Prasasti Telaga Batu (683)

Prasasti Telaga Batu adalah sebuah prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini ditemukan di dekat Palembang, berbahasa Melayu Kuno dan berhuruf Pallawa. Prasasti ini tidak bertarikh, namun yang menarik dari prasasti ini adalah hiasan tujuh kepala ular kobra berbentuk pipih dengan mahkota berbentuk permata bulat.

Sejarah Penemuan Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu (kini dikenal dengan Prasasti Telaga Batu 1) ditemukan di sekitar kolam Telaga Biru (tidak jauh dari Sabokingking), Kel. 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada tahun 1935. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.155. Di sekitar lokasi penemuan prasasti ini juga ditemukan prasasti Telaga Batu 2. Sebelum tahun 1935 juga telah ditemukan lebih dari 30 buah prasasti Siddhayatra. Bersama-sama dengan Prasasti Telaga Batu, prasasti-prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

prasasti telaga batu

Prasasti Telaga Batu dipahatkan pada sebuah batu andesit yang sudah dibentuk sebagaimana layaknya sebuah prasasti dengan ukuran tinggi 118 cm dan lebar 148 cm. Di bagian atasnya terdapat hiasan 7 (tujuh) ekor kepala ular kobra (Ludai), dan di bagian bawah tengah terdapat semacam cerat (pancuran) tempat mengalirkan air pemandian. Tulisan pada prasasti berjumlah 28 baris, berhuruf Pallawa Melayu, dan berbahasa Melayu Kuno.

Isi Prasasti Telaga Batu

“kamu vanyakmamu, rājaputra, prostara, bhūpati, senāpati, nāyaka, pratyaya, hāji pratyaya, dandanayaka, ….murddhaka,tuhā an vatak, vuruh, addhyāksi nījavarna, vāsīkarana, kumaramatya, cātabhata, adhikarana, karmma…., kāyastha, sthāpaka, puhāvam, vaniyāga, pratisara, kamu marsī hāji, hulun hāji, wanyakmamu urang, niwunuh sumpah dari mangmang kamu kadaci tida bhakti di aku”.

Terjemahan Isi Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu merupakan salah satu prasasti yang membahas mengenai awal mula pembentukan Kerajaan Sriwijaya. Pahatan tulisannya sangat panjang dan utamanya membahas tentang kutukan bagi siapapun yang melakukan kejahatan di kadatuan Sriwijaya dan tidak taat kepada perintah raja. de Casparis berpendapat bahwa orang-orang yang disebut pada prasasti ini merupakan orang-orang yang dianggap berpotensi untuk melakukan perlawanan kepada Kerajaan Sriwijaya sehingga perlu bagi mereka untuk disumpah.

Baca Juga  Mind Mapping Kerajaan Samudra Pasai

Disebutkan di dalam prasasti Telaga Batu orang-orang yang dianggap berpotensi untuk melakukan perlawanan tersebut mulai dari para pejabat-pejabatnya seperti putra mahkota (rajaputra), hakim/jaksa (dandanayaka), kapten bahari (puhavam), pengrajin (sthapaka), tukang cuci (marsi haji), (hulun haji). Meskipun tidak memuat angka tahun, prasasti Telaga Batu ini dapat diperkirakan berasal dari zaman yang sama dengan prasasti Kota Kapur tang berangka Tahun 608 Saka (686 M) di lihat dari bentuk tulisan aksara yang terdapat dalam batu tersebut.

Prasasti ini salah satu prasasti kutukan yang paling lengkap memuat nama-nama pejabat pemerintahan. Beberapa sejarahwan menganggap dengan keberadaan prasasti ini, diduga pusat Sriwijaya itu berada di Palembang dan pejabat-pejabat yang disumpah itu tentunya bertempat-tinggal di ibu kota kerajaan. Namun, hingga sekarat kepastian keberadaan pusat Sriwijaya belum dapat di pastikan termasuk ibu kota kerajaan sriwijaya karena pada tahun 775 Masehi telah di temukan di Provinsi Nakhon Si Thammarat, Prasasti Ligor. Di dalam Prasasti Ligor ini menyebutkan sebutan kepada raja yaitu bhupati dengan sebutan sekarang adalah bupati. Soekmono berpendapat berdasarkan prasasti ini tidak mungkin Sriwijaya berada di Palembang karena adanya keterangan ancaman kutukan kepada siapa yang durhaka kepada kadatuan dan mengajukan usulan Minanga seperti yang disebut pada prasasti Kedukan Bukit yang diasumsikan berada di sekitar Candi Muara Takus sebagai ibu kota Sriwijaya.

Daftar Bacaan

  • Casparis, J.G. 1956. Prasasti Indonesia II: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Dinas Purbakala Republik Indonesia, Bandung: Masa Baru.
  • Irfan, N.K.S. 1983. Kerajaan Sriwijaya: pusat pemerintahan dan perkembangannya, Girimukti Pasaka.
error: Content is protected !!