti nama spesiesnya itu dengan nama Anthropopithecus erectus.

Pada akhir tahun 1892, ketika ia menetapkan bahwa temuan fosil Trinil 2 ternyata berukuran sekitar 900 cm3, Eugene Dubois beranggapan bahwa temuannya merupakan bentuk transisi antara kera dan manusia. Meskipun begitu tidak diketahui secara jelas apakah ketiga jenis fosil ini berasal dari spesies yang sama. Setelah memberi nama bagi temuannya itu, secara resmi Eugene Dubois mempublikasikan temuannya pada tahun 1893. Pada tahun 1894 Eugene Dubois akhirnya memberi nama baru bagi spesiesnya dengan nama Pithecanthropus erectus dengan meminjam nama genus Pithecanthropus dari Erns Haeckel, yang telah menggunakan nama itu beberapa tahun sebelumnya untuk merujuk pada “mata rantai yang hilang” antara kera dan manusia. Dengan temuan fosil ketiga ini, maka spesies ini disebut juga dengan nama Pithecanthropus 1.

Membandingkan Pithecanthropus dengan Peking Man

Penamaan Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois ini berdasarkan atap tengkorak fosil yang ditemukan di Trinil, Lembah Sungai Bengawan Solo oleh Eugene Dubois pada tahun 1890-1894. Fosil Pithecanthropus erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois ini disebut juga dengan Manusia Jawa (Java Man). Fosil Pithecanthropus erectus yang ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil diperkirakan berusia sekitar 700.000-1.000.000 tahun. Namun, begitu perkiraan umum bagi spesies ini kemungkinan hidup sejak 2,2 juta tahun yang lalu dan sebagai salah satu manusia pendukung zaman Paleolitikum di Indonesia.

Setelah Eugene Dubois dengan yakin mempublikasikan penemuannya terhadap tiga fosil di Trinil, pada tahun 1927 Davidson Black berhasil mengidentifikasi dua fosil gigi yang ditemukan di Zhoukoudian dekat Beijing sebagai miliki dari manusia purba yang diberi nama Sinanthropus pekinensis atau yang lebih dikenal dengan nama Manusia Peking. Pada bulan Desember 1929 fosil tengkorak yang ditemukan ditempat yang sama oleh Franz Weidenreich memilki kemiripan namun lebih besar dari Manusia Jawa sehingga keduanya termasuk ke dalam keluarga hominid.

Eugene Dubois dengan tegas menolak untuk menerima kemungkinan bahwa Sinanthropus pekinensis dan Manusia Jawa masuk dalam kategori hominid. Eugene Dubois menyatakan bahwa Manusia Peking lebih dekat dengan manusia daripada Pithecanthropus, dan bersikeras bahwa Pithecanthropus termasuk ke dalam famili sendiri yaitu Pithecanthropoidea.

Ralph von Koenigswald Dan Penemuan Sub-Spesies Pithecanthropus

Setelah penemuan fosil dari Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois di akhir abad ke-19, penelitian-penelitian selanjutnya pun memiliki sumbangan penting dalam mendeskripsikan ciri-ciri dari Pithecanthropus erectus. Pada penelitian di abad ke-20 tepatnya antara tahun 1931-1939 Ralph von Koenigswald berhasil menemukan fosil dari situs-situs yang terletak di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo dengan temuan beberapa tengkorak dan fragmen tengkorak. Penemuannya ini memiliki ciri-ciri serupa dengan fosil yang ditemukan sebelumnya oleh Eugene Dubois. Penemuan Ralph von Koenigswald selanjutnya dikenal dengan nama Pithecanthropus soloensis atau kini disebut dengan nama Homo soloensis (manusia Solo).

Baca Juga  Candi Muara Takus: Jejak Kemegahan Kerajaan Sriwijaya di Riau

Merasa yakin dengan penemuannya di Sungai Bengawan Solo, Ralph von Koenigswald melanjutkan penelusurannya dengan melakukan ekskavasi di daerah Mojokerto pada tahun 1936. Di sini Ralph von Koenigswald menemukan sebuah kopiah dari tengkorak remaja yang kemudian dikenal dengan nama Modjokerto Child. Seperti temuan di Sungai Bengawan Solo, Ralph von Koenigswald ingin menamakannya dengan Pithecanthropus modjokertensis, namun Eugene Dubois menolaknya. Menurut Dubois, bahwa tidak ada kesamaan antara penemuan von Koenigswald dengan apa yang telah dirinya temukan pada akhir abad ke-19.

Ralph von Koenigswald selanjutnya melakukan ekskavasi di Sangiran pada tahun 1936 dan 1941. Di Sangiran ini lebih banyak fosil manusia purba yang ia temukan dan memiliki banyak kemiripan dengan penemuan yang dilakukan oleh Eugene Dubois di Situs Trinil. Dengan penemuan fosil di Sangiran, Ralph von Koenigswald kembali menyatakan bahwa fosil itu adalah milik manusia purba dan memiliki kemiripan dengan fosil yang ditemukan oleh Eugene Dubois, namun Dubois tetap menolak untuk mengakui adanya persamaan tersebut.

Setelah melakukan penelitian di Jawa, Ralph von Koenigswald kemudan melakukan penelitiannya di Tiongkok dan bersama Franz Weidenreich membandingkan fosil dari Jawa dan Zhoukoudian dengan kesimpulan bahwa Manusia Jawa dan Manusia Peking memiliki kekerabatan yang dekat. Kesimpulan ini pun ditolak oleh Eugene Dubois bahkan sampai meninggalnya tahun 1940, Dubois tetap menolak pendapat keduanya. Meskipun ditolak oleh Dubois, baik jenis fosil yang ditemukan di Trinil, Sangiran, Mojokerto maupun Zhoukoudian di Tiongkok hingga saat ini berkesimpulan memilkiki kekerabatan yang sangat erat. Sehingga dapatlah dikatakan temuan Ralph von Koenigswald di Sangiran dan di Mojokerto yang dikenal dengan Pithecanthropus soloensis dan Pithecanthropus modjokertensis adalah jenis yang sama dengan temuan Dubois di Trinil dan termasuk ke dalam spesies Pithecanthropus erectus.

Ciri-Ciri Fisik Pithecanthropus Erectus

Berdasarkan pada hasil penemuan fosil Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois dapat diperoleh keterangan bahwa berdasarkan fosil Atap tengkorak ditaksir memiliki volume otak sekitar 750-900 cc. Sedangkan untuk ukuran tubuhnya ditaksir memiliki tinggi sekitar 160-180 cm dan memiliki bobot sekitar 80-100 kg. Badannya tegap dengan tonjolan kening yang sangat jelas dan meluas hingga ke dahi sedangkan bagian belakang kepala menonjol. Berdasarkan fosil rahangnya alat pengunyahnya cukup kuat serta dengan hidung tebal.

Terdapat beberapa perbedaan antara fosil yang ditemukan di Trinil yang diidentifikasi sebagai Pithecanthropus erectus dengan fosil yang sisa-sisanya ditemukan dalam formasi Kabuh di Sangiran, Sambungmacan, Sragen, Ngandong, Blora dan Solo. Dalam ekskavasi tahun 1931 ditemukan dua buah atap tengkorak sebuah tulang dahu dan fragmen tulang pendinding. Dalam tahun 1933 jumlahnya bertambah pula dengan beberapa tengkorak atau fragmennya lagi serta dua buah tulang kering.

Pithecanthropus erectus diperkirakan hidup sekitar 2.200.000 – 500.000 tahun yang lalu menurut pertanggalan Kalium-Argon batu apung yang berasal dari lapisan ditemukannya tengkorak di Sangiran. Dapatlah dikatakan bahwa Pithecanthropus erectus di Jawa atau yang biasa juga disebut dengan Manusia Jawa (Java man) ini dianggap lebih tua jika dibandingkan dengan manusia peking (Peking man)

Hasil Kebudayaan Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus erectus hidup dengan cara berpindah-pindah (nomaden). Oleh karena itu, tentu di dalam kehidupannya akan akrab dengan kegiatan berburu dan meramu (food gathering & food hunting). Ketergantungan terhadap alam yang sangat besar, Pithecanthropus erectus menggunakan alat-alat yang dianggap dapat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama untuk kebutuhan pangan. Alat-alat yang digunakan adalah alat yang sangat sederhana dan nampaknya hampir tidak melalui suatu proses pengolahan. Beberapa alat yang diduga sebagai hasil kebudayaan Pithecanthropus erectus antara lain;

  1. Benda tajam (Berasal dari tulang hewan);
  2. Kapak perimbas;
  3. Kapak penetak;
  4. Kapak gengam;
  5. Pahat gengam;
  6. Alat serpih; dan
  7. Batu Penggiling.
Baca Juga  Perjanjian Linggarjati (1946)

Kehidupan Pithecanthropus Erectus

Manusia Pithecanthropus erectus hidup secara berkelompok dalam satu keluarga dan hidup berdasarkan prinsip komunal primitif. Namun, beberapa kelompok diantara spesies ini juga telah melakukan sistem pembagian kerja secara sederhana. Berdasarkan temuan dari fosil tulang rahang dan gigi, spesies ini mengolah makanannya secara sederhana.

Manusia Pithecanthropus erectus yang hidup secara nomaden sebagian besar melakukan aktivitas mereka berada di daerah-daerah dengan sumber daya pangan dan air yang berlimpah semisal di daerah aliran sungai maupun tepian pantai. Hal ini menunjukkan bahwa Pithecanthropus erectus sangatlah bergantung dengan alam.

Publikasi dan Perdebatan Pithecanthropus Erectus

Sejak resmi dipublikasikan oleh Eugene Dubois pada tahun 1893-1894, penemuan fosil Pithecanthropus erectus langsung mendapatkan sambutan dan menjadi kontroversi. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah publikasi ilmiah yang membahas tentang fosil ini hingga akhir tahun 1890-an telah mencapai hampir 80 publikasi. Fenomena ini tentu saja ditanggapi oleh Ralph von Koenigswald yang menyatakan bahwa “Tidak ada penemuan paleontologis lain yang telah menciptakan sensasi seperti itu dan telah menimbulkan begitu banyak pendapat ilmiah yang saling bertentangan”.

Pernyataan Eugene Dubois bahwa Pithecanthropus erectus adalah bentuk transisi antara kera dan manusia dan disebut sebagai “mata rantai yang hilang” tentu mendapatkan banyak respon yang tidak menyetujuinya. Beberapa kritikus menyatakan bahwa tulang-tulang yang ditemukan oleh Eugene Dubois adalah kera yang berjalan tegak atau milik manusia primitif. Pendapat ini beralasan ketika pandangan evolusi manusia belum diterima secara luas dan para ilmuwan cenderung memandang fosil hominid sebagai varian ras manusia modern dibandingkan meyakininya sebagai bentuk leluhur manusia modern.

Setelah sejumlah ilmuwan memeriksa fosil dalam berbagai konferensi di Eropa pada tahun 1890-an, mereka mulai meyakini bahwa Manusia Jawa mungkin merupakan bentuk peralihan, tetapi kebanyakan menganggapnya sebagai “cabang yang telah punah” dari pohon manusia yang memang diturunkan dari kera, tetapi Manusia Jawa tidak berevolusi menjadi manusia. Bentuk penafsiran ini bertahan dan tetap dominan hingga memasuki tahun 1940-an.

Penemuan fosil Australopithecus africanus yang berusia 2,8 juta tahun yang lalu di Afrika Selatan tahun 1924 memberikan isyarat bahwa penemuan Eugene Dubois dan Ralph von Koenigswald adalah spesies perantara antara manusia modern dengan nenek moyang kera besar lainnya. Pada tahun 1950 Ernst Mayr mengklasifikasikan bahwa Pithecanthropus erectus dan Sinanthropus pekinensis adalah bagian dari spesies yang sama yaitu Homo erectus. Pendapat Ernst Mayr didasari pada semua nenek moyang manusia adalah bagian dari satu genus (Homo). Pendapat ini dengan cepat diterima dalam kalangan paleoantropolog. Sejak tahun 1970-an hingga kini konsensus dari para antropolog bahwa nenek moyang langsung dari manusia modern adalah populasi Homo erectus dan cenderung menyebut temuan di Jawa maupun Zhoukoudian sebagai sub spesies, Homo erectus erectus (Jawa) dan Homo erectus pekinensis (Zhoukoudian).

Daftar Bacaan

  • Dennell, Robin. 2009. The Palaeolithic Settlement of Asia. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Gould, Stephen Jay. 1993. Eight Little Piggies: Reflections in Natural History. New York and London: W. W. Norton & Company
  • James, Steven R. February 1989. “Hominid Use of Fire in the Lower and Middle Pleistocene: A Review of the Evidence”. Current Anthropology. 30 (1): 1–26.
  • Mai, Larry L., Marcus Young Owl, M. Patricia Kersting. 2005. The Cambridge Dictionary of Human Biology and Evolution. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Swisher, Carl C. ; Curtis, Garniss H.; Lewin, Roger. 2000. Java Man: How Two Geologists Changed Our Understanding of Human Evolution. Chicago: University of Chicago Press,
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca