Sejarah Dinasti Ghaznawi (977-1186)

Dinasti Ghaznawi eksis sejak tahun 962-1189. Pendiri Dinasti Ghaznawi adalah Alpatigin yang merupakan seorang keturunan Turki. Dinasti Ghaznawi dalam perkembangannya mulai memasuki wilayah India di bawah pemerintahan Sultan Mahmud al-Ghaznawi yang melalui kampanyenya berhasil menguasai wilayah dari pinggiran laut Kaspia di utara hingga Sungai Gangga yang berada di India, dari Sungai Ozus di Amudarya sampai Sungai Indus seperti Khurasan, Peshawar Kashmir, dan Bathinda, Punjab, Kangra, Delhi,  Mathura, Kanauj, dan Gujarat. Di bawah ini akan dijelaskan secara singkat tentang sejarah Dinasti Ghaznawi.

Latar Belakang Berdirinya Dinasti Ghaznawi

Cikal bakal berdirinya Dinasti Ghaznawi (kesultanan Ghaznawi) diawali oleh Alpatigin (seorang keturunan Turki yang menjadi perwira militer pada Dinasti Samaniyah di Transoxania, Asia Tengah). Alpatigin melakukan ekspansi ke arah timur, tepatnya ke Afghanistan bagian timur. Di wilayah ini Alpatigin menaklukkan dan menguasai kota Ghazna beserta daerah-daerah di sekelilingnya.

Alpatigin pendiri Dinasti Ghaznawi ini telah berkuasa penuh atas wilayah Sind tapi pusat pemerintahannya tetaplah di Kurasan (Afghanistan). Dinasti Ghaznawi inilah yang mampu merambah jalan ke pusat negeri India untuk menyebarkan ajaran agama Islam, menghancurkan berhala menggantikan kuil-kuil dengan mendirikan masjid dan mampu mempertahankan kejayaannya selama ± 220 tahun.

Pada tahun 963 Alpatigin, sang pendiri Dinasti Ghaznawi meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ishaq. Ishaq yang kurang cakap dalam memerintah akhirnya harus merelakan tahta kekuasaanya jatuh ke tangan keturunan Turki yang lain, Sabuktigin yang selanjutnya berkuasa di Dinasti Ghaznawi sampai tahun 997.

Dalam sejarah yang berkembang pada masa itu, Alpatigin adalah sebagai perintis berdirinya Dinasti Ghaznawi (Kesultanan Ghaznawi), sementara Sabuktigin mampu membentuk kekuatan Dinasti Ghaznawi yang mapan dan wilayah yang luas sehingga kemudian diakui keberadaannya oleh Baghdad. Ketika Dinasti Ghaznawi di bawah pemerintahan Sabuktigin, Sabuktigin mampu memperluas daerah kekuasaannya sampai daerah perbatasan India. Bahkan dia dapat mengalahkan Raja Jaipal dari Dinasti Rajput di Punjab dalam dua kali penyerangan, kemudian menguasai daerah perbatasan Kabul.

Baca Juga  Sejarah dan Perkembangan Pakta Warsawa (1955-1991)

Raja-Raja Dinasti Ghaznawi

Berikut ini adalah daftar nama sultan selama pemerintahan Dinasti Ghaznawi; 

(1) Alpatigin,
(2) Ishaq,
(3) Baltigin,
(4) Piri,
(5) Sabuktigin,
(6) Ismail Ibn Sabuktigin,
(7) Mahmud Ibn Sabuktigin,
(8) Muhammad ibn Mahmud dan,
(9) Mas’ud Ibn Mahmud.

Perkembangan Dinasti Ghaznawi

Pada masa Mas’ud ibn Mahmud Dinasti Ghaznawi mulai mengalami kemunduran, yang berawal dari penyerbuan orang-orang Bani Saljuk ke beberapa propinsi di Persia. Kemudian diikuti pula oleh suku Ghur yang ditambah lagi dengan upaya-upaya tokoh-tokoh daerah yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan pusat.

dinasti ghaznawi

Ketika Dinasti Ghaznawi berada di bawah kepemimpinan Sultan Mahmud al-Ghaznawi, kemajuan bidang politik mencapai puncaknya. Ghazna yang semula adalah kerajaan kecil, yang di sana-sini terdapat reruntuhan bangunan akibat perang, ia bangun kembali menjadi kota yang megah yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Di bawah kepemimpinan Mahmud al-Ghaznawi, Dinasti Ghaznawi tersebut memiliki pengaruh yang luas, dari pinggir laut Kaspia di utara hingga sungai Gangga di India, dari sungai Ozus di Amudarya (Asia Tengah) sampai sungai Indus (pesisir selatan India). Sultan Mahmûd al-Ghaznawi adalah panglima perang perkasa, dia lebih banyak berada di medan perang daripada “duduk” di istana kebesarannya.

Penaklukan terhadap daerah-daerah yang kaya dan subur memberikan dampak yang sangat besar terhadap kemajuan Dinasti Ghaznawi di bidang ekonomi. Harta rampasan yang melimpah dan restribusi pajak yang dikumpulkan dari seluruh daerah taklukan, mampu menghidupkan berbagai aktivitas perekonomian, sehingga tidak berlebihan bila dikatakan Dinasti Ghaznawi ini menjadi kekuatan politik yang makmur. Kemajuan bidang ekonomi sudah barang tentu memberi dampak yang tidak kecil terhadap perkembangan peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk di bidang militer.

Kemunduran Dinasti Ghaznawi

Kelemahan utama Dinasti Ghaznawi sebenarnya terletak pada ambisi kekuasaan para pengganti Sultan Mahmud, tetapi tidak diiringi dengan kecakapan dalam memerintah. Kondisi ini mempengaruhi kebijakan politik dan kesatuan wilayah, yang pada akhirnya mereka tidak mampu menahan serangan musuh, seperti serangan dinasti Saljuk, suku Ghuzz dan suku Ghur. Sehingga berakhirlah masa kejayaan Dinasti Ghaznawi.

Baca Juga  Kebijakan Mikhail Gorbachev Yang Berdampak Pada Keruntuhan Uni Soviet

Meskipun Dinasti Ghaznawi telah berakhir dengan berbagai peristiwa yang menyedihkan, namun keberhasilannya membawa Islam ke anak benua India merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dihapus. Hal ini merupakan sumbangan Dinasti Ghaznawi yang besar terhadap penyebaran dan perkembangan Islam terutama di India.

Daftar Bacaan

  • Arjomand, Said Amir. 2012. “Patrimonial state”. In Böwering, Gerhard; Crone, Patricia; Mirza, Mahan (eds.). The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought. Princeton: Princeton University Press.
  • Asher, Catherine B.; Talbot, Cynthia. 2006. India Before Europe. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Bosworth, C.E. 1963. The Ghaznavids:994–1040. Edinburgh: Edinburgh University Press.
  • Bosworth, C.E. 1975. “The Early Ghaznavids”. In Bosworth, C. E. (ed.). The Cambridge History of Iran. Vol. 4. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Meisami, Julie Scott. 1999. Persian historiography to the end of the twelfth century. Edinburgh: Edinburgh University Press.
  • Schwartzberg, Joseph E. 1978. A Historical atlas of South Asia. Chicago: University of Chicago Press. p. 146, map XIV.2 (l). ISBN 0226742210.
  • Spooner, Brian; Hanaway, William L. 2012. Literacy in the Persianate World: Writing and the Social Order. Pennsylvania: University of Pennsylvania Press.
  • Spuler, B. 1970. “The Disintegration of the Caliphate in the East”. In Holt, P.M.; Lambton, Ann K.S.; Lewis, Bernard (eds.). Cambridge History of Islam. Vol. IA: The Central islamic Lands from Pre-Islamic Times to the First World War. Cambridge: Cambridge University Press.
error: Content is protected !!