Tarusbawa (669-723 M)

Tarusbawa: Masa Peralihan Kerajaan Tarumanegara ke Kerajaan Sunda

Tarusbawa – Raja Tarusbawa adalah raja terakhir dari Kerajaan Tarumanegara yang berkuasa sejak tahun 669 M untuk menggantikan mertuanya, Raja Linggawarman. Sebagaimana diketahui, bahwa Tarusbawa sebenarnya adalah raja dari Kerajaan Sunda Sembawa yang berpusat di ibukota Kerajaan Tarumanegara dahulu pada masa Raja Purnawarman, yakni Sundapura. Tarusbawa menikahi putri dari Raja Linggawarman yang bernama Dewi Minawati. 

Raja Tarusbawa, Raja Terakhir Kerajaan Tarumanegara

Raja Terakhir Tarumanegara

Setelah Linggawarman wafat, Tarusbawa-lah yang melanjutkan pemerintahan di Kerajaan Tarumanegara atas nama istrinya Dewi Minawati. Selain itu, Tarusbawa juga masih tetap berstatus sebagai raja dari Kerajaan Sunda Sembawa. Tarusbawa dilantik sebagai raja di Kerajaan Tarumanegara pada tahun 669 M dengan gelar Sri Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya Sundasembawa.

Setelah upacara pelantikan sebagai raja di Kerajaan Tarumanegara pada tahun 669 M, Tarusbawa kemudian mengirimkan utusannya ke berbagai negeri di Kepulauan Nusantara, India dan Cina, Champa, Sanghyang Ujung, dan Ghaudi. Hal ini adalah hal yang rutin selalui dilakukan oleh raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Tarumanegara untuk memberitakan pergantian kekuasaan. Pada tahun 672 M, Tarusbawa berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan Dapunta Sri Jayanasa dari Kerajaan Sriwijaya. Hubungan ini disebabkan oleh status keduanya yang merupakan menantu dari Raja Linggawarman.

Tarusbawa Merubah Nama Kerajaan Tarumanegara Menjadi Kerajaan Sunda

Tarusbawa yang telah dilantik sebagai penguasa di Kerajaan Tarumanegara dan sekaligus juga masih menjadi raja di Kerajaan Sunda Sembawa merasa bahwa mengendalikan dua birokrasi sekaligus adalah hal yang merepotkan, sehingga ia memilih untuk menggabungkan kedua birokrasi ini menjadi satu struktur yang berada langsung di bawah kendalinya. Tarusbawa kemudian menanggalkan statusnya sebagai raja Kerajaan Sunda Sembawa dan mengambil alih kepemimpinan di Kerajaan Tarumanegara (mungkin ini direstui pula oleh sang istri, Dewi Minawati). 

Selain disebabkan oleh ruwetnya persoalan birokrasi, Tarusbawa pun juga terinspirasi oleh kejayaan yang pernah dicapai oleh raja terbesar Kerajaan Tarumanegara, yakni Purnawarman yang berhasil menjadikan Kerajaan Tarumanegara sebagai kerajaan yang kuat dan tangguh. Raja Purnawarman sendiri pada saat itu menjadikan Sundapura sebagai ibukota Kerajaan Tarumanegara. Berdasarkan pada hal inilah Tarusbawa kemudian mengganti nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda pada tahun 669 M. 

Terpecahnya Wilayah Kerajaan Tarumanegara

Setelah digantinya nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda, pada tahun 670 M, Raja Kerajaan Galuh, Wretikandayun mengirimkan utusannya ke ibukota Tarumanegara untuk bertemu dengan Tarusbawa. Di dalam suratnya itu, Wretikandayun menyatakan ingin melepaskan diri dari Kerajaan Sunda. Namun, di dalam surat itu, Wretikandayun menjelaskan bahwa sesungguhnya mereka (Tarumanegara dan Galuh) adalah saudara yang berasal dari satu leluhur. Wretikandayun menginginkan kerajaannya berdiri sendiri namun, tidak menganggap Kerajaan Sunda sebagai musuh, melainkan harus memperkuat persahabatan diantara keduanya.

Di dalam surat itu, Wretikandayun juga menjelaskan bahwa daerah-daerah yang termasuk ke sebelah barat Sungai Taruma adalah daerah kekuasaan Kerajaan Sunda sedangkan daerah timur adalah wilayah Kerajaan Galuh. Wretikandayun juga memperingatkan kepada Tarusbawa agar tidak memusuhi dan menyerang Kerajaan Galuh, sebab Kerajaan Galuh memiliki angkatan perang yang berjumlah tiga kali lebih besar dibandingkan angkatan perang Kerajaan Sunda. Selain itu, Kerajaan Galuh juga didukung oleh beberapa kerajaan yang terletak di Pulau Jawa bagian tengah dan Timur.

Wretikandayun mengharapkan persaudaraan dengan Tarusbawa dan bersama-sama mengharapkan kedua kerajaan dapat mencapai kemakmuran dan dijauhkan dari bahaya. Wretikandayun memahami sifat dari Tarusbawa yang sangat menghindari konflik dalam segala permasalahan sehingga Wretikandayun merasa yakin bahwa Tarusbawa akan memahami maksud dan tujuannya untuk memisahkan diri dari Kerajaan Sunda.

Dalam tempo beberapa hari saja, Tarusbawa segera menanggapi surat Wretikandayun dengan menyetujui permintaan dari Wretikandayun. Seketika itu pula, Jawa bagian barat terbagi menjadi dua kerajaan besar, di sisi barat laut ke timur hingga Sungai Taruma (Sungai Citarum) merupakan wilayah Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Tarusbawa. Sedangkan wilayah timur Sungai Citarum hingga Sungai Cipamali menjadi wilayah kerajaan Galuh di bawah pimpinan Wretikandayun.

Berpindahnya Pusat Kerajaan Sunda dari Sundapura ke Pakuan

Setelah menyetujui pemisahan kerajaan dengan Wretikandayun, Tarusbawa kemudian memindahkan ibukota Kerajaan Sunda dari Sundapura ke Pakuan. Di Pakuan, Tarusbawa mendirikan lima buah keraton yang mana bentuk dan ukuran kelima keraton itu sama. Kelima keraton itu kemudian diberi nama Sri Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Setelah pembangunan keraton selesai, Tarusbawa kemudian diberkati oleh Pujangga Sedamanah.

Setelah perpindahan ibukota Kerajaan Sunda dari Sundapura ke Pakuan dan berhasil mendirikan keraton di ibukota baru itu, Tarusbawa kemudian berupaya untuk menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Dapunta Hyang Sailendra. Pada tahun 672 M, Kerajaan Sunda berhasil menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sriwijaya, hal ini tentu saja mudah sebab keduanya merupakan sesama menantu dari Raja Linggawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

Tarusbawa dan Dewi Manasih memiliki seorang putra tertua yang bernama Rakryan Sunda Sambawa. Rakryan Sunda Sambawa telah dijadikan putera mahkota Kerajaan Sunda dan kelak mewarisi takhta Kerajaan Sunda apabila Tarusbawa mangkat. Namun, Rakryan Sunda Sambawa meninggal terlebih dahulu dan meninggalkan seorang anak perempuan yang bernama Nay Sekarkancana (Sekar Kancana/ Teja Kancana Ayupurnawangi). Dengan meninggalnya Rakryan Sunda Sambawa terlebih dahulu dibandingkan dengan Tarusbawa, maka takhta Kerajaan Sunda jatuh kepada cucu Tarusbawa, yaitu Nay Sekarkancana. 

Karena telah merasa dirinya sudah lanjut usia, maka Tarusbawa segera menjodohkan cucunya, Nay Sekarkancana dengan Rahyang Sanjaya dari Kerajaan Galuh. Rahyang Sanjaya adalah anak dari Sena dan Sanaha. Sena sendiri adalah Raja Kerajaan Galuh yang ketiga menggantikan ayahnya, Mandiminyak pada tahun 709 M. Namun, pada tahun 716 M Sena dikudeta oleh saudaranya, Purbasora. Sena dan Purbasora sebenarnya adalah saudara satu ibu, namun berbeda ayah. Setelah kudeta itu, Sena dan keluarganya melarikan diri dan meminta perlindungan kepada Tarusbawa.  

Tarusbawa menerima kedatangan keluarga Sena dan memberikan dukungan kepada Sena untuk merebut kembali takhta Kerajaan Galuh dari tangan Purbasora. Setelah pernikahan antara Sekar Kancana dan Rahyang Sanjaya, Tarusbawa meninggal pada tahun 723 M di usia 91 tahun. Takhta Kerajaan Sunda kemudian dilanjutkan oleh Rahyang Sanjaya yang memerintah atas nama istrinya, Sekar Kancana.  Sanjaya yang masih menaruh dendam kepada Purbasora karena mengkudeta ayahnya sebagai Raja Kerajaan Galuh, berhasil merebut takhta Kerajaan Galuh pada tahun 747 M dengan bantuan tentara Kerajaan Sunda.

error: Content is protected !!