sumber sejarah kerajaan tarumanegara

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara (358-669 M): Daftar Lengkap

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara terdiri dari peninggalan berupa prasasti, sumber-sumber asing seperti yang berasal dari Tiongkok maupun naskah-naskah kuno lokal. Di dalam artikel ini akan dijelaskan tentang Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara.

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara Yang Berasal dari Luar Negeri

Sumber-sumber asing tentang Tarumanegara terutama yang berasal dari berita Tiongkok antara lain:

Berita Fa-Hsien

Pada tahun 414 Fa-Hsien dalam bukunya yang berjudul Fa-Kao-Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, sebagian banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan sebagian masih animisme.

Berita Dinasti Sui

Di dalam catatan Dinasti Sui menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To- lo-mo yang terletak di sebelah selatan.

Berita Dinasti Tang

Di dalam catatan Dinasti Tang, sebagaimana catatan Dinasti Sui juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.

Dari tiga berita di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa istilah To-lo-mo ditranskripsikan sebagai Tarumanegara.

Sumber Sejarah Kerajaan Tarumanegara Dari Dalam Negeri

Selain berasal dari sumber-sumber asing dari Tiongkok, berikut ini adalah sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara yang berupa prasasti;

Prasasti Pasir Muara (Muara Cianteun)

Prasasti Pasir Muara terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah). Prasasti ini ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti ini ditemukan di Pasir Muara yang berada di persawahan, terletak di tepi Sungai Cisadane dan terletak ± 50 m ke muara Cianten. Prasasti terletak ± 600 m sebelah utara dari Prasasti Kebon Kopi, dengan keletakan tanah lebih rendah ± 10 m. Objek masih berada di tempat asal (insitu), berada 2 m dari tebing sebelah baratdaya Sungai Cisadane. 

Prasasti Pasir Muara ini berisi pesan bahwa pada tahun 458 Saka atau 536 M, pemerintahan negara telah dikembalikan ke Kerajaan Sunda.
Di dalam prasasti itu dituliskan :

Teks: ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda.

Terjemahannya menurut Bosch:

Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan negara dikembalikan kepada raja Sunda.

Prasasti Ciaruteun

sumber sejarah kerajaan tarumanegara
Prasasti Ciaruteun, salah satu sumber Kerajaan Tarumanegara berupa prasasti

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, kira-kira seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane, namun pada tahun 1981 prasasti ini diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

Teks: vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahannya menurut Vogel:

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Prasasti Telapak Gajah/Prasasti Kebon Kopi I

Prasasti Kebonkopi I atau Prasasti Tapak adalah prasasti peninggalan Tarumanegara yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 400 dan ditemukan di daerah Kampung Muara (sekarang: Desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor) oleh para penebang hutan pada abad ke-19 ketika mereka akan membuka lahan untuk membudidayakan tanaman kopi milik Jonathan Rig.

Teks: jayavisalasya Tarumendrasya hastinah, Airwavatabhasya vibhatidam padadvayam

Terjemahan: Di sini nampak tergambar sepasang telapak kaki …yang seperti Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam….dan (?) kejayaan.

Prasasti Pasir Koleangkak (Prasasti Jambu)

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti pasir koleangkak ini pun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

Teks: shriman data kertajnyo narapatir – asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam – padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam – bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel:

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Prasasti Cidanghiyang/Prasasti Munjul

Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.

Teks: Vikranto ‘yam vanipateh/prabhuh satya parakramah narendra ddhvajabhutena/ srimatah purnnawvarmanah

Terjemahan: Inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari raja dunia, yang Mulia Purnawarman yang menjadi panji sekalian raja-raja.

Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi atau Prasasti Cemperai adalah bukti peninggalan Tarumanegara yang juga ditemukan oleh N.W. Hoepermans pada tahun 1864. Prasasti ini ditemukan di lereng selatan bukit Pasir Awi, kawasan hutan perbukitan Cipamingkis, Sukamakmur, Bogor. Sama seperti Prasasti Muara Cianteun, Prasasti yang berada di atas bukit ini juga tak mengungkap sedikitpun sejarah Tarumanegara. Pasalnya, ia hanya berisi pahatan gambar dahan, ranting, daun, dan buah-buahan, serta sepasang telapak kaki.

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut dipahat sehubungan dengan selesainya pembangunan Sungai Candrabaga dan Gomati.

Teks:

pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya candrabhagarnnavam yayau//
pravarddhamane dvavingsad vatsare sri gunau jasa narendradhvajabhutena srimata purnavarmmana//
prarabhya phalguna mase khata krsnastami tithau caitra sukla trayodasyam dinais siddhaikavingsakaih
ayata satsahasrena dhanusamsasatena ca dvavingsena nadi ramya gomati nirmalodaka//
pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim brahmanair ggo sahasrena prayati krtadaksina//

Terjemahan:

“Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memilki lengan kencang serta kuat yakni Purnnawarmman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah kali (saluran sungai) ini sampai di istana kerajaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (maka sekarang) dia pun menitahkan pula menggali kali (saluran sungai) yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah kali (saluran sungai) tersebut mengalir melintas di tengah-tegah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda (Raja Purnnawarmman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paro-gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paro terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan saluran galian tersebut panjangnya 6122 busur. Selamatan baginya dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.

Demikianlah penjelasan tentang sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara baik berupa sumber-sumber asing maupun yang berasal dari prasasti peninggalan.

Daftar Bacaan

  • Groeneveldt. W. P. 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu. 
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto (ed.). 2011. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Hindu. Jakarta: Balai Pustaka.
error: Content is protected !!