Revolusi China 1911

Revolusi China 1911Revolusi China 1911 atau yang biasa disebut Revolusi Nasional China tahun 1911 berakar pada kegelisahan dan penderitaan rakyat China akibat dari lemahnya pemerintahan pada masa Dinasti Qing. Dari zaman awal terbentuknya dinasti-dinasti pertama sampai dengan tahun 1912, China selalu diperintah dengan sistem dinasti di mana pengangkatan seorang kaisar didasarkan pada garis keturunan. Dinasti terakhir yang berkuasa di China adalah Dinasti Qing yang disebut juga Dinasti Manchu karena berasal dari Manchuria. Dinasti Qing berkuasa selama kurang lebih 200 tahun dan berakhir pada tahun 1911-1912 ketika revolusi terjadi untuk menumbangkan kekaisaran dan sistem dinasti. Di bawah ini akan dijelaskan tentang proses terjadinya Revolusi China 1911.

Latar Belakang Terjadinya Revolusi China 1911

Memasuki abad ke-19 para pedagang Eropa yang telah masuk ke Benua Asia dan telah memulai praktik kolonialisme dan imperialismenya, China pun mulai menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa, terutama dengan Inggris. Di dalam perdagangan itu Inggris berupaya untuk menyelundupkan candu yang diperolehnya dari India dalam upaya masuk dan berkuasa di China. Menyadari akan bahaya candu, Kaisar Manchu memerintahkan untuk melakukan pelarangan terhadap perdagangan candu.

Pelarangan perdagangan candu menimbulkan ketegangan antara China dan Inggris yang menyebabkan keduanya terlibat dalam Perang Candu (1840-1860) di mana dalam peperangan itu China harus membayar mahal atas kekalahan mereka dengan membayar ganti rugi dan membuka beberapa pelabuhan untuk Inggris dan bangsa Eropa lainnya, sehingga China terbagi atas beberapa wilayah yang dikuasai oleh bangsa Barat di mana daerah-daerah itu telah menjadi wilayah yang mandiri dan tidak lagi mematuhi hukum yang berlaku di China.

Perasaan permusuhan terhadap bangsa Barat mulai memuncak saat terjadinya Pemberontakan Taiping yang didasari pada cita-cita bangsa China untuk mendirikan suatu negara yang damai abadi (Taiping Tien Kuo) dan dilanjutkan dengan munculnya gerakan Boxer sebagai reaksi terhadap meluasnya agama Kristen, di mana pemerintahan Dinasti Qing memberikan bantuan kepada gerakan ini. Namun, gerakan Boxer dapat dipadamkan oleh pasukan gabungan negara-negara Barat.

Tokoh-tokoh Dinasti Qing akhirnya bersepakat untuk segera melakukan perubahan secepat mungkin, namun sebelum rencana itu dilaksanakan, kaisar sendiri yang menentangnya sehingga tokoh-tokoh itu ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Puncak ketidaksenangan Dinasti Qing terhadap bangsa Barat semakin berkembang dan telah mendorong semangat nasional yang dipelopori oleh golongan terpelajar. Tokoh utama yang mempelopori lahirnya cita-cita nasional itu adalah dr. Sun yat Sen.

Golongan terpelajar mulai melakukan pergerakannya dengan mendirikan berbagai organisasi yang mana pada tahun 1905 dr. Sun Yat Sen menggabungkan semua organisasi tersebut dengan cara mendirikan Tung Meng Hui yang didasari pada tiga sendi kedaulatan rakyat (San Min Chu-I) yang meliputi nasionalisme, demokrasi, dan sosialisme. Tidak hanya golongan terpelajar, perasaan nasionalisme juga berkembang dikalangan tentara dan anggota dewan perwakilan di berbagai daerah dengan melahirkan berbagai kesatuan untuk melancarkan pemberontakan dalam upaya melenyapkan Dinasti Manchu (Qing).

Keberhasilan yang dicapai oleh golongan terpelajar telah mendorong terjadinya sebuah revolusi di mana golongan nasionalis mendirikan pemerintahan republik. Dalam keberhasilan itu, dr. Sun Yat Sen dinobatkan sebagai presiden pertama dan melaksanakan pemerintahan di Nanking (Nanjing) serta menguasai wilayah China bagian selatan yang berpandangan modern. Sedangkan China bagian utara masih berada di bawah kekuasaan Dinasti Manchu yang dikendalikan oleh kaum bangsawan di mana kedudukan kaisar hanya sebagai symbol kekuasaan saja, sedangkan kaisar tidak dapat mempengaruhi kebijakan apapun, terlebih lagi kebijakan yang berkaitan dengan politik dan keamanan.

Dominasi dan penetrasi bangsa Barat di dalam menanamkan pengaruhnya di China telah memasukkan pemikiran-pemikiran Barat ke dalam sendi-sendi kehidupan bangsa China. Pemikiran-pemikiran ini yang kemudian dipelajari oleh kaum pemuda dan terpelajar yang memunculkan angkatan baru yang berpemikiran modern.

Rakyat China sangat kecewa terhadap sistem pemerintahan Dinasti Manchu yang kolot dan lemah. Beberapa bukti kelemahan pemerintahan Manchu yaitu dalam perang Jepang-China (1894- 1895) China dengan mudah dapat dikalahkan Jepang, dalam perang Rusia-Jepang (1904-1905) yang terjadi dalam daerah dalam daerah China (Manchuria, Korea dan Shantung) dimana Dinasti Manchu tidak berani mengambil tindakan tegas dalam permasalahan itu dan akhirnya hanya merupakan boneka bagi kepentingan bangsa asing dibandingkan mengutamakan kepentingan China dengan segala konsekuensinya.

Baca Juga  Kerajaan Ostrogoth (469-553)

Kekecewaan ini akhirnya menjelma menjadi kebencian yang mengharapkan dilenyapkannya pemerintahan Manchu yang juga merupakan pemerintahan asing bagi bangsa China, dengan melahirkan Nasionalisme China. Nasionalisme ini diperkuat dengan kemenangan Jepang terhadap Rusia, dalam Perang Rusia-Jepang pada tahun 1905, sebagai bukti yang menyatakan bahwa bangsa Timur dapat mengalahkan bangsa Barat. Oleh karena itu berbagai pemikiran pun muncul, bahwa hanya dengan modernisasi yang dapat menyelamatkan. Semenjak itu pula banyak pemuda China belajar di Jepang dan negara Barat lainnya. Pelajar-pelajar diluar negeri inilah yang menjadi pendorong dan pendukung jalannya revolusi nasional China.

Gagalnya Gerakan Boxer telah membuka pandangan Cixi dan menteri-menterinya yang berpemikiran kolot akan perlunya melakukan reformasi. Bangsa asing tidaklah dapat dikalahkan dengan kekerasan, apalagi persenjataan dan teknologi China sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan bangsa Barat. Pada tahun 1905, suatu pendidikan modern sebagai pengganti sistem lama yang hanya mempelajari kitab-kitab klasik, diberlakukan. Rencana Sembilan tahun bagi perombakan konstitusi ditetapkan akan dilakukan pada tahun 1908.

Namun, rencana itu gagal yang disebabkan Cixi meninggal pada tanggal 15 November 1908, sedangkan kaisar Guangxu meninggal pada tanggal 16 November 1908. Cucu keponakan Cixi yang bernama Puyi dan baru berusia tiga tahun kemudian diangkat sebagai kasiar Dinasti Qing dan sekaligus pula menjadi kaisar terakhir baik bagi Dinasti Qing maupun bagi China. Kaisar Puyi yang masih balita, sehingga kendali kekuasaan dipegang oleh sekelompok pangeran Manchu yang tidak berpengalaman serta korup bersamaan dengan Pangeran Chun II, ayah Puyi sebagai wali.

Kekalahan yang kerap diterima terhadap bangsa Barat dan ketidakcakapan kaisar dalam memerintah, serta penderitaan rakyat yang semakin parah, mengakibatkan menguatnya sentiment anti-Manchu. Sentimen ini telah menimbulkan berbagai pemberontakan dan pergerakan rakyat China. Masuknya pengaruh pemikiran demokrasi Barat melalui daerah-daerah ekstrateritorial asing yang sebagian besar berada di selatan China menjadi penyebab dari munculnya tokoh-tokoh pembaharuan di China.

Menyadari situasi dan kondisi yang semakin parah, kekaisaran menjanjikan dibentuknya Dewan Rakyat. Namun, Dewan Rakyat yang dijanjikan akan dibentuk pada tahun 1906 baru berhasil dibentuk pada tahun 1910 dan mengadakan sidangnya yang pertama. Pada kesempatan tersebut rakyat menuntut diadakannya kabinet atau dewan menteri. Tuntutan ini dikabulkan, tetapi rakyat tidak puas, karena sebagian ketuanya diangkat Pangeran Jing yang terkenal korup. Selain itu, di antara 13 orang anggotanya hanya 4 orang saja yang merupakan orang China, sedangkan sisanya adalah orang keturunan Manchu. Karena ketidakpuasan ini, rakyat tetap melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan.

Kronologi Revolusi China 1911

Sosok pemimpin China yang muncul dalam gerakan revolusi untuk mencapai kemerdekaan China adalah Dr. Sun Yat Sen, dengan memiliki kebudayaan Barat dari pemuda-pemuda China “the new learning” dengan maksud untuk memodernisasi China. Langkah pertama yang diambil oleh Sun Yat Sen yaitu dengan mempelajari pemikiran-pemikiran Barat termasuk sosialisme ke berbagai negara, termasuk Eropa dan Jepang. Di Jepang, Sun Yat Sen mendirikan gerakan anti-Manchu (Tung Meng Hui/ Zhongguo Dongmenghui) yang mana gerakan ini berikar untuk:

  1. Mengusir bangsa Manchu;
  2. Merebut kembali Tiongkok bagi bangsa China;
  3. Mendirikan suatu negara berbentuk republik; dan,
  4. Menyamaratakan kepemilikan tanah.

Sun Yat Sen akhirnya kembali ke China untuk menjalankan gerakan nasionalisme dengan tujuan membentuk kesatuan negara China di bawah suatu pemerintahan yang cukup kuat untuk membangun China Baru yang merdeka dan berdaulat penuh serta pandangan bahwa China Baru ini harus didasarkan atas San Min Chu I (Tiga Asas Rakyat), yaitu tiga sendi kedaulatan rakyat yang meliputi Nasionalisme, Demokrasi dan Sosialisme. Perlu diketahui bahwa banyak orang China yang berada di luar negeri yang memberikan dukungan dana bagi pergerakan Sun Yat Sen, sehingga pergerakan Sun Yat Sen di China semakin berjalan dengan lancar.

Kaum revolusioner semakin berani dengan melakukan pemberontakan dengan membunuh jenderal Manchu di Kanton pada 27 April 1911. Pemberontakan yang dipimpin oleh Huang Xing ini berhasil ditumpas oleh kekaisaran dan 72 orang kaum revolusioner terbunuh atau dijatuhi hukuman mati. Sementara itu, kondisi Dinasti Qing makin diperparah dengan gerakan menuntut otonomi yang dilakukan oleh berbagai provinsi, seperti di Sichua.

Perkumpulan Dongmenghui yang diprakarsai oleh Sun Yat Sen merencanakan untuk mengadakan gerakan kembali pada akhir tahun 1911. Gerakan ini pertama-tama merencanakan untuk merebut kota Wuchang yang berada di Provinsi Hubei. Namun, karena daftar nama pemberontak telah jatuh ke tangan pemerintah, gerakan itu harus dilaksanakan dengan sesegera mungkin. Beberapa orang China kaya meminta izin kepada pemerintah Manchu untuk membuka jalan kereta api di Sichuan. Permintaan ditolak dan izin untuk itu diberikan kepada kongsi gabungan bangsa asing (yakni kepada British French German American Consortum).

Baca Juga  Prabu Ragasuci (1297-1303)
revolusi china 1911
Penyerbuan Wuchang

Pada tanggal 10 Oktober 1911 revolusi nasional meletus di Wuchang, kaum pemberontak terlebih dahulu memotong kuncir mereka, yang wajib dikenakan oleh orang-orang China semenjak berkuasanya Dinasti Manchu, dan setelah itu mereka menyerang ke tempat kediaman raja muda. Sebelum hari mulai siang, kaum pemberontak telah berhasil menguasai kota Wuchang. Meskipun begitu, para pemberontak menghadapi kesulitan, sebab Sun yat Sen sedang berada di Amerika, Zhen Qimei sedang berada di Shanghai, sedangkan Jenderal Huang Xing belum tiba. Oleh karena itu, kaum revolusioner mengangkan Li Yuanhong, seorang colonel menjadi pemimpin mereka. Pemilihan ini dikarenakan pengalaman Li Yuanhong dalam hubungan luar negeri dan keikutsertaannya dalam perang China-Jepang.

Setelah pengangkatannya, Li Yuanhong mengeluarkan pernyataan bahwa Dinasti Qing telah runtuh dan suatu pemerintahan militer revolusioner yang baru telah terbentuk. Li Yuanhong juga menghubungi duta-duta bangsa asing serta menyatakan bahwa pemerintahan revolusioner itu akan tetap menghormati perjanjian yang telah dibuat dengan bangsa asing serta melindungi warga mereka, asalkan tidak memberikan bantuan kepada Dinasti Qing.

Pada tanggal 12 Oktober 1911 pabrik senjata di Hanyang jatuh ke tangan kaum revolusioner. Provinsi-provinsi yang ada mulai memihak kaum revolusioner, sehingga diantara 18 provinsi hanya tinggal Henan dan Zhili yang masih mendukung Dinasti Qing.

Merespon kejadian ini, pemerintah Dinasti Qing kemudian mengangkat Yuan Shikai sebagai raja muda Huguang dengan tugas memadamkan pemberontakan, namun Yuan Shikai tidak mengambil tindakan tegas sebagaimana tugas yang ia telah terima. Usaha lain untuk memadamkan api revolusi, pada tanggal 22 Oktober 1911 Dewan Nasional mengadakan sidang darurat di Beijing. Pada tanggal 27 Oktober 1911, mereka pada hakikatnya menerima resolusi-resolusi yang menuntut agar kaum keluarga kaisar tidak diperkenankan menjadi anggota kabinet serta izin bagi pembentukan partai-partai politik.

Pada tanggal 30 Oktober 1911, pemerintah Dinasti Qing mengeluarkan empat titah sekaligus; pertama berisikan pengakuan bahwa seluruh kekacauan ini diakibatkan oleh kebobrokan pemerintahan Dinasti Qing sendiri. Kedua memerintahkan Pangeran Bu Lun dan rekan-rekannya untuk menyusun rancangan undang-undang dasar dan kemudian mengajukannya kepada Dewan Nasional. Ketiga berisikan pengakuan bahwa kabinet yang beranggotakan para pengeran tidak sesuai dengan cita-cita negara yang konstitusional dan negara akan mengangkat orang-orang yang mampu sebagai menteri. Keempat memberikan amnesti bagi orang-orang yang telah melakukan pelanggaran sejak 1898, baik yang telah ditahan karena memimpin pemberontakan ataupunyang berhasil melarikan diri keluar negeri. Akan tetapi, titah yang dikeluarkan itu telah terlambat.

Menyadari akan situasi yang semakin berbahaya, maka pemerintah Dinasti Qing mengangkat Yuan Shikai sebagai perdana menteri pada 7 November 1911 menggantikan Pangeran Qing yang mengundurkan diri. Pada tanggal 11 November 1911, dr. Wu Dingfang, menteri luar negeri dalam kabinet pemerintahan revolusioner mengajukan tuntutan kepada Pangeran Chun II selaku wali agar Kaisar Xuandong meletakkan jabatannya. Tuntutan ini dijawab dengan mengangkat Yuan Shikai sebagai penguasa sipil dan militer tertinggi untuk mengamankan posisi keluarga kekaisaran yang semakin terjepit.

Pada tanggal 13 November, kabinet baru dilantik, yang diantaranya hanya duduk tiga orang keturunan Manchu saja. Pangeran Chun II juga mengangkat sumpah untuk mematuhi undang-undang dasar yang berisi 19 pasal yang telah disahkan oleh Dewan Nasional. Sehingga pada saat itu boleh dikata terdapat dua pemerintahan yang berkuasa di China, yakni Dinasti Qing yang berkuasa di utara dan pemerintah revolusioner di selatan China.

Pemerintah revolusioner mulai mencari dukungan asing. Melalui dr. Wu Dingfang ia mengirimkan penjelasan kepada duta-duta negara asing mengenai tujuan revolusi tersebut. Dr. Wu Dingfang menyatakan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa serta pemerintah Dinasti Qing hendaknya menyadari bahwa mereka tidak memiliki kemungkinan lagi untuk tetap dapat bertahan selamanya.

Pangeran Chun II tidak dapat mempertahankan kedudukannya dan mengundurkan diri pada 6 Desember 1911. Memasuki akhir bulan Desember, kemenangan mulai tampak berpihak pada kaum revolusioner. Yuan Shikai mengirim Tang Shaoyi ke Shanghai untuk melakukan pembicaraan dengan dr. Wu Dingfang.

Baca Juga  Prasasti Muara Cianten 536 M: Kemenangan Raja Sunda Atau Tarumanegara?

Tang Shaoyi tiba di Shanghai pada 17 Desember 1911 dan enam konsul asing di Shanghai menyatakan harapan mereka pada tanggal 20 Desember 1911 pertikaian yang terjadi agar dapat diselesaikan secara damai. Akan tetapi, dr. Wu Dingfang tetap menuntut agar bentuk pemerintahan monarki digantikan dengan pemerintahan republik. Akhirnya, kedua pihak menyetujui bahwa masalah bentuk pemerintahan ini akan diserahkan kepada Dewan Nasional yang mewakili seluruh rakyat, dan pada tanggal 28 Desember 1911, pemerintah Dinasti Qing menyepakati hal ini.

Sebelum penandatanganan kesepakatan itu, dr. Sun Yat Sen telah tiba di Shanghai setelah mencari dukungan asing terutama Inggris agar tidak memberikan pinjaman kepada Dinasti Qing. Sementara itu, wakil-wakil provinsi mengadakan rapat di Nanjing dan menyatakan keberpihakan mereka kepada kaum revolusioner. Berdasarkan hasil rapat ini, disepakati bahwa dr. Sun Yat Sen diangkat sebagai presiden pemerintahan sementara Republik China yang dilantik pada 11 Januari 1912. Setelah pengangkatan dr. Sun Yat Sen sebagai presiden, nasib Dinasti Qing hanyalah tinggal menunggu waktu bagi keruntuhannya.

Berdirinya Republik China

Pada tanggal 1 Januari 1912, dr. Sun Yat Sen diangkat sebagai presiden di Nanjing dan mendirikan Republik China. Pada tanggal 2 Januari 1912, dr. Sun Yat Sen menyatakan bahwa pemerintahan Dinasti Qing yang telah berlangsung selama 200 tahun, kian hari berada dalam kondisi yang semakin buruk, sehingga rakyat memutuskan untuk segera mengakhiri Dinasti Qing. dr. Sun Yat Sen menyatakan bahwa landasan suatu negara adalah rakyat. Berbagai bangsa utama yang menghuni China; Han, Manchu, Mongol, Hui dan Tibet akan dipersatukan menjadi satu bangsa yang besar. Sebagai symbol persatuan itu ditetapkanlah bendera Republik China yang baru, yaitu dengan menggunakan bendera lima warna: merah (han), kuning (Manchu), biru (Mongol), putih (Hui), dan hitam (Tibet).

Di sisi lain, pemerintah Dinasti Qing telah menyadari bahwa kekuasaan mereka sulit untuk dipertahankan lagi. Pada tanggal 12 Februari 1912, ibu suri Long Yu terpaksa mengeluarkan maklumat yang ditandatangani oleh Yuan Shikai sebagai perdana menteri. Di dalam maklumat itu berisi bahwa ibusuri beserta Kaisar Xuandong (Puyi) menyerahkan kedaulatannya kepada seluruh rakyat China.

Berdasarkan maklumat itu maka berakhirlah riwayat Dinasti Qing dan berakhir pula sistem dinasti yang telah berkuasa di China selama ribuan tahun. Pihak istana kemudian menyerahkan mandat kepada Yuan Shikai untuk membangun pemerintahan sementara, tetapi mereka meminta agar kaisar tetap diizinkan menyandang gelarnya serta diberi gaji tahunan sebesar $ 4.000.000. Selain itu, keluarga kerajaan agar diizinkan tetap memiliki kekayaan.

Kejatuhan Dinasti Qing segera dikabarkan oleh Yuan Shikai kepada dr. Sun Yat Sen di Nanjing. Langkah yang diambil oleh Yuan Shihkai adalah melaksanakan perundingan dengan dr. Sun Yat Sen yang isinya adalah Yuan Shikai bersedia menurunkan dan melenyapkan kerajaan Manchu untuk membentuk satu negara China merdeka (Republik yang meliputi seluruh China) dengan syarat asalkan Yuan Shikai yang menjadi presidennya, dan Dr. Sun pun bersedia menerima tawaran tersebut dengan pertimbangan untuk kepentingan persatuan seluruh bangsa China.

Republik China sekarang meliputi seluruh China, dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri sebagai presiden dan naiknya jabatan Yuan Shikai sebagai presiden China menggantikan dr. Sun Yat Sen. Dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri ke Kanton pada tanggal 13 Agustus 1912 dan mendirikan Kuomintang (Partai Nasionalis) untuk melaksanakan San Min Chu I dan menjaga tetap berlangsungnya roda pemerintahan Republik China yang nasionalis, demokratis dan sosialistis.

Sementara itu Yuan Shikai mengangkat para jenderal sebagai gubernur di provinsi-provinsi untuk menjaga kedudukannya. Gubernur militer inilah yang kelak setelah meninggalnya Yuan Shikai menjelma menjadi warlords yang saling berperang untuk berebut kekuasaan dan menimbulkan banyak kekacauan dan penderitaan rakyat China secara keseluruhan.

Daftar Bacaan

  • Li, Xiaobing. 2007. A History of the Modern Chinese Army. University Press of Kentucky.
  • Wang, Gabe T. 2006. China and the Taiwan Issue: Impending War at Taiwan Strait. University Press of America.
  • Chang, Kang-i Sun, Owen, Stephen (2010). The Cambridge History of Chinese Literature, Volume 2. Cambridge University Press.
  • Rhoads, Edward J. M. 2000. Manchus & Han: Ethnic Relations and Political Power in Late Qing and Early Republican China, 1861–1928. University of Washington Press.
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca