Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia (1,8 Juta Tahun Yang Lalu)

Bagaimana proses terbentuknya kepulauan Indonesia? Ada banyak teori dan penjelasan tentang penciptaan bumi yang berkaitan dengan proses terbentuknya Kepulauan Indonesia, mulai dari mitos sampai kepada penjelasan agama dan ilmu pengetahuan. Salah satu di antara teori ilmiah tentang terbentuknya bumi adalah Teori Dentuman Besar (Big Bang), yang dikemukakan oleh sejumlah ilmuwan, misalnya ilmuwan besar Inggris, Stephen Hawking. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagat raya.

Jika digunakan teleskop besar Mount Wilson untuk mengamatinya akan terlihat ruang jagat raya itu luasnya mencapai radius 500 juta tahun cahaya. Gumpalan gas itu suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat. Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya tersisa energi berupa proton, neutron dan elektron, yang bertebaran ke seluruh arah.

Ledakan dahsyat itu menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru, sehingga membentuk galaksi, bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi, bulan dan meteorit. Bumi kita hanyalah salah satu titik kecil saja di antara tata surya yang mengisi jagat semesta.

Di samping itu banyak planet lain termasuk bintang-bintang yang menghiasi langit yang tak terhitung jumlahnya. Boleh jadi ukurannya jauh lebih besar dari planet bumi. Bintang-bintang berkumpul dalam suatu gugusan, meskipun antarbintang berjauhan letaknya di angkasa. Ada juga ilmuwan astronomi yang mengibaratkan galaksi bintang-bintang itu tak ubahnya seperti sekumpulan anak ayam, yang tak mungkin dipisahkan dari induknya. Jadi di mana ada anak ayam di situ pasti ada induknya.

Seperti halnya dengan anak-anak ayam, bintang-bintang di angkasa tak mungkin gemerlap sendirian tanpa disandingi dengan bintang lainnya. Sistem alam semesta dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur dan rapi pada sumbunya masing-masing. Selanjutnya proses evolusi alam semesta itu memakan waktu kosmologis yang sangat lama sampai berjuta tahun. Di dalam memahami terbentuknya Kepulauan Indonesia, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai evolusi bumi itu sendiri.

Evolusi Bumi

Terjadinya evolusi bumi sampai adanya kehidupan memakan waktu yang sangat panjang. Ilmu paleontologi membaginya dalam enam tahap waktu geologis. Masing-masing ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan makhluk hidup yang paling sederhana. Sedangkan proses evolusi bumi dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut:

  1. Azoikum (Yunani: a = tidak; zoon = hewan), yaitu zaman sebelum adanya kehidupan. Pada saat bumi baru terbentuk dengan suhu yang relatif tinggi. Waktunya lebih dari satu miliar tahun lalu.
  2. Palaezoikum, yaitu zaman purba tertua. Pada masa ini sudah meninggalkan fosil flora dan fauna. Berlangsung kira-kira 350 juta tahun.
  3. Mesozoikum, yaitu zaman purba tengah. Pada masa ini hewan mamalia (menyusui), hewan amfibi, burung dan tumbuhan berbunga mulai ada. Lamanya kira-kira 140 juta tahun.
  4. Neozoikum, yaitu zaman purba baru, yang dimulai sejak 60 juta tahun yang lalu. Zaman ini dapat dibagi lagi menjadi dua tahap (Tersier dan Kuarter). Zaman es mulai menyusut dan makhluk-makhluk tingkat tinggi dan manusia mulai hidup.

Merujuk pada tarikh bumi di atas, sejarah terbentukya Kepulauan Indonesia melalui proses yang panjang dan rumit. Sebelum bumi didiami manusia, kepulauan ini hanya diisi oleh flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Alam juga harus menjalani evolusi terus-menerus untuk menemukan keseimbangan agar mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi alam dan iklim, sehingga makhluk hidup dapat bertahan dan berkembang biak mengikuti seleksi alam.

Gugusan kepulauan ataupun wilayah maritim seperti yang kita temukan sekarang ini terletak di antara dua benua dan dua samudra, antara Benua Asia di utara dan Australia di selatan, antara Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di belahan timur. Faktor letak ini memainkan peran strategis sejak zaman kuno sampai sekarang termasuk dalam proses terbentuknya Kepulauan Indonesia.

Menurut para ahli bumi, posisi pulau-pulau di Kepulauan Indonesia terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi tersebut berupa lava cair bersuhu sangat tinggi. Makin ke dalam tekanan dan suhunya semakin tinggi. Pada suhu yang tinggi itu material-material akan meleleh sehingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi ini terus-menerus bergejolak mempertahankan cairan sejak jutaan tahun lalu.

Ketika ada celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk lava cair. Ketika lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih dingin dari ribuan derajat menjadi hanya bersuhu normal sekitar 30 derajat. Pada suhu ini cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan kerak benua (daratan) dan kerak samudra selalu bergerak secara dinamis akibat tekanan magma dari perut bumi. Pergerakan unsur-unsur geodinamika ini dikenal sebagai kegiatan tektonis.

Baca Juga  Homo Wajakensis: Manusia Wajak

Sebagian wilayah Kepulauan Indonesia merupakan titik temu di antara tiga lempeng, yaitu Lempeng Indo-Australia di selatan, Lempeng Eurasia di utara dan Lempeng Pasifik di timur. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut dapat berupa subduksi (pergerakan lempeng ke atas), obduksi (pergerakan lempeng ke bawah) dan kolisi (tumbukan lempeng).

Pergerakan lain dapat berupa pemisahan atau divergensi (tabrakan) lempeng-lempeng. Pergerakan mendatar berupa pergeseran lempeng-lempeng tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang. Perbenturan lempeng-lempeng tersebut menimbulkan dampak yang berbeda-beda. Namun semuanya telah menyebabkan wilayah Kepulauan Indonesia secara tektonis merupakan wilayah yang sangat aktif dan labil sehingga rawan gempa sepanjang waktu.

Pada masa Paleozoikum (masa kehidupan tertua) keadaan geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini. Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudra yang sangat luas, meliputi hampir seluruh bumi. Pada fase berikutnya, yaitu pada akhir masa Mesozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu, kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempeng-lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal sebagai fase tektonis (orogenesa larami), sehingga menyebabkan daratan terpecah-pecah.

Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang terpisah satu dengan lainnya. Sebagian di antaranya bergerak ke selatan membentuk pulau-pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia.

Sebagian pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor, Kepulauan Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut telah mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil. Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk rangkaian Kepulauan Indonesia pada masa Tersier sekitar 65 juta tahun lalu.

Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa telah tenggelam menjadi laut dangkal sebagai akibat terjadinya proses kenaikan permukaan laut atau transgresi. Sulawesi pada masa itu sudah mulai terbentuk, sementara Papua sudah mulai bergeser ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu gamping.

Pada kala Pliosen sekitar lima juta tahun lalu, terjadi pergerakan tektonis yang sangat kuat, yang mengakibatkan terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (atau mungkin lebih tepat terbentuk) rangkaian perbukitan struktural seperti perbukitan besar (gunung), dan perbukitan lipatan serta rangkaian gunung api aktif sepanjang gugusan perbukitan itu.

Terbentuknya Kepulauan Indonesia: Aktivitas Tektonik dan Vulkanis

Kegiatan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa Pleistosen, yang dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-Pleistosen. Kegiatan tektonis ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia dan menjadi aktivitas penting dalam proses terbentuknya Kepulauan Indonesia. Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke sepanjang Pulau Jawa ke arah timur hingga Kepulauan Nusa Tenggara serta Kepulauan Banda. Kemudian terus membentang sepanjang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Pembentukan daratan yang semakin luas itu telah menyebabkan terbentuknya Kepulauan Indonesia pada kedudukan pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala Pliosen hingga awal Pleistosen (1,8 juta tahun lalu). Jadi pulau-pulau di kawasan Kepulauan Indonesia ini masih terus bergerak secara dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik vulkanis maupun tektonis.

Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang sangat tinggi. Kekayaan alam dan kondisi geografis ini telah mendorong lahirnya penelitian dari bangsa-bangsa lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna tersebut yang paling terkenal di antaranya adalah penelitian Alfred Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda berdasarkan ciri khusus baik fauna maupun floranya. Pembagian itu adalah Paparan Sahul di sebelah timur, Paparan Sunda di sebelah barat.

Zona di antara paparan tersebut kemudian dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan pembatas fauna yang membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna yang berada di sebelah barat garis pembatas itu disebut dengan Indo-Malayan region. Di sebelah timur disebut dengan Australia Malayan region. Garis itulah yang kemudian kita kenal dengan Garis Wallacea.

Merujuk pada tarikh bumi di atas, keberadaan manusia di muka bumi dimulai pada zaman Kuarter sekitar 600.000 tahun lalu atau disebut juga zaman es. Dinamakan zaman es karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sampai menutupi sebagian besar permukaan bumi dari Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara Peristiwa itu terjadi karena panas bumi tidak tetap, adakalanya naik dan adakalanya turun. Jika ukuran panas bumi turun dratis maka es akan mencapai luas yang sebesar-besarnya dan air laut akan turun atau disebut zaman Glasial. Sebaliknya jika ukuran panas naik, maka es akan mencair, dan permukaan air laut akan naik yang disebut zaman Interglasial.

Zaman Glasial dan zaman Interglasial ini berlangsung silih berganti selama zaman Diluvium (Pleistosen). Hal ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia, yang kemudian mempengaruhi keadaan bumi serta kehidupan yang ada diatasnya termasuk manusia, sedangkan zaman Aluvium (Holosen) berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang ini.

Baca Juga  Sarekat Islam (1912-1940)

Sejak zaman ini mulai terlihat secara nyata adanya perkembangan kehidupan manusia, meskipun dalam taraf yang sangat sederhana baik fisik maupun kemampuan berpikirnya. Namun demikian dalam rangka untuk mempertahankan diri dan keberlangsungan kehidupannya, secara lambat laun manusia mulai mengembangkan kebudayaan. Dengan mengetahui sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia, maka kita dapat memahami kehidupan pra-aksara manusia Indonesia.

Paparan Dan Cekungan Di Kepulauan Indonesia

Di dalam memahami terbentuknya kepulauan Indonesia, perlu diketahui bahwa Kepulauan Indonesia terbagi menjadi tiga bagian struktural yang mendasar; (1) di sebelah barat, mencakup paparan benua Sunda; (2) melekat pada tepian Samudra Indonesia, dan terbentang ke timur hingga ke Maluku, meliputi tatanan palung dan pegunungan berapi Sunda-Banda yang membentuk seperti busur; (3) di sebelah timur, mencakup tatanan busur gunung berapi di Sulawesi-Filipina dan Halmahera. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

terbentuknya kepulauan indonesia
Peta sketsa struktural Asia Timur, Australasia, dan Asia Tenggara yang memperlihatkan lempeng utama dan zona pelesakan (garis tebal dengan segitiga). Lempeng-lempengnya adalah sebagai berikut: Eu (Eurasia); Pa (Pasifik); Ca (Caroline); In-Au (India-Australia).

Paparan benua Sunda yang memiliki kawasan bawah laut terluas di dunia, mempunyai inti yang tua dan secara tektonis cukup stabil karena pada saat sekarang mengalami sedikit sekali kegiatan vulkanis. Sebagian besar kawasan ini sekarang terletak di bawah sedimen Laut Cina Selatan dan Laut Jawa, sebagai dataran luas yang terkikis oleh adanya erosi. Kawasan-kawasan darat yang timbul di atas inti paparan tua yang terbenam mencakup Semenanjung Malaka, Borneo dan dataran rendah pantai utara Sumatra dan Jawa.

Gunung-gunung berapi di Sumatra dan Jawa sebenarnya merupakan bagian dalam tatanan busur Sunda-Banda yang telah terbentuk sepanjang tepian paparan Sunda yang menghadap Samudra Indonesia. Suatu hal yang tepat untuk merujuk daratan sebelah barat Indonesia sebagai Daratan Sunda (Sundaland); suatu area yang tentu saja meliputi paparan Sunda dan sebagian besar busur Sunda-Banda sekarang.

Busur Sunda-Banda mencakup punggung dataran tinggi Sumatra, Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil dan merupakan salah satu busur gunung berapi yang paling mengagumkan di dunia. Ini terbentuk karena terbenamnya Lempengan Indonesia-Australia di bawah pulau-pulau Sumatra dan Jawa dan berlanjut ke derah timur hingga ke Maluku. Proses penenggelaman busur Sunda-Banda telah mengakibatkan pelengkungan pada dua rangkaian gunung yang paralel; yang sebelah dalam bersifat vulkanis dan yang sebelah luar merupakan sediman yang terangkat tanpa gunung berapi aktif.

Rangkaian dalam yang bersifat vulkanis mencakup 82 gunung berapi aktif yang terbentang dalam bentuk lengungan dari Sumatra melalui Jawa dan ke dalam Kepulauan Sunda Kecil dan Maluku. Di luar busur ini terdapat palung laut yang dalam dan di seberang palung ini terbentuk busur luar non-vulkanis yang menopang pulau-pulau kecil di lepas pantai barat Sumatra, begitu pula Sumba, Timor dan Tanimbar. Berdasarkan pada kenyataan ini, sehingga Kepulauan Indonesia memiliki dua kawasan struktural utama: paparan Sunda dan tatanan busur gunung Sunda-Banda yang merapat pada tepinya dan di seberangnya.

Tatanan busur gunung Sunda-Banda ini masih dalam tahap pembentukan aktif, seperti terlihat dari banyaknya letusan gunung berapi dan gempa bumi. Kawasan ketiga (mencakup bagian-bagian lain di Indonesia Timur) tidak begitu jelas terdefinisikan. Sulawesi dan Filipina terletak pada busur berganda serupa busur Sunda-Banda dan busru-busur lain seperti itu berlanjut ke utara ke sekitar tepian Pasifik Barat lewat Kepulauan Ryukyu, Jepang, dan Alaska. Sebagian dari busur berganda yang lebih kecil juga muncul di Halmahera dan lebih jauh ke arah Samudra Pasifik.

Persoalan-persoalan mengenai terbentuknya Kepulauan Indonesia telah mengundang perdebatan. Sejak tahun 1970-an Daratan Sunda merupakan hasil dari serangkaian busur vulkanis yang telah terbentuk sejak zaman Permian; yang paling awal diwakili oleh bagian paparan sebelah utara yang terkikis dan lebih tua, yang paling akhir merupakan busur Sunda-Banda yang mencapai konfigurasinya yang sekarang selama zaman Pliosen, saat kemunculan Pulau Jawa sedang berlangsung. Pandangan-pandangan yang lebih baru, menganggap Daratan Sunda merupakan serangkaian campuran formasi batuan pra-Cretaceous, beberapa berasal dari Tanah Gondwana (Gondwanaland), bukan semata-mata serangkaian busur vulkanis. Masalah ini merupakan suatu masalah yang kompleks namun tidak relevan secara keseluruhan apabila dibahas untuk memahami kehidupan pra-aksara manusia.

Akan tetapi, yang jelas ada satu aspek gerakan kontinental yang relevan, karena gerakan ini memungkinkan adanya campuran tumbuhan dan hewan yang berasal dari Asia dan Australasia yang amat berbeda. Pergerakan ke arah utara benua Australia tampaknya terus berlanjut dengan laju kira-kira 80-an km setiap 1 juta tahun sejak massa daratan ini mulai perjalannya ke utara dari Tanah Gondwana pada awal zaman Tersier. Akibatnya, mulai sekitar 20 juta tahun yang lalu benua Australia, atau setidaknya beberapa fragmen kerak bumi benua itu yang ikut bergerak, berbenturan dengan busur Banda dan belahan selatan Sulawesi.

Struktur geologi wilayah Timur Indonesia menjadi kompleks dalam terbentuknya Kepulauan Indonesia, karena sejarah panjang benturan-benturan lempengan bumi dan pergerakan pulau-pulau pecahan dari tepian lempengan Asia maupun Australia yang masuk ke wilayah ini (yang merupakan pecahan tepian lempengan Australia antara lain adalah bagian timur Pulau Sulawesi serta pulau-pulau Timor, Seram, Buru dan Kepualauan Sula). Pecahan bagian barat dan timur Pulau Sulawesi bergabung menjadi satu pada Kala Miosen, sekitar 15 juta tahun yang lalu, meskipun rekonstruksi lainnya menunjukkan bahwa keduanya berpisah sekitar 5 juta tahun terakhir.

Baca Juga  Perang Tondano (1661-1809)

Pada intinya apa pun yang menjadi awal terbentuknya Kepulauan Indonesia yang pasti ketika manusia pertama kali memasuki wilayah ini, bentuk kepulauan itu telah mencapai bentuk yang sekarang. Berdasarkan perkembangan manusia dan kehidupan lainnya, struktur-struktur geologi yang utama di atas kiranya dapat disusun ulang menjadi dua wilayah utama agar lebih relevan dalam mengkaji sejarah pra-aksara di Indonesia. Dua wilayah yang akan dibahas di bawah ini dalam keterkaitan sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia dengan kehidupan manusia pra-aksara di Indonesia adalah Daratan Sunda (Sundaland) dan Wallacea, dengan wilayah yang ketiga yaitu Daratan Sahul (Sahulland) sebagai batas timurnya.

Daratan Sunda (Sundaland)

Terbentuknya Kepulauan Indonesia tidak terlepas dari Daratan Sunda. Daratan Sunda mencakup kawasan-kawasan yang berada atau menempel pada paparan Sunda yang sekarang; Malaysia, Sumatra, Jawa, Borneo, Palawan, dan kelompok pulau kecil lainnya, seperti Kepulauan Riau dan Lingga. Batas timurnya ditandai dengan garis yang oleh para ahli biogeografi disebut dengan Garis Huxley. Garis Huxley ini berbeda dengan Garis Wallace yang lebih terkenal dan sudah ada terlebih dahulu, karena Garis Wallace membelok melalui selatan Kepulauan Filipina. Sebagian besar kawasan ini sekarang merupakan laut dangkal. Namun, pada masa Pleistosen yang berlangsung sangat lama dan terutama terjadi pada puncak zaman es sekitar 20.000 tahun lalu, sebagian terbesar dari kawasan ini (2,2 juta km2) menjadi daratan karena penurunan permukaan air laut.

Alur-alur sungai dan sedimen yang terbenam di dasar Laut Cina Selatan dan Laut Jawa memperlihatkan hal ini dengan jelas. Menurut garis-garis kedalaman dasar laut, ketika itu terdapat dua danau berair tawar yang luas; satu di sebelah utara Pulau jawa dan satu di Teluk Thailand. Garis Huxley terbentang antara Bali dan Lombok, antara Borneo dan Sulawesi, antara Borneo dan Kepulauan Sulu, lalu membujur ke utara, mencakup Pulau Calamian dan Palawan dan akhirnya menjauh masuk ke Samudra Pasifik antara Pulau Luzon dan Taiwan.

Tepi timur Daratan Sunda antara Borneo dan Sulawesi, sebagian ditandai oleh Karang Sunda Besar yang mengagumkan. Gugus karang yang sebagian terbenam itu terbentang dari Borneo ke arah Selat Makassar sampai 44 km dari Sulawsi dan karang ini tentunya tumbuh di atas garis pantai lama.

Garis Wallacea

Di dalam membahas tentang sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia, Garis Wallacea didefinisikan sebagai kawasan antara Garis Huxley dan Garis Webber. Garis Webber adalah garis di Indonesia bagian timur yang melalui wilayah-wilayah yang mempunyai perbandingan kira-kira 50:50 antara fauna Oriental dan Australia. Garis Wallacea mencakup semua pulau yang terletak antara paparan-paparan kontinental Daratan Sunda dan Daratan Sahul, yaitu Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dari Lombok ke timur, Sulawesi, Maluku dan Filipijna (termasuk Sulu tetapi Palawan tidak termasuk).

Garis Wallacea sendiri telah berevolusi sebagai zona ketidakstabilan lapisan luar yang dahsyat dan sekarang muncul sebagai sejumlah pulau yang dipisahkan oleh dua cekungan samudra yang dalam (terutama Laut Sulu, Laut Sulawesi, dan Laut Banda). Seluruhnya terbentuk oleh proses-proses pengangkatan dan penurunan yang cepat. Daerah ini tidak pernah menjadi jembatan darat yang berkelanjutan antara Asia dan Australia dan semua penyebaran fauna, flora dan manusia yang melaluinya tentu memerlukan penyebrangan melalui air.

Beberapa diantara laut-laut yang terkurung mempunyai ciri-ciri yang mengesankan; misalnya Laut Sulu, dalamnya mencapai 4633 m tetapi terkurung oleh tepian tinggi yang tidak pernah terbenam lebih dari 380 m di bawah permukaan laut. Ini berarti bahwa suhu lau tersebut tetap sama dari permukaan sampai ke dasar, tanpa pendinginan yang cepat sejalan dengan kedalamannya seperti di samudra-samudra besar.

Kepulauan yang tergabung di dalam Garis Wallacea timbul dari barisan punggung bukit bawah laut di kawasan tersebut, sedangkan laju pengangkatannya sangat cepat di beberapa tempat; karang-karang yang diduga bertarikh Pleistosen, telah dilaporkan dari ketinggian 1300 m di Timor dan banyak pulau mempunyai serangkaian teras pantai karang yang telah diperhitungkan timbul dengan laju pertumbuhan 0,5 m setiap 1000 tahun. Di sisi lain, karang-karang telah ditemukan pada kedalaman 1633 m di dasar Laut Seram, jadi penurunan sesar yang sangat besar juga telah terjadi.

Daratan Sahul (Sahulland)

Daratan Sahul pun perlu diketahui dan dipahami dalam mempelajari sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia. Daratan Sahul membentuk rangakaian yang dangkal, terbenam, dan secara tektonis merupakan jembatan stabil antara benua Australia dan Pulau Nugini yang luas. Pulau Nugini ini merupakan padanan Australasia bagi paparan Sunda. Daratan Sahul menegaskan massa tanah Nugini-Australia ketika keduanya menyatu selama masa-masa permukaan laut rendah. Perubahan-perubahan lingkungan di Daratan Sahul bagian utara, terutama selam masa Pleistosen dan Holosen selanjutnya, sangat signifikan untuk memahami peristiwa-peristiwa serupa di Daratan Sunda.

Daftar Bacaan

  • Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
error: Content is protected !!