Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah Sebagai Ilmu: Pengertian, Ciri-Ciri dan Contohnya

Sejarah Sebagai Ilmu – Peristiwa yang telah terjadi di masa lampau menjadi pengalaman dan memori kolektif oleh umat manusia. Oleh karena itu, sejarah sangatlah bergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman itu kini terekam dalam berbagai macam dokumen.┬áDokumen-dokumen tersebutlah yang kemudian diteliti oleh para sejarawan sehingga menghasilkan tulisan sejarah. Tulisan sejarah inilah yang kemudian memberikan pengetahuan tentang masa lalu. Sayangnya rekaman tentang masa lalu acap kali tidak lengkap untuk dijadikan sebagai bahan penyusunan sejarah. Akibatnya pengetahuan tentang masa lampau pun menjadi tidak lengkap.

Pengertian

Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar, sebenarnya terdapat pula kesamaan-kesamaan antara ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu alam. Keduanya sama-sama disusun berdasarkan pengalaman, pengamatan dan juga penyerapan. Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa sejarah sebagai ilmu adalah sejarah yang ditulis atau dikaji dengan melalui proses dan metode-metode ilmiah, sehingga diperoleh sebuah kebenaran. 

Ciri-Ciri

Sebagai ilmu, sejarah tidak berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Sejarah sebagai ilmu memiliki ciri-ciri sebagai berikut;

(1) Memiliki objek

Kata objek berasal dari bahasa Latin yaitu objectus yang memiliki arti “yang di hadapan, sasaran atau tujuan”, dalam pengertian ini maka kita akan menyorotinya pada hal sasaran atau tujuan. Acap kali sejarah dituduh sebagai sesuatu yang tidak jelas. Hal ini dikarenakan biasanya sejarah dikategorikan ke dalam ilmu kemanusiaan, karena memiliki objek manusia. Namun, meskipun memiliki persamaan mendeskripsikan tentang manusia, kajian sejarah berbeda dengan ilmu antropologi maupun sosiologi. Objek sejarah adalah perubahan atau perkembangan aktivitas manusia dalam dimensi waktu (masa lalu) dan waktu adalah unsur terpenting yang ada di dalam sejarah.

Jadi, sejarah memiliki objek sendiri yang tidak dimiliki ilmu lain secara khusus. Jikalau fisika membicarakan waktu fisik, maka sejarah membicarakan waktu manusia. Waktu dalam pandangan sejarah tidak pernah lepas dari aktivitas manusia. Oleh karena itu, soal asal-mula selalu menjadi bahasan utama sejarah. Semisal; tentang masuknya ajaran Hindu-Buddha, apakah pada periode sebelum tarikh Masehi ataukah pada awal permulaan tarikh Masehi. Atau semisal mengenai masuknya ajaran agama Islam di Kepulauan Indonesia, apakah pada abad ke-7 atau pada abad ke-13, yang pasti tidaklah menjadi persoalan bagi sejarawan asal saja penjelasannya dapat diterima.

(2) Bersifat Empiris

Kata empiris berasal dari bahasa Yunani, emperia yang memiliki arti pengalaman. Sejarah sangatlah bergantung pada pengalaman manusia yang terekam di dalam dokumen. Dokumen-dokumen tersebut diteliti oleh penulis sejarah maupun sejarawan untuk menentukan sebuah fakta. Fakta yang telah ditentukan itu kemudian diinterpretasi atau ditafsirkan. Dari interpretasi atas fakta inilah, maka akan dihasilkan suatu tulisan sejarah.

Meskipun terdapat perbedaan yang mendasar dengan ilmu alam, sejarah itu sama dengan ilmu-ilmu alam; persamaan itu terlihat pada pemahaman bahwa baik sejarah maupun ilmu alam berdasarkan pada pengalaman, pengamatan, dan penyerapan. Akan tetapi, di dalam ilmu-ilmu alam percobaan itu dapat diulang-ulang. Sementara itu, sejarah tidak dapat mengulangi percobaan. Revolusi Indonesia, Revolusi Prancis, Revolusi Russia tidak dapat diulang kembali, peristiwa itu hanya terjadi sekali dan setelah itu lenyap ditelan oleh waktu dan menjadi masa lampau. Sejarah hanya meninggalkan dokumen. Perbedaan yang lain ialah kalau fakta sejarah itu adalah fakta manusia, sedangkan di dalam ilmu-ilmu alam, yang disebut fakta adalah fakta alam.

Perbedaan-perbedaan antara sejarah dengan ilmu alam tentu saja membawa konsekuensi tersendiri bagi sejarah. Sejarah acap kali disebut tidak ilmiah dikarenakan bukanlah bagian dari ilmu-ilmu alam. Padahal, cara kerja keduanya tidaklah sama. Perbedaan antara sejarah dengan ilmu-ilmu alam tidak terletak pada cara kerja, melainkan perbedaan itu terletak pada objek.

Ilmu-ilmu alam yang mengamati benda-benda tentu saja berbeda dengan sejarah yang mengamati manusia. Perbedaan antara keduanya adalah layaknya membandingkan perbedaan antara manusa dengan benda. Benda tidak berpikir, sedangkan manusia itu berpikir dan memiliki kesadaran. Dapat dimengerti kalau ilmu-ilmu alam menghasilkan hukum alam yang berlaku umum dan pasti, sedangkan sejarah hanya menghasilkan generalisasi yang tidak sepasti layaknya ilmu alam.

(3) Memiliki teori

Kata teori berasal dari bahasa Yunani yaitu theoria yang berarti renungan. Seperti ilmu-ilmu lain, sejarah juga memiliki teori. Teori pada umumnya berisi suatu kumpulan tentang kaidah pokok suatu ilmu. Ilmu-ilmu alam menjadikan alam sebagai objeknya, sedangkan ilmu-ilmu sosial menjadikan masyarakat sebagai objek penelitian, maka sejarah memiliki objek sendiri, yaitu manusia dan waktu.

Meskipun memiliki persamaan dengan mitos karena berbicara tentang waktu, sejarah membedakan dirinya dengan mitos. Mitos tidak menjelaskan tentang kapan sesuatu terjadi, sedangkan bagi sejarah penjelasan tentang waktu itu teramat penting. Sejarah bertanya bagaimana mungkin orang mengetahui waktu, pengetahuan waktu itu mutlak atau relatif, cara-cara mengukur kebenaran pengetahuan itu, dan model-model penjelasan sejarah.

Sejarah mempunyai tradisi yang panjang, bahkan jauh lebih panjang daripada ilmu-ilmu sosial. Dalam setiap tradisi itu terdapat teori sejarah. Di dalam ilmu sejarah, teori ini juga sering disebut dengan filsafat sejarah kritis. Teori sejarah diantaranya berisi tentang bagaimana seharusnya menyampaikan penjelasan dan berbagai model penjelasan sejarah.

(4) Memiliki Generalisasi

Kata generalisasi berasal dari bahasa Latin yaitu generalis yang memiliki arti umum. Sama dengan ilmu lain, sejarah menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Namun perlu diingat bahwa kesimpulan untuk ilmu-ilmu lain bersifat nomotetis, sementara sejarah bersifat idiografis. Generalisasi sejarah seringkali merupakan koreksi atas kesimpulan-kesimpulan ilmu lain. 

Beberapa contoh generalisasi di dalam sejarah antara lain:

a) Bangsa-bangsa yang baru merdeka di Asia, Afrika dan Amerika Latin setelah Perang Dunia I menghadapi berbagai permasalahan sosial, politik dan ekonomi;
b) Kegiatan pelayaran dan perniagaan abad ke-13 M memiliki andil besar dalam penyebaran ajaran agama Islam di Indonesia.

(5) Memiliki Metode

Kata metode berasal dari bahasa Yunani, metohodos yang berarti cara. Metode sejarah adalah sekumpulan prinsip-prinsip dan aturan yang sistematis, yang dimaksudkan untuk memberikan bantuan secara efektif dalam usaha mengumpulkan bahan bagi sejarah, menilai secara kritis dan menyajikan suatu sintesis dari hasil-hasilnya, biasanya dalam bentuk tulisan. 

Metode sejarah mengharuskan orang untuk berhati-hati. Dengan metode sejarah, orang tidak dapat menarik kesimpulan yang terlalu berani. Misalnya adalah dengan penelitiannya yang detail, sejarah tidak dapat menyimpulkan bahwa Sang Merah Putih telah berkibar di Indonesia selama 6000 tahun atau anggapan bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 350 tahun yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan sejarah. Di dalam metode sejarah ada empat tahapan yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi.

Contoh Sejarah Sebagai Ilmu

sejarah sebagai ilmu
Sejarah Sebagai Ilmu

1. Teori masuknya ajaran agama Hindu-Budha ke Indonesia
2. Teori masuknya ajaran agama Islam ke Indonesia
3. Teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia
4. Teori Terbentuknya Kepulauan Indonesia

error: Content is protected !!