Prasasti Kebon Kopi I ± 400 M

Prasasti Kebon Kopi I (Kebon Kopi I Inscription) atau Prasasti Tapak Gajah adalah prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 400 . Disebut prasasti Kebon Kopi I agar membedakannya dengan prasasti Kebon Kopi II yang berangka tahun 854 atau yang biasa disebut juga prasasti Muara.

Lokasi Penemuan Prasasti Kebon Kopi I

Lokasi penemuan prasasti Kebon Kopi I di daerah Kampung Muara (sekarang Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Kabupaten Bogor). Hingga saat ini, prasasti masih berada di tempat pertama kali ia ditemukan atau disebut juga dengan in situ. Prasasti Kebon Kopi I ditemukan di antara pertemuan tiga buah sungai, yaitu Sungai Cisadane yang terletak di timur, Sungai Cianten yang terletak di barat, Sungai Ciaruteun di selatan serta muara Sungai Cianten yang bertemu dengan Sungai Cisadane di utaranya.

Lokasi penemuan prasasti Kebon Kopi I ini terletak sekitar 19 kilometar di sebelah barat laut kota Bogor menuju arah Ciampea. Prasasti ini dipahatkan di atas sebuah batu datar dengan bahan batu andesit berukuran tinggi 69 cm, dan lebarnya di masing-masing sisi sekitar 104 cm dan 164 cm. Pada permukaan batu dipahatkan sepasang telapak kaki gajah dan juga terdapat tulisan berhuruf Pallawa dengan berbahasa Sanskerta.

Prasasti Kebon Kopi I termasuk ke dalam salah satu dari tiga prasasti yang ditemukan di situs Ciaruteun. Penemuan prasasti ini dapat memperkaya pemahaman akan pemerintahan dan karakteristik dari Purnawarman sebagai raja dari Kerajaan Tarumanegara. Selain prasasti ini dan tentunya prasasti Ciaruteun, terdapat juga prasasti Muara Cianten yang ditemukan di dalam satu situs. Saat ini, prasasti Kebon Kopi I telah diberikan pendopo agar melindunginya dari air hujan dan iklim.

Baca Juga  Partindo (Partai Indonesia)

Sejarah Penemuan Prasasti Kebon Kopi I

Prasasti Kebon Kopi I ditemukan oleh para penebang hutan pada tahun 1863 ketika mereka akan membuka lahan untuk membudidayakan tanaman kopi milik Jonathan Rigg. Jonathan Rigg adalah seorang tuan tanah pemilik perkebunan kopi di dekat Buitenzorg (Bogor sekarang). Penemuan prasasti ini segera dilaporkan kepada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen di Batavia. Karena ditemukan di lahan perkebunan kopi, maka prasasti ini disebut dengan Prasasti Kebon Kopi.

Isi Prasasti Kebon Kopi I

prasasti kebon kopi I

Prasasti Kebon Kopi I bertuliskan aksara Palawa dan bahasa Sansekerta dalam bentuk seloka dan diapit sepasang pahatan telapak kaki gajah:

Teks: jayavisalasya Tarumendrasya hastinah, Airwavatabhasya vibhatidam padadvayam

Terjemahan: Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan.

Sebagaimana telah disinggung di atas, Prasasti Kebon Kopi I menampilkan ukiran telapak kaki gajah, yang mungkin merupakan tunggangan raja Purnawarman dari Tarumanegara, yang disamakan dengan gajah Airawata, tunggangan milik Dewa Indra.

Berdasarkan pada mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Dewa Indra (dewa perang dan penguasa Guntur). Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Dewa Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas dipahatkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai huruf ikal yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang.

Baca Juga  Kerajaan Loloda (Abad 13-17)

Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang laba-laba, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang bhramara (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala “kemudaan” nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

Daftar Bacaan

  • Krom, N.J. 1931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhof.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Zahorka, Herwig. 2007. The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
error: Content is protected !!