Situs Sungai Baksoka

Situs Sungai BaksokaSitus Sungai Baksoka (Kali Baksoko) terletak di daerah Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Situs Sungai Baksoka adalah situs Pra-aksara dari masa paleolitikum dengan ditemukannya alat-alat yang terbuat dari batu. Situs ini pertama kalinya diekskavasi oleh Gustav Ralph von Koenigswald dan M.W.F Tweedie pada tahun 1935. Sungai Baksoka adalah salah satu sungai permukaan di kawasan Kars Gunung Sewu yang menampakan morfologi undak. Sebagian besar morfologi undak sudah hilang dikarenakan terkikis oleh banjir, endapan sungai teranyam kuarter berupa lempung hitam yang dialasi batu pasir gampingan (Formasi Oyo) Fomasi kalipucung yang terbentuk sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.

Ekskavasi Situs Sungai Baksoka

Sungai Baksoka adalah sungai terbesar yang berada di Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Di musim kemarau sungai ini dapat surut hingga nampak dasar sungainya, sedangkan pada musim penghujan air dapat mencapai ketinggian 2-3 meter dari dasar sungai. Penemuan alat-alat batu banyak dihasilkan oleh adanya pengikisan air terhadap dinding sungai dan juga terhadap permukaan tanah. Pengikisan ini tidak hanya disebabkan oleh arus sungai dan juga oleh air hujan.

Materi tanah di daerah ini sebagian besar didominasi oleh tanah gamping putih kekuningan. Pada kedalaman sekitar rata-rata 1 meter dari permukaan tanah, secara umum berupa tanah gembur yang berwarna coklat kemerahan, yang merupakan hasil pelapukan batu gamping yang di beberapa bagian masih melekat di atas batuan induknya.

Ekskavasi Tahun 1935-1936

Potensi akan adanya peninggalan dari zaman paleolitikum di Indonesia yang terletak di Punung telah diketahui pada tahun 1935. G. H. R. von Koenigswald dan W. M. F Tweedie melakukan perjalanan di sekitar Pegunungan Sewu di Jawa Timur untuk membuktikan adanya informasi dari van Stein Callenfels tentang artefak-artefak neolitikum. Pada saat keduanya menyebrangi dasar Sungai Baksoka yang sedang mengering, keduanya menemukan beberapa jenis kapak genggam. Penemuan keduanya kemudian diterbitkan oleh Ralph von Koenigswald pada tahun 1936.

Ekskavasi 1955

Pada tahun 1955, ekskavasi terhadap situs Sungai Baksoka dilanjutkan oleh H. R. van Heekeren dengan ditemukannya berbagai macam artefak yang terbuat dari batu. Artefak itu berasal dari Zaman Paleolitikum atau yang dikenal juga periode Masa Berburu dan Mengumpul Makanan Tingkat Sederhana. Artefak-artefak yang terbuat dari batu ini kemudian dikenal dengan Kebudayaan Pacitan. Perlu diketahui Sungai Baksoka merupakan situs perbengkelan Kapak Genggam era Paleolitikum.

Ekskavasi Selanjutnya

Sungai Baksoka memiliki kandungan artefak yang sangat padat seperti terlihat pada awal penemuannya oleh Ralph von Koenigswald yang telah mengumpulkan 3.000 artefak dari situs ini. Pada penelitian-penelitian sesudahnya hingga sekarang pengumpulan artefak masih terus berlanjut menyebabkan artefak Kali Baksoka tersebar luas di berbagai instasi dan koleksi pribadi di berbagai negara. Kondisi ini menyebabkan kandungan artefak situs semakin terkuras. Sekarang penemuan artefak di permukaan situs ini sudah semakin sulit kecuali sehabis hujan dimana air hujan yang deras menggerus dasar dan teras sungai sungai menyebabkan munculnya artefak di permukaan.

sungai baksoka

Pengamatan yang telah dilakukan oleh tim ekskavasi pimpinan Movius di lembah Kali Baksoko menetapkan adanya tiga susunan undak-undak sungai, yang sisa- sisanya masih tampak di beberapa tempat saja. Undak terendah (T3), yang berada kira- kira 1,50-2 m di atas permukaan sungai, terutama mengandung tanah lempung. Undak kedua (T2), kira-kira pada ketinggian 10 m, tersusun dari batu-batu kerikil dan lempung berwarna merah dengan lapisan dasar batu-batu kerakal. Undak tertinggi (T1), pada ketinggian kira-kira 16-20 m, tersusun dari sisa-sisa kerakal yang telah aus bercampur lempur merah.

Baca Juga  Peradaban Cina Kuno

Undak-undak Sungai di lembah Kali Baksoko telah khusus diperhatikan dalam studi tentang perkembangan alat-alat Pacitanian. H. R. van Heekeren termasuk salah seorang yang menggiatkan pengamatan terhadap undak-undak sungai di daerah Punung. Ia berkesimpulan bahwa di lembah-lembah Kali Baksoko, Kali Gede, dan Kali Sunglon, terdapat empat undak sungai (atau empat tingkat ketinggian) yang mengandung alat-alat yang sesuai dengan ciri kebudayaan Pacitan. Tingkat ketinggian antara 15-20 m dianggapnya sangat penting karena mengandung jenis-jenis alat tertua.

G.J. Bartstra memperluas daerah penelitian alat-alat Pacitanian ke sebelah utara ke lembah Kali Baksoko, yaitu di lembah Kali Pasang dan Kali Wuni, yang berasal dari lapisan-lapisan kerakal di tingkat atas. Bartstra memerhatikan adanya sebelas buah undak sungai di Kali Baksoko, satu buah di lembah Kali Wuni dan sebanyak-banyaknya tujuh buah lembah di lembah Kali Pasang.

Pada tahun 1978 Sartono telah mengadakan gabungan metode penelitian dalam melakukan studi terhadap undak- undak kali Baksoko, yaitu penelitian lapangan dan analisis foto udara. Sartono berpendapat bahwa di lembah Kali Baksoko terdapat enam buah undak sungai, yang terendah (T1) berada pada 0-4 m di atas permukaan sungai, dan yang tertinggi (T6) terletak antara 134-156 m di atas permukaan sungai. Undak T4 Sartono rupa-rupanya setingkat dengan T1 van Heekeren sebagai undak sungai tertinggi yang mengandung alat-alat Pacitanian.

Perbengkelan Paleolitikum

Sisa-sisa kehidupan pada masa Plestosen menunjukan kemampuan manusia yang terbatas dalam memanfaatkan bahan-bahan yang telah disediakan oleh alam sekitarnya. Alat-alat keperluan hidup dibuat dari kayu, batu, dan tulang dengan pembuatan yang sederhana, sekedar memenuhi tujuan penggunaannya. Alat-alat tadi terutama digunakan untuk pencarian dan pengolahan bahan makanan yang berupa daging binatang dan umbi-umbian. Usaha pokok yang dilakukan oleh manusia ialah dengan cara-cara apakah dan bagaimana ia dapat mempertahankan hidupnya, dan daya upaya manusia khususnya dikembangkan dalam segi kehidupan ekonominya.

Teknologi pada tingkat permulaan mengutamakan segi praktis. Sesuai dengan tujuan penggunaan saja, yang makin lama makin meningkat kea arah penyempurnaan bentuk perkakas-perkakas keperluan hidup. Pada taraf peningkatan ini, yang bukti-buktinya terutama ditemukan di Eropa, tampak kecenderungan ke arah pengutaraan rasa keindahan dan rasa keterikatan pada peristiwa-peristiwa alam. Kondisi ini menjadi landasan dari beberapa segi kehidupan rohani manusia, yaitu seni dan kepercayaan, yang pada akhir kala Plestosen telah terbentuk nyata dan tampak antara lain sebagai seni lukis di dinding-dinding gua dan tata cara penguburan.

Corak kehidupan Plestosen tidak dapat diikuti kembali seluruhnya diberbagai tempat, kecuali beberapa aspeknya saja. Terutama segi teknologi masa-masa hidup berburu tingkat sederhana ini (teknologi paleolitikum) dapat dijangkau kembali melalui hasil-hasil karya manusia yang tersisa. Khususnya benda-benda peninggalan yang dibuat dari batu dalam berbagai bentuk, dapat dipelajari dari sejak pembuatannya yang mula-mula sekali sampai ke perkembangan teknik pembuatannya dapat dikuti dengan seksama.

Pada tradisi pembuatan alat-alat pada tingkat ini, di Indonesia dikenal dua macam bentuk pokok, yaitu teknik perkakas batu yang disebut tradisi kapak perimbas dan tradisi serpih, yang dikembangkan sejak kala Plestosen tengah. Pada tingkat kala Plestosen akhir ditemukan tanda-tanda pembuatan alat-alat dari tulang dan alat-alat yang terbuat dari tanduk. Bukti-bukti dari benda yang terbuat dari kayu tidak dapat ditemukan, mengingat bahannya yang sangat mudah lapuk sehingga tidak ada satu pun alat-alat dari kayu yang tersisa hingga saat ini.

Baca Juga  Peradaban India Kuno: Lembah Sungai Indus Dan Gangga

Alat-alat Kebudayaan Pacitan Yang Ditemukan di Sungai Baksoka

Selama tahun 1935 berdasarkan ekskavasi yang dilakukan oleh Ralph von Koenigswald ditemukan sejumah alat-alat dari batu. Alat-alat semacam yang ditemukan itu dinamakan kapak genggam, yaitu alat yang memiliki bentuk serupa dengan kapak tetapi tidak bertangkai, dipergunakannya ialah dengan digenggam dalam tangan. Di antara kapak-kapak itu ada yang dikerjakan kasar sekali, sekedar mencukupi keperluan saja, ada pula yang lebih banyak dikerjakan, bukti bahwa memang sungguh-sungguh ada kepandaian untuk membuat alat dari bahan seadanya.

Alat-alat yang diidentifikasi sebagai kebudayaan Pacitan ini dalam ilmu pra-aksara biasa disebut chopper yang artinya alat penetak. Sayangnya alat-alat itu semuanya ditemukan di permukaan bumi, sehingga dari lapisan mana asalnya yang sebenarnya menjadi soal. Pun apakah semua alat-alat yang bermacam-macam itu merupakan satu kebudayaan atau berasal dari berbagai tingkat kebudayaan, mula-mula tak dapat diketahui penyelidikan yang teliti sekali menunjukkan bahwa asalnya dari lapisan Trinil, jadi Plestosen tengah.

Seperti yang diketahui, dari lapisan ini berasal pula Pithecanthropus erectus, oleh karena itu kebudayaan hanya ada pada manusia, maka alat-alat Pacitan itu harus pula ada manusianya yang telah membuatnya. Sehingga muncullah pertanyaan apakah jenis manusia Pithecanthropus berkebudayaan alat-alat Pacitan itu. Hal ini mula-mula disangsikan. Dari seluruh zaman Plestosen di Indonesia belum pernah terdapat, bahwa suatu alat ditemukan bersama-sama dengan fosil manusia, sehingga sukar ditarik kesimpulan bahwa kedua macam penemuan itu memang ada hubungannya, artinya bahwa alat yang ditemukan itu memang kepunyaan manusia yang berasal dari lapisan bumi yang sama.

Hanya ditempat lain diluar Indonesia terdapat sedikit petunjuk. Didekat Peking (Tiongkok) ditemukan di dalam gua-gua di Choukoudian sejumlah fosil manusia yang boleh dikatakan serupa dengan Pithecanthropus Erectus, jenis manusia itu diberi nama Sinanthropus Pekinensis. Bersama-sama dengan bekas-bekas hominidae itu ditemukan banyak alat-alat batu. Hal ini menunjukan bahwa alat-alat tersebut memang berasal dari Sinanthropus tadi. Oleh karna itu alat-alat itu seragam dan serupa betul dengan alat-alat Pacitan, maka kesimpulan kita ialah bahwa tidak mustahil Pithecanthropus itu memang berkebudayaan alat-alat yang didapatkan didekat Pacitan itu, dengan lain perkataan “Kebudayaan Pacitan itu adalah kebudayaan Pithecanthropus”. Alat-alat Pacitan demikian itu ditemukan pula di Parigi dan Gombang (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat) dan di daerah Lahat (Sumatra Selatan).

Penelitian tentang Kebudayaan Pacitan dilanjutkan pada tahun-tahun 1953 dan 1954 oleh van heekeren, Soejono, dan Basoeki. Daerah lembah Kali Baksoko diteliti kembali dan tempat-tempat baru yang mengandung alat-alat Budaya Pacitan telah ditemukan di sekitar Desa Tabuhan, yang terletak kurang lebih 6 km barat laut Punung. Ekskavasi telah dilaksanakan di Gua Songterus (Tabuhan) dalam pencarian alat-alat paleolitik pada tahun 1953. Akan tetapi, hasil-hasil yang di peroleh berupa perkakas-perkakas neolitikum, diantaranya terdapat beberapa alat yang diserpih dari satu jenis kapak paleolitikum dan sisa-sisa tulang binatang, antara lain tengkorak-tengkorak monyet dan gigi gajah (Elephas maximus).

Penelitian di lembah Kali Baksoko berhasil dalam pengumpulan alat-alat batu di dasar sungai. Di dekat Desa Janglot telah di temukan alat-alat batu di undak sungai, pada ketinggian 4 m dan 15-20 m di atas dasar sungai. Undak yang tertinggi mengandung batu kerikil lateritik dan tertutup lempung merah beberapa meter tebalnya.

Alat-alat batu juga dikumpulkan dari dasar Kali Ngambar (anak sungai Sungai Baksoka) dan dari lapisan kerakal yang berada di tepinya pada ketinggian kira-kira 1,5 m. Penemuan di undak-undak sungai ini penting karena dengan demikian dapat diketahui posisi alat-alat batu di tempat-tempat yang dapat dipandang sebagai tempat peninggalan aslinya. Tetapi alat-alat dari undak-undak sungai yang dibuat dari batuan gamping keresikan, tampak utuh dan berwarna kemerah-merahan, karna letaknya dalam lempung merah.

Baca Juga  Zaman Neolitikum di Indonesia

Alat di undak tertinggi rupa-rupanya dibuat waktu pembentukan bukit-bukit gamping sedang berlangsung dan sungai belum sampai mengiris lebih dalam di daerah alirannya. Pada saat bukit-bukit gamping itu terbentuk, hewan-hewan fauna Trinil telah hidup didaerah ini, terbukti dengan penemuan fosil-fosil fauna tersebut di celah-celah bukit. Alat-alat dari kebudayaan Pacitan yang berhasil dikumpulkan oleh Koenigswald telah digolongkan oleh Movius.

Ciri-Ciri Alat Kebudayaan Pacitan Yang Ditemukan Di Sungai Baksoka

Berikut ciri-ciri umum pada alat-alat batu Budaya Pacitan yang ditemukan di lembah Kali Baksoko (Sungai Baksoka) antara lain:

Kapak Perimbas

Alat ini tajamannya yang berbentuk koneks (Cembung) atau kadang- kadang lurus diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kuit batu masih melekat pada sebagian besar permukaan batunya. Kapak perimbas ini sebagian besar masih mengandung kulit batu. Hal ini memberikan gambaran bahwa alat ini mengalami pemangkasan langsung untuk mendapatkan bagian tajaman, yaitu dengan membenturkannya ke batu lain.

Di dalam upaya pembentukan bagian tajam tersebut, kapak perimbas dipangkas secara monofasial, yang biasanya dibentuk bundar, semi oval maupun lurus.

Kapak Penetak

Alat ini disiapkan dari segumpal batu yang tajamannya dibentuk liku-liku melalui penyerpihan yang dilakukan selang-seling pada dua sisi pinggiran. Seperti cara pembuatan yang dilakukan terhadap kapak perimbas, alat ini dibuat dengan cara membenturkannya dengan batuan lain. Perbedaan yang jelas antara pembuatan kapak penetak dengan kapak perimbas adalah di dalam kapak penetak pemangkasan dilakukan secara bifasial. Kadang-kadang pemangkasan pun dilakukan secara silang siur, sehingga akan menghasilkan bagian tajaman yang membentuk huruf “W” yang melebar.

Pahat Genggam

Bentuk alat ini mendekati bujur sangkar atau persegi empat panjang. Tajamannya disiapkan melalui penyerpihan terjal pada permukaan atas menuju pinggiran batu.

Kapak Genggam Awal

Pemangkasan dilakukan pada satu permukaan batu untuk memperoleh tajaman. Bentuk alat ini meruncing dan kulit batu masih melekat pada pangkal alatnya sebagai tempat berpegang. Pada umumnya alat ini disiapkan dari serpih besar. Alat ini hampir berbentuk segitiga dengan salah satu sisinya yang agak melengkung.

Kapak Genggam

Kapak genggam ini dibuat dari gamping kersikan dan berbentuk lonjong, pemangkasan dilakukan memajanjang kearah ujungnya yang meruncing meliputi hampir seluruh permukaan batu dengan meninggalkan sebagian kulit batu pada sebuah sisi permukaan.

Alat Serpih

Jenis-jenis alat tadi memperlihatkan bentuk-bentuk variasinya sendiri pada kelompok-kelompok lokal budaya kapak perimbas. Alat-alat yang merupakan unsur penting pula dalam kompleks kapak perimbas alat-alat serpih. Bentuk alat-alat serpih yang dibuat masih tergolong sederhana (tipe serpih Clacton) dengan ciri-ciri khusus dataran pukul (striking-platform), kerucut pukul (bulb of percussion), tatu serpih (bulbar scar), alur serpih (ripples) dan celah serpih (fissures).

Di dalam berbagai ciri dari alat serpih yang ditemukan di Sungai Baksoka, dapat dikatakan merupakan alat serpih sampai dengan ukuran yang terkecil. Sebuah bilah yang ditemuukan mempunyai bentuk memanjang, dengan penampang segitiga berukuran panjang 7,6 cm. Berdasarkan bentuknya yang memanjang, maka bilah ini diperkirakan memiliki fungsi sebagai alat penusuk.

Demikianlah penjelasan terhadap situs Sungai Baksoka (Kali Baksoko) yang merupakan situs peninggalan masa paleolitikum di Indonesia.

Daftar Bacaan

  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Soejono, R.P. 2000. “Tinjauan Tentang Perkerangkaan Prasejarah Indonesia” dalam Aspek-aspek Arkeologi Indonesia No. 5. Departemen Pendidikan Nasional Pusat Arkeologi.
  • Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius.
error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca