prasasti jambu

Prasasti Jambu: Menarik Prasasti Ini Menunjukkan “Keangkuhan” Raja Purnawarman!

Prasasti Jambu (Prasasti Pasir Koleangkak)

Prasasti Jambu atau yang biasa dikenal juga dengan prasasti Pasir Koleangkak adalah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang terletak di daerah Kabupaten Bogor. Prasasti ini diterbitkan pada masa pemerintahan Purnawarman dengan bertuliskan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan penanggalan prasasti ini diterbitkan.

Lokasi Penemuan Prasasti Jambu

Prasasti Jambu terletak di Pasir Sikoleangkak, Gunung Batutulis, tepatnya di wilayah kampung Pasir Gintung, Desa Parakanmuncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Perlu diketahui, pada masa pemerintahan kolonial Belanda lokasi ini termasuk ke dalam Perkebunan Karet Sadeng-Djamboe, Buitenzorg (Bogor, sekarang). Prasasti ini dipahatkan pada batu dengan bentuk yang masih alami di mana masing-masing sisinya berukuran kurang lebih 2-3 meter.

Sejarah Penemuan Prasasti Jambu

Prasasti Jambu ditemukan pertama kali tahun 1854 oleh Jonathan Rigg dan baru dilaporkan kepada Dinas Purbakala pada tahun 1947. Namun, prasasti ini baru diteliti pertama kali pada tahun 1954 oleh Dinas Purbakala.

Isi Prasasti Jambu

prasasti jambu
Prasasti Jambu (Prasasti Pasir Koleangkak)

Prasasti Jambu atau pasir koleangkak ini terdiri dari dua baris aksara Pallawa yang disusun dalam bentuk seloka bahasa Sanskerta dengan metrum Sragdhara. Pada batu prasasti ini juga terdapat pahatan gambar sepasang telapak kaki yang digoreskan pada bagian atas tulisan. Namun, sebagian gambar telapak kaki kiri telah hilang karena batu bagian ini telah pecah. Berikut adalah bunyi dari prasasti ini:

Teks: shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Isi teks yang terdapat dalam prasasti Jambu secara ekspresif merupakan suatu upaya untuk menyombongkan diri. Hal ini dapat dilihat dari penuturan kalimat “shriman data kertajnyo narapatir” menunjukkan bahwa Raja Purnawarman adalah raja yang sangat pemberani, tidak terkalahkan dan jujur dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang raja. Kehebatannya ditunjukkan dalam teks “asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam”. Kalimat ini memberikan keterangan di mana tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus baju zirah Purnawarman. Meskipun, nampaknya ini hanyalah kata yang tidak menunjukkan artian sebenarnya (baju zirah yang tidak dapat ditembus). Kata-kata ini nampaknya lebih mengungkapkan bahwa tidak ada satupun lawan yang pernah ditemui oleh Purnawarman mampu mengalahkannya.

Di dalam prasasti Jambu ini juga diungkapkan betapa Raja Purnawarman adalah raja Tarumanegara yang berhasil membawa Kerajaan Tarumanegara mencapai puncak kejayaannya. Di mana kalimat selanjutnya di dalam prasasti menjelaskan “padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam”. Kalimat ini juga sekali lagi menunjukkan kesombongan Raja Purnawarman. Nampaknya, si penulis tugu batu ini ingin menunjukkan betapa hebatnya Raja Purnawarman dengan menyebutkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki sang raja. Di sisi lain, juga menunjukkan bahwa Purnawarman adalah raja yang selalu berhasil mendapatkan kemenangan dalam setiap pertempuran. Ia pun sangat menghargai siapapun yang setia kepadanya, memberikan hadiah kepada mereka yang berjasa. Namun, sang raja sangat berbahaya bagi musuh-musuhnya.

Jika meninjau dari isi prasasti Jambu, nampaknya prasasti ini diterbitkan bukan hanya sekedar berhasil menguasai suatu wilayah di barat Pulau Jawa. Prasasti penaklukan yang dilakukan oleh Purnawarman yang sudah jelas penanggalannya adalah prasasti Ciaruteun (± 450 M). Jika dilihat dari karakter prasastinya, kemungkinan Prasasti Jambu diterbitkan memiliki waktu penanggalan yang tidak jauh berbeda dengan penanggalan prasasti Ciaruteun yakni sekitar ± 450 M.

Daftar Bacaan

  • Hoepermans, H.N. 1913. “Hindoe-Oudheden van Java (1864)” ROD 1913: 75.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Vogel, J.Ph. 1925. “the Earliest Sanskrit Inscription of Java” POD I 1925:24-26.
error: Content is protected !!