Prasasti Pasir Awi atau yang dikenal juga dengan nama Prasasti Cemperai adalah salah satu sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara yang berupa prasasti. Prasasti Pasir Awi sangat penting bagi sejarah Indonesia terutama yang berkaitan dengan Kerajaan Tarumanegara karena memberikan informasi penting tentang perkembangan agama, bahasa, dan kebudayaan masyarakat. Di dalam artikel ini akan dijelaskan secara singkat tentang Prasasti Pasir Awi.

Lokasi Penemuan Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditemukan di lereng selatan bukit Pasir Awi (± 559 m dpl) di daerah kawasan hutan Perbukitan Cipamingkis, desa Sukamakmur, Kecamatan Sukamakmur Jonggol, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Posisinya berada di puncak ketinggian perbukitan dan berada di sisi yang curam yang memberikan pandangan luas ke wilayah bukit dan lembah di bawahnya.

Sejarah Penemuan Prasasti Pasir Awi

prasasti pasir awi
Prasasti Pasir Awi yang ditemukan di Kecamatan Sukamakmur Jonggol, Kabupaten Bogor

Prasasti Pasir Awi ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864 dan dilaporkan pada tahun 1867.

Isi Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditulis menggunakan aksara ikal yang hingga saat ini masih belum dapat dibaca keterangan dari isi prasasti ini. Di dalam prasasti ini terdapat gambar telapak kaki sebagaimana yang terdapat di dalam prasasti Ciaruteun. Apabila diperhatikan dari keberadaan gambar telapak kaki seperti yang juga terdapat di dalam prasasti Ciaruteun, prasasti Pasir Awi kemungkinan memiliki fungsi yang sama yaitu menunjukkan kepemilikan atas suatu wilayah. Prasasti ini kemungkinan diterbitkan oleh Raja Purnawarman dari Tarumanegara setelah keberhasilannya menguasai suatu wilayah.

Sebagaimana pengamatan terhadap prasasti Ciaruteun, keberadaan gambar telapak kaki menunjukkan akan kekuasaan raja atas daerah tempat ditemukannya prasasti tersebut. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat. Penggunaan cetakan telapak kaki pada masa itu mungkin dimaksudkan sebagai tanda keaslian, mirip dengan tanda tangan zaman sekarang. Hal ini mungkin sebagai tanda kepemilikan atas tanah. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya.

Baca Juga  Revolusi China 1911

Prasasti Pasir Awi ini menunjukkan suatu keberhasilan yang telah dicapai oleh raja Purnawarman setelah berhasil menguasai wilayah. Kemunculan prasasti ini sebagaimana kemunculan prasasti ciaruteun sebagai tugu peringatan ditaklukannya daerah Aruteun oleh raja Purnawarman. Perlu disadari pula sepanjang memerintah di Kerajaan Tarumanegara, Raja Purnawarman tidak hanya membuat proyek pengairan secara besar-besaran diberbagai wilayah Kerajaan Tarumanegara. Tindakan lainnya yang dilakukan oleh sang raja juga melakukan perluasan wilayah kekuasaan dari Kerajaan Tarumanegara.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama Rajamandala (raja daerah) Pasir Muhara. Berdasarkan keterangan tersebut dapatlah diketahui bahwa ketika Purnawarman memerintah telah banyak kekuatan-kekuatan politik yang terdapat di daerah pedalaman Pulau Jawa bagian barat yang mungkin dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dari Kerajaan Tarumanegara. Sehingga jelaslah kiranya tindakan-tindakan politik yang dilakukan oleh Purnawarman untuk melakukan ekspansi.

Selain keberadaan dari prasasti Pasir Awi dan Prasasti Ciaruteun yang dianggap sebagai prasasti penaklukan oleh Purnawarman, masih dimungkinkan banyak prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Purnawarman dalam kurun waktu yang hampir sama. Prasasti-prasasti itu dikeluarkan sebagai upaya perluasan wilayah Kerajaan Tarumanegara. Namun, sayangnya prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Purnawarman berkaitan dengan ekspansi tidak semua dapat sampai pada hari. Kemungkinan-kemungkinan seperti perusakan oleh manusia, faktor alam dan jenis batu yang digunakan sebagai tugu peringatan ini tidaklah menggunakan jenis batuan yang sama. Sehingga tentu saja terdapat jenis batu yang kuat dan bertahan lama mempertahankan identitasnya adapula yang telah hilang.

Demikianlah penjelasan secara singkat tentang prasasti Pasir Awi yang ditemukan didaerah Sukamakmur Jonggol, Kabupaten Bogor yang diterbitkan ± 450 M atau sezaman dengan diterbitkannya prasasti Ciaruteun. Semoga artikel ini bermanfaat…

Baca Juga  Perjanjian Versailles 28 Juni 1919

Daftar Bacaan

  • De Casparis, J.G. 1975. Indonesian Palaeography: A Historv of Writing in Indonesia from theBeginning to c. A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill.
  • Mc Kinnon, Edwards E. 1996. “Prasasti Ciaruteun: suatu teka-teki, laba-laba atau lambang Sri?” Kalpataru 12:1-6.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Vogel, J.Ph. 1925. “The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java”, Publicaties van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-lndie. Batavia: hlm. 15-35.
  • Zahorka, Herwig 2007. The Sunda Kingdoms of West Java, From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca