Abad Renaissance Eropa

Abad Renaissance EropaAbad Renaissance Eropa diperkirakan dimulai di Eropa pada akhir abad ke-14 M. Setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, Eropa memulai babak baru dalam perjalanan sejarahnya yaitu memasuki masa Abad Pertengahan. Berdasarkan kronologi waktu, Abad Pertengahan diperkirakan dimulai sejak abad ke-6 M hingga menjelang akhir abad ke-14 M. Setelah cukup lama berada pada periode Abad Pertengahan, bangsa Eropa memulai loncatan baru dalam kehidupannya yakni dengan memunculkan semangat Renaissance. Renaissans (Renaissance) atau yang biasa disebut dengan Abad Pembaruan adalah sebuah periode di dalam sejarah Eropa yang terjadi sepanjang abad ke-15 – abad ke-17 M. Periode ini dianggap sebagai zaman peralihan dari Abad Pertengahan (Middle Ages) menuju zaman modern (Modern Ages).

Pengertian Renaissance

Renaissans (Renaissance) berasal dari bahasa Prancis melalui kata Re (kembali) dan Naitre (Kelahiran) yang diartikan “Kelahiran Kembali”. Maksud dari kata-kata “Kelahiran Kembali” di sini adalah munculnya kembali semangat orang-orang Eropa untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari Yunani dan Romawi Kuno. Ilmu Pengetahuan dari Yunani maupun teknologi yang berasal dari Romawi Kuno merupakan ilmu yang bersifat rasional (masuk akal). Di bawah ini akan dijelaskan tentang latar belakang dan perkembangan Renaissance di Eropa secara umum.

Baca Juga  Kerajaan Samudra Pasai 1267-1524

Pada periode Abad Pertengahan, masyarakat Eropa mengalami masa di mana ilmu pengetahuan tidak mengalami perkembangan. Hal ini tentu disebabkan dengan iklim intelektual pada abad pertengahan yang didominasi oleh doktrin dan dogma gereja. Perlu dipahami bahwa kekuasaan gereja pada masa ini sangatlah mutlak, tidak dapat dibantah maupun diperdebatkan. Sehingga, perkembangan intelektual pun haruslah mengikuti pemikiran dan pemahaman yang diberikan oleh gereja. Oleh karena itu, Abad Pertengahan ini kerap disebut pula dengan abad kegelapan (Dark Ages).

Renaissance juga dapat dipahami sebagai sebuah gerakan budaya yang dimulai di Italia pada periode akhir Abad Pertengahan dan kemudian secara bertahap mulai menyebar ke seluruh Eropa. Persebaran dari gerakan Renaissance itu ditandai dengan penemuan dan pemakaian kertas yang disertai pula dengan penemuan barang metal. Penemuan dari kedua hal tersebutlah yang mempercepat penyebaran ide gerakan Renaissance dari abad ke-15 M dan seterusnya hingga menjelang akhir abad ke-17 M.

Latar Belakang Renaissance di Eropa

Menjelang akhir Abad Pertengahan di Eropa sekitar abad ke-13 dan ke-14 M tatanan kehidupan masyarakat Eropa mulai mengalami perubahan. Kemunculan kembali naskah-naskah yang berasal dari peradaban Yunani dan Romawi kuno, telah menginspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan dalam tatanan kehidupan pada Abad Pertengahan yang sepenuhnya dikuasai oleh doktrin gereja.

Doktrin gereja tidak mengindahkan dan berupaya dengan segenap usahanya untuk “melenyapkan” pemikiran yang telah dihasilkan pada masa Yunani dan Romawi kuno. Hal ini disebabkan oleh adanya dasar-dasar pemikiran yang dikembangkan terutama oleh Plato dan Aristoteles dianggap dapat mengacaukan struktur dunia Kristen. Sehingga pelbagai hal yang beketerkaitan dengan ide-ide dari pemikir Yunani “dihilangkan” dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Eropa pada Abad Pertengahan.

Baca Juga  Organisasi Keibodan (1943-1945)

Sesudah mengalami masa kebudayaan tradisional yang sepenuhnya diwarnai oleh ajaran Kristiani, orang-orang kini mencari orientasi dan inspirasi baru sebagai alternatif dari kebudayaan Yunani-Romawi sebagai satu-satunya kebudayaan lain yang mereka kenal dengan baik. Kebudayaan klasik ini dipuja dan dijadikan sebagai model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia. Pengaruh Renaissance dirasakan dalam bidang sastra, filsafat, seni, musik, politik, ilmu pengetahuan, agama, dan aspek lain di bidang intelektual.

Pemandangan umum yang terjadi pada fase awal Renaissance ini adalah kemunculan sarjana-sarjana yang mempelajari kembali naskah-naskah Yunani dan Romawi kuno untuk dijadikan sebagai referensi mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Para sarjana yang memfokuskan dirinya pada pengolahan kembali dua kebudayaan itu disebut juga dengan kaum humanis. Di mana kaum humanis menyakini dan memandang bahwa kebudayaan klasik (Yunani dan Romawi) sebagai puncak dari peradaban Barat.

abad renaissance eropa

Kebudayaan Yunani kuno dan Romawi dinilai oleh kaum humanis sebagai puncak peradaban eropa hal itu karena dalam kedua kebudayaan itu, mereka menemukan nilai-nilai yang perlu kiranya untuk dihidupkan kembali dalam kebudayaan Barat. Beberapa nilai yang perlu dihidupkan kembali diantaranya adalah penghargaan atas dunia, manusia dan pengakuan atas kemampuan rasio.

Akan tetapi, para sarjana humanis di fase Renaissance ini memiliki perbedaan dengan para humanis dari fase klasik yang menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara kota). Para humanis Renaissance lebih menekankan pada subjektivitas dengan pandangan bahwa kita bukanlah hanya umat manusia, melainkan adalah individu-individu unik yang dapat dengan bebas untuk melakukan atau berbuat sesuatu demi mencapai kebahagiaan di dunia ini.

Di dalam perekonomian, perlu disadari bahwa selama periode Abad Pertengahan dan terutama setelah terjadinya Perang Salib, di Eropa telah terjadi pengontrolan terhadap aktivitas perdagangan di kawasan Mediterania yang dikendalikan langsung oleh orang-orang dari Florencia, Venesia dan Genoa yang menghubungkan perdagangan Eropa dengan pusat kota-kota perdagangan seperti Konstantinopel, Antiokia dan Alexandria. Para pedagang di kawasan Mediterania inilah yang memainkan peranan penting dalam memperdagangkan komoditas barang yang berasal dari Timur ke Eropa dan sebaliknya dengan begitu telah menjadikan kota-kota perdagangan di Eropa menjadi kota perdagangan yang ramai diantaranya; Florencia, Venesia, dan Genoa.

Baca Juga  Politik Apartheid Afrika Selatan

Selama periode Perang Salib telah terjadi pertukaran kebudayaan antara Dunia Barat dan Dunia Timur. Banyak orang yang mencoba memanfaatkan Perang Salib dan ramainya peziarah ke Tanah Suci (Yerussalem) untuk berdagang yang berdampa pada melejitnya permintaan terhadap produk-produk yang berasal dari Dunia Timur ke Dunia Barat. Semakin meningkatnya intensitas perdagangan telah membuat kota-kota berkembang dan cenderung dinamis. Selain itu, dengan berkembangnya perdagangan ini jelas memiliki dampak pada perkembangan ekonomi di kota-kota Eropa dan telah berhasil memunculkan banyak orang kaya baru yang mana golongan ini bukan berasal dari golongan bangsawan atau tuan-tuan tanah feudal, melainkan individu-individu yang memiliki jiwa petualang dan bisnis.

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca