Pithecanthropus Mojokertensis

Manusia Purba Jenis Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensis – Pithecanthropus Mojokertensis (Pithecanthropus Modjokertensis) atau robustus, adalah salah satu jenis Pithecanthropus tertua yang hidup di Kepulauan Indonesia.Temuan pertamanya berasal dari formasi Pucangan, Kepuhklagen, di sebelah utara Perning, Mojokerto. Di bawah ini akan dijelaskan tentang Pithecanthropus Mojokertensis.

Penemuan

Jenis Pithecanthropus tertua adalah jenis Pithecanthropus Mojokertensis (Pithecanthropus Modjokertensis) atau robustus, yang temuan pertamanya berasal dari formasi Pucangan, Kepuhklagen, di sebelah utara Perning, Mojokerto. Penemuan itu terjadi pada Februari 1936 oleh Tjokrohandojo yang menjadi bagian dari tim penggalian pimpinan Ralph von Koenigswald. Temuan tersebut berupa tengkorak kanak-kanak berusia sekitar 6 tahun.

Anak Mojokerto (Modjokerto child) sebagaimana penemuan ini disebutkan, memiliki isi tengkorak dengan ukuran sekitar 650 cc, yang apabila sesudah dewasa ditaksir dapat mencapai ukuran 1000 cc. Tonjolan kening yang nyata sedikit pada tengkorak ini, dan tulang-tulang atap tengkoraknya tidak begitu tebal.

Temuan-temuan lain yang dianggap tergolong ke dalam Pithecanthropus Mojokertensis berasal dari Sangiran, berupa atap tengkorak, beberapa bagian dasar tengkorak, rahang atas dan bawah, serta gigi-gigi lepas sehingga dapat diperoleh gambaran tentang kepalanya. Selain penemuan di Pucangan dan Sangiran, Fosil-fosil Pithecanthropus Mojokertensis juga banyak ditemukan di daerah Kedungbrubus, Trinil, Sambungmacan, dan Ngandong. Pithecanthropus Mojokertensis diperkirakan hidup di sekitar lembah atau kaki gunung dekat perairan darat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Berdasarkan pertanggalan Kalium-Argon pada batu apung di Kepuhklagen, yang terdapat cukup luas pada lapisan sedikit di bawah tempat terdapatnya tengkorak kanak-kanak tadi, kepurbaannya ditaksir sekitar 1,9 juta tahun yang lalu. Dari pertanggalan lain di tempat yang sama, pada lapisan formasi Pucangan dan di Sangiran, dapatlah diambil kesimpulan bahwa Pithecanthropus Mojokertensis hidup 2,5 – 1,5 juta tahun yang lalu. Jadi, kira-kira kemungkinan bersamaan dengan Megantrophus.

Berdasarkan hasil penemuan di atas, hingga sekarang masih sulit ditentukan hubungan evolusioner antara Megantrophus dan Pithecanthropus Mojokertensis atau robustus.

Ciri-Ciri Pithecanthropus Mojokertensis

Ciri-ciri Pithecanthropus nyata terlihat dari hasil penemuan ini. Bagian terlebar tengkoraknya terletak rendah dekat dasar tengkorak dan tulang-tulang atap tengkoraknya tebal. Tengkoraknya rendah dan isinya kira-kira 900 cc. Tulang kepala belakang rendah dan bersegi antara kedua bagiannya, tempat terdapatnya tonjolan belakang kepala dengan tepi bawah yang tajam. Hal ini berikut tempat perlekatan otot tengkuk yang luas menggambarkan betapa masifnya otot-otot tersebut untuk mengimbangi tengkorak mukanya yang berat.

Bahwa hal ini benar demikian dibuktikan juga dengan rahang atasnya yang menonjol ke depan dengan giginya yang berukuran besar. Di tengah-tengah atap tengkoraknya membujur peninggian, seakan-akan lunas pada perahu yang terlungkup. Peninggian yang tidak tajam ini bukan untuk perlekatan otot-otot kunya seperti pada kera atau Austrolopithecus robustus.

Pada rahang gigi seri tengahnya lebih besar daripada yang samping dan taringnya melewati gigi seri samping dan taringnya menonjol melewati permukaan kunyah. Antara gigi seri samping terdapat ruang (diastema), suatu hal yang jarang ditemukan pada manusia modern.

Untuk memperkuat rahang terhadap tonjolan atau penebalan tulang di sebelah luarnya. Dari ketiga gerahamnya, yang kedua adalah yang terbesar. Langit-langitnya sangat lebar. Ciri yang perlu dicatat pada rahang atas Pithecanthropus adalah terdapatnya tiga buah akar pada geraham muka pertamanya.

Pada rahang bawah, yang terbesar juga geraham kedua. Di mana pada rahang bawah terdapatnya dua akar pada geraham muka, suatu ciri yang primitif. Berbeda dengan geraham-geraham yang besar-besar, gigi depannya kecil, seperti dicerminkan oleh ceruk giginya. Aus gigi ada yang mencapat derajat 2 dan 3 sehingga tulang gigi kelihatan, yang menandakan bahwa makanannya kasar, badan rahang cukup masif, tetapi dasarnya tidak begitu tebal. Selain itu, dagu juga tidak ditemukan pada rahang bawah Pithecanthropus.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Pithecanthropus Mojokertensis berjalan tegak. Mukanya dipastikan telah memiliki tonjolan kening yang tebal dan tulang pipi yang kuat. Mukanya menonjol ke depan sehingga diperlukan otot-otot tengkuk yang kukuh untuk mengimbanginya.

Hasil Kebudayaan

Berdasarkan penggalian pada lapisan bumi tempat ditemukannya Pithecanthropus Mojokertensis, Kebanyakan alat-alat yang dibuat pada masa ini menggunakan peralatan seadanya, memanfaatkan apa yang ada dari alam. Alat-alat ini, utamanya digunakan untuk pencarian dan pengolahan bahan makanan berupa daging dan umbi-umbian. Kebanyakan alat yang dibuat dari batu tersebut bahan pembuatannya diambil dari batuan tufa, kersikan, fosil kayu, kuarsa, endapan, dan lainnya. Berikut ini adalah beberapa peninggalan yang diduga sebagai hasil kebudayaan dari Pithecanthropus Mojokertensis:

  1. Kapak perimbas
  2. Alat serpih
  3. Kapak penetak
  4. Alat tulang

Kehidupan Pithecanthropus Mojokertensis

Manusia jenis Pithecanthropus Mojokertensis ini hidup dengan cara berpindah-pindah tempat (nomaden). Kehidupan yang nomaden ini dilakukan dengan mengikuti keberadaan sumber makanannya baik tumbuhan maupun hewan. Jadi prinsipnya apabila mereka hidup pada suatu tempat, di mana mereka merasa bahwa sumber makanannya sudah semakin menipis maka mereka akan berpindah tempat untuk mencari daerah yang masih banyak terdapat sumber pangan. Selayaknya manusia jenis Pithecanthropus pada umumnya, Pithecanthropus Mojokertensis sangat menggantungkan kehidupannya pada alam.

Daerah-daerah yang menarik perhatian bagi untuk didiami ini adalah daerah yang memiliki sumber makanan yang berlimpah dan dekat pula dengan sumber air. Daerah yang berdekatan dengan sumber air juga sering dilewati oleh hewan yang juga dijadikan sebagai target buruan.

Pithecanthropus Mojokertensis hidup dengan cara berkelompok dan membekali diri untuk menghadapi lingkungannya. Biasanya kelompok ini membatasi jumlah individu di dalam kelompoknya untuk keberhasilan suatu perburuan. Selain itu juga mereka membatasi jumlah mereka agar tidak kekurangan bahan pangan. Cara yang digunakan untuk pembatasan ini misalnya dengan memusnahkan anak-anak yang baru lahir, terutama jika itu perempuan yang dianggap menghalangi dan menjadi penghambat dalam perpindahan saat melakukan perburuan

Kelompok berburu Pithecanthropus Mojokertensis ini, biasanya terdiri dari keluarga kecil, beberapa diantaranya pun juga menunjukkan telah adanya pembagian kerja diantara mereka. Pembagian kerja ini adalah berdasarkan jenis kelamin di mana nampak terlihat bagi laki-laki melakukan tugas perburuan dan perempuan mengumpulkan makanan (tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil). Para perempuan ini juga memegang peran penting dalam menyeleksi jenis tumbuhan yang dapat dimakan.

error: Content is protected !!