Abad Penjelajahan (15-17 M)

Abad Penjelajahan – Abad Penjelajahan (Age of Exploration/ Age of Discovery) adalah masa yang terjadi sejak pertengahan abad ke-15 sampai dengan memasuki pertengahan abad ke-17 (atau sekitar tahun 1418-1620) yang dilakukan oleh orang-orang Eropa. Selama periode ini, para penjelajah Eropa melakukan banyak pelayaran berani yang akhirnya dapat mengubah sejarah dunia. Para penjelajah dari Eropa ini pada akhirnya berhasil mengeksplorasi daerah-daerah di penjuru dunia seperti Amerika, Asia dan Afrika.

Eksplorasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa ini diawali dengan eksplorasi yang dilakukan oleh Spanyol dan Portugis yang berhasil mengeksplorasi negeri yang luas khususnya di Amerika. Keberhasilan dari Portugis dan Spanyol ini selanjutnya diikuti oleh Belanda, Inggris, Prancis dan mengadopsi prinsip-prinsip kolonialisme. Eksplorasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa di luar Laut Mediterania sebenarnya telah dimulai dengan ekspedisi maritim yang dilakukan oleh Portugis ke Kepulauan Canary tahun 1336, dan kemudian dengan penemuan orang-orang Portugis di Kepulauan Atlantik Madeira dan Azores di Pantai Barat Afrika pada tahun 1434, dan pembentukan rute laut menuju India pada tahun 1498 yang dilakukan oleh Vasco da Gama, yang memprakarsai eksplorasi maritim dan perdagangan Portugis di Kerala dan Samudera Hindia pada tahun 1498.

Faktor terpenting dari Abad Penjelajahan adalah ekpedisi yang dilakukan oleh Spanyol ketika melakukan pelayaran trans-atlantik di bawah pimpinan Christopher Colombus pada tahun 1492 dan 1504 yang menjadi gerbang penjelajahan di benua Amerika sepanjang tahun 1519 dan 1522. Pelayaran Colombus ini dianggap sebagai pencapaian besar dalam ilmu pelayaran dan berdampak signifikan pada pemahaman bangsa Eropa tentang dunia. Penemuan ini menyebabkan banyak ekspedisi maritim yang dilakukan bangsa Eropa melintasi Samudera Atlantik, Samudra India dan Samudra Pasifik. Selain ekspedisi maritim, ekspedisi darat pun dilakukan di benua Amerika, Asia, Afrika dan Australia yang berlangsung hingga akhir abad ke-19, dan diikuti dengan melakukan penjelajahan ke wilayah kutub pada abad ke-20.

abad penjelajahan
Ilustrasi Keberangkatan Pertama Columbus dari Pelabuhan Palos pada Tanggal 3 Agustus 1492.

Eksplorasi yang dilakukan oleh bangsa Eropa menyebabkan munculnya perdagangan internasional, membentuk kerajaan kolonial Eropa dengan kontak yang terjadi antara Dunia Lama (Eropa, Asia dan Afrika) dan Dunia Baru (Amerika), begitu juga dengan Australia yang menyebabkan Coloumbian Exchange (perpindahan tanaman, hewan, makanan, populasi manusia, penyakit menular dan budaya) antara Dunia Timur dengan Dunia Barat. Abad Penjelajahan telah memungkinkan pemetaan dunia, menghasilkan pandangan baru terhadap dunia dan memungkinkan hubungan antara peradaban yang terpisah. Pada saat yang sama, penyakit pun mulai tersebarkan yang menyebabkan hancurnya populasi, khususnya penduduk asli Amrika. Abad Penjelajahan ini menyebabkan luasnya praktik perbudakan, eksploitasi, penaklukan militer terhadap penduduk asli yang beriringan dengan perkembangan ekonomi dan teknologi serta tersebarnya budaya Eropa.

Latar Belakang Abad Penjelajahan

Perlu dipahami bahwa terjadinya Abad Penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa disebabkan oleh berbagai kondisi yang menyebabkan mereka melakukan penjelajahan untuk mencari rute baru. Adapun penyebab utama bangsa Eropa memulai Abad Penjelajahan; Pertama menjelang akhir abad ke-14 Kekaisaran Mongolia di Asia terpecah yang menyebabkan tidak terjaminnya keamanan rute perdagangan di jalur darat. Faktor kedua adalah berkuasanya Turki Utsmani (yang mewakili para pedagang Muslim) dan Venesia yang (mewakili para pedagang Italia) terhadap akses komersial ke Mediterania dan jalur laut ke arah Timur. Dengan kedua faktor utama inilah, yang mendorong bangsa Eropa untuk memulai pelayaran mereka mencari Dunia Timur.

Bangkitnya Perdagangan Eropa

Setelah jatuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476, telah berdampak pada terputusnya hubungan antara Eropa dan daratan Timur. Dunia Kristen (Eropa) sebagian besar tertinggal dibandingkan dengan Dunia Islam (Arab) yang dengan cepat melakukan penaklukan dan menyatukan wilayah yang besar di Timur-Tengah dan Afrika Utara. Perang Salib yang direncanakan untuk merebut kembali “Tanah Suci” yang dikuasai oleh kekuatan politik Islam ternyata tidak membawa keberhasilan secara militer, melainkan telah membawa bangsa Eropa menjalin kontak dengan Timur-Tengah terutama pula dengan barang-barang yang diproduksi dan diperdagangkan di sana. Sejak abad ke-12, ekonomi Eropa telah memulai koneksi jalur perdagangan sungai dan laut yang menciptakan jaringan perdagangan.

Sebelum abad ke-12, hambatan utama aktivitas perdagangan di sebelah timur Selat Gibraltar yang memisahkan Laut Mediterania dengan Samudra Atlantik adalah kendali politik Islam atas sebagian besar wilayah yang dibatasi oleh geografis ini, terutama di Semenanjung Iberia. Monopoli perdagangan negara-kota (city-state) di Semenanjung Italia terutama Venesia dan Genoa. Pertumbuhan ekonomi di Semenanjung Iberia mulai kembali ke tangan orang Eropa setelah penaklukan kembali terhadap Andalus dan pengepungan Lisboa (Lisabon) pada tahun 1147.

Menurunnya kekuatan angkatan laut Kekhalifahan Fatimiyah yang dimulai sebelum terjadinya Perang Salib Pertama telah membantu negara-negara maritim Italia, terutama Pisa, Venesia dan Genoa memulai dominasi mereka terhadap perdagangan di Mediterania Timur yang menyebabkan pedagang di kota-kota itu menjadi kaya dan memiliki pengaruh secara politik. Perubahan lebih lanjut dari situasi perdagangan di Mediterania Timur juga disebabkan oleh menurunnya kekuatan angkatan laut Bizantium setelah kematian Kaisar Manuel I Komnenos pada tahun 1180, yang akhirnya memaksa Bizantium membuat beberapa konsensi penting dengan para pedagang Italia menggunakan pelabuhan Bizantium. Sedangkan di utara, penaklukan yang dilakukakan oleh William the Conquerr terhadap Inggris di akhir abad ke-11 memungkinkan perdagangan yang damai di Laut Utara.

Baca Juga  Ekspedisi Henry Sang Navigator (1418-1460)

Liga Hanseatic, sebuah konfederasi serikat pedagang dan kota-kota mereka yang terletak di Jerman Utara sepanjang Laut Utara dan Laut Baltik, berperan penting di dalam pengembangan perdagangan di wilayah tersebut. Pada abad ke-12 wilayah Flanders, Hainault, dan Brabant menghasilkan tekstik dengan kualitas terbaik di Eropa Barat Laut, yang mendorong pedagang dari Genoa dan Venesia untuk berlayar ke sana langsung dari Mediterania melalui selat Gibraltar dan ke pesisir Samudra Atlantik yang terekam oleh catatan Nicolozzo Spinola saat perjalanan pertamanya dari Genoa ke Flanders pada tahun 1277.

Perjalanan Bangsa Eropa Pada Abad Pertengahan (1241-1438)

Abad Penjelajahan yang dilakukan melalui jalur laut terinspirasi pula oleh adanya serangkaian ekspedisi Eropa melintasi Eurasia melalui jalur darat pada akhir Abad Pertengahan. Keberadaan Bangsa Mongol, beberapa kali turut mengancam eksistensi politik di Eropa. Namun, di sisi lain, bangsa Mongol juga menyatukan sebagian besar Eurasia, dan sejak tahun 1206 Pax Mongolica telah memberikan izin dan menjamin keamanan perdagangan serta komunikasi yang membentang dari Timur-Tengah ke Cina. Beberapa dari orang Eropa memanfaatkan hal ini untuk menjelajahi daerah Timur, yang sebagaian besar adalah orang Italia. Hubungan Italia dengan Levant telah membangiktkan rasa ingin tahu bangsa Italia terhadap perdagangan dan negara-negara yang terletak lebih jauh ke timur.

Berikut ini adalah beberapa kisah para pedagang dari Afrika Utara dan Mediterania yang berdagang di Samudra Hindia pada periode akhir Abad Pertengahan. Duta-duta besar Kristen dikirim hingga ke Karakorum selama invasi Mongolia di Levant, dan dari peristiwa inilah mereka memperoleh pemahaman yang lebih besar tentang dunia. Pengelana pertama adalah Giovanni da Pian del Carpine, yang diutus oleh Paus Innosensius IV kepada Khan Agung, yang melakukan perjalanan ke Mongolia pada tahun 1241 dan kembali pada tahun 1427. Hampir pada waktu yang sama, pangeran Rusia Yaroslav dari Vladimir, dan kemudian putranya Alexander Nevsky dan Andrey II dari Vladimir, melakukan perjalanan ke ibu kota Mongolia. Meskipun memiliki dampak yang kuat secara politik, namun mereka tidak memiliki catatan rinci dari perjalanannya.

Pengelana lainnya yang mengikuti jejak Giovani dan pangeran dari Vladimir adalah Andre de Longjumeau dari Prancis dan Flemish William dari Rubruck yang mencapai Tiongkok melalui Asia Tengah. Sedangkan pedagang Italia lainnya dari Venesia, Marco Polo secara rinci menuliskan catatan perjalanannya ke seluruh Asia dari tahun 1271 sampai dengan 1295, menggambarkan menjadi tamu di istana dinasti Yuan Kubilai Khan dalam perjalanannya dan dibacakan di seluruh Eropa.

Tentara Muslim yang menjaga Selat Gibraltar berhasil dikalahkan oleh Genoa pada tahun 1291 ketika orang Genoa berupaya menjelajahi Samudra Atlantik. Sejak tahun 1325-1354 orang Maroko, Ibnu Battuta melakukan perjalanan melalui Afrika Utara, Gurun Sahara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Tanduk Afrika, Timur Tengah dan Asia hingga ke Cina. Setelah kembali dari perjalanannya, Ibnu Battuta menceritakan kisah perjalanannya kepada seseorang yang ia temui di Granada. Antara tahun 1357-1371 sebuah buku perjalanan yang ditulis oleh John Mandeville memperoleh popularitas yang besar karena dijadikan sebagai referensi untuk wilayah Mesir, Timur dan Levant secara umum dan menegaskan kepercayaan lama bahwa Yerussalem adalah pusat Dunia.

Setelah periode hubungan antara Timur dengan Eropa pada tahun 1439, Niccolo de’ Conti menerbitkan kisah perjalanannya sebagai seorang pedagangan Muslim ke India dan Asia Tenggara dan kemudian pada tahun 1466-1472, pedagangan Rusia Afanasy Nikitin dari Tver melakukan perjalanan ke India, yang ia jelaskan dalam bukunya A Journey Beyond the Three Seas. Perjalanan darat ini memiliki efek yang tidak begitu besar. Runtuhnya Kekaisaran Mongol yang begitu cepat menyebabkan sulitnya akses perdagangan ke Timur ditambah dengan adanya wabah Black Death pada abad ke-14. Hal ini dipersulit dengan kebangkitan Utsmaniyah yang semakin membatasi kemungkinan perdagangan Eropa melalui jalur darat.

Agama

Tidak disangkal bahwa Agama juga memainkan peranan penting dalam memotivasi penjelajahan bangsa Eropa. Pada tahun 1487, utusan Portugis Pero da Covilha dan Afonso de Paiva dikirim dalam misi rahasia untuk mengumpulkan data mengenai jalur laut ke India. Sepanjang Abad Pertengahan, penyebaran akaran agama Kristen di Eropa telah memicu keinginan untuk berkhotbah di negeri-negeri yang jauh. Upaya penginjilan ini menjadi bagian penting dari penaklukan militer kekuatan Eropa seperti Portugal, Spanyol, dan Prancis yang seringkali mengarah untuk mengkonversi kepercayaan penduduk asli saat kedatangan mereka. Aktivitas ini dilakukan baik secara sukarela maupun secara paksa.

Selain itu, ordo-ordo keagamaan seperti Fransiskan, Dominikan, Agustinian dan Jesuit juga mengambil peranan yang besar dalam upaya misi di Dunia Baru. Pada akhir abad ke-16 dan ke-17, kehadiran Jesuit meningkat saat mereka berusaha untuk menegaskan kembali kekuasaan mereka dan menghidupkan kembali budaya Katolik di Eropa yang dianggap telah dirusak parah oleh adanya Reformasi Protestan.

Baca Juga  Penjelajahan Bangsa Portugis Yang Di Sponsori Fernao Gomes (1469-1482)

Ekspedisi Cina (1405–1433)

Orang-orang dari peradaban Tiongkok memiliki hubungan yang luas melalui perdagangan di Asia dan telah berlayar ke Arab, Afrika Timur dan Mesir sejak periode kekuasaan Dinasti T’ang (618-907). Memasuki tahun 1405-1421, kaisar Dinasti Ming, Yongle mensponsori serangkaian misi maritim di bawah Laksamana Zheng He (Cheng Ho). Meskipun pelayaran Zheng He ini penting, namun tidak menghasilkan hubungan yang permanen karena perubahan kebijakan isolasi di Tiongkok yang mengakhiri pelayaran dan pengetahuan dunia maritim bagi Tiongkok.

Perlu dicatat dalam ekspedisi Zheng He ini disiapkan armada yang besar terdiri dari kapal jung terbesar yang disebut bao chuan (kapal harta karun) dengan ukuran 121 meter (400 kaki) yang dapat menampung ribuan orang di dalamnya. Ekspedisi pertama berangkat pada tahun 1405. Setidaknya terdapat tujuh ekspedisi, dan yang paling mahal biayanya adalah ekspedisi terakhir ketika armada itu mengunjungi Arab, Afrika Timur, India, Kepulauan Melayu dan Siam. Disepanjang perjalanan ini mereka bertukar barang dengan memberikan emas, perak, porselen dan sutra dan sebagai imbalannya mereka mendapatkan burung unta, zebra, gading gajah dan jerapah.

Setelah kematian kaisar Yongle, Zheng He memimpin ekspedisinya yang terakhir berangkat dari Nanking pada tahun 1431 dan kembali ke Beijing pada tahun 1433. Ekspedisi terakhir ini kemungkinan mencapai Madagaskar. Perjalanan Zheng He ini dicatat dan dilaporkan oleh Ma Huan pada tahun 1433, seorang penjelajah dan penerjemah Muslim yang menemani tiga pelayaran Zheng He dari ketujuh pelayaran yang dilakukannya. Pelayaran yang dilakukan oleh Zheng He ini memiliki efek siginikan dan bertahan lama pada jaringan maritim dan berhasil merestrukturisasi pelayaran internasional. Misalnya karena keterlibatan Ming, pelabuhan seperti Malaka, Cochin, dan malindi telah tumbuh sebagai alternatif utama bagi pelabuhan-pelabuhan penting dan mapan.

Pelayaran Zheng He juga telah berhasil mengintegrasikan perpindahan internasional baik barang, ide maupun orang. Namun, perjalanan ini tidak ditindaklanjuti, Dinasti Ming mengalami kemunduran, diterapkannya kebijakan isolasi dan ruang perdagangan maritim yang terbatas. Ekspedisi ini dihentikan secara tiba-tiba seiring dengan kematian kaisar dan kisah perjalanannya disembunyikan, ditutup rapat-rapat oleh Kaisar Xuande.

Motif Eksplorasi

Bagi para penjelajah awal, salah satu motif utama penjelajahan adalah keinginan untuk menemukan jalur perdagangan baru ke Asia. Pada tahun 1400-an, para pedagang dan tentara salib telah membawa banyak barang ke Eropa yang berasal dari Afrika, Timur-Tengah, dan Asia. Permintaan barang-barang ini meningkatkan keinginan bangsa Eropa untuk berdagang.

Orang Eropa sangat tertarik dengan rempah-rempah yang berasal dari Asia. Mereka telah belajar menggunakan rempah-rempah untuk membantu mengawetkan makanan selama musim dingin dan untuk menutupi rasa dari makanan yang sudah tidak segar lagi.

Perdagangan dengan Timur, bagaimanapun, mahal dan sulit. Orang-orang Muslim dan Italia telah mengendalikan arus perdagangan. Barang-barang dibawa oleh para pedagang Muslim ke pantai timur Laut Mediterania. Kemudian, para pedagang Italia membawa barang-barang tersebut ke Eropa. Namun, permasalahan muncul ketika penguasa Muslim terkadang menutup jalur perdagangan dari Asia ke Eropa. Selain itu, barang-barang dagang ini melewati banyak tangan, dan masing-masing pihak perdagangan menaikkan harga dari barang-barang itu.

Para penguasa dan pedagang-pedagang Eropa ingin mematahkan dominasi yang dimiliki orang-orang Muslim dan Italia dalam perdagangan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah menemukan jalur laut ke Asia. Pelaut Portugis mulai mencari rute untuk mengelilingi Afrika. Di sini Christopher Columbus mencoba mencapai Asia dengan berlayar ke barat melintasi Atlantik.

Motif lain selain perdagangan juga ikut memainkan perannya. Banyak orang senang dengan kesempatan penjelajahan ini untuk pengetahuan baru. Para penjelajah melihat kesempatan untuk mendapatkan ketenaran dan kemuliaan serta kekayaan. Beberapa diantaranya membayangkan sebuah petualangan yang menantang. Dan ketika tanah baru ditemukan, bangsa-bangsa Eropa ini ingin mengklaim kekayaan tanah itu untuk diri mereka sendiri.

Motif terakhir untuk melakukan eksplorasi adalah keinginan untuk menyebarkan agama Kristen. Baik negara Protestan maupun Katolik sangat ingin mencari penganut baru ajaran mereka. Para misionaris ini pun mengikuti jalan yang dirintis oleh para penjelajah, terkadang juga para misionaris ini menggunakan kekerasan untuk membawa penduduk asli ke dalam keyakinan mereka.

Kemajuan Pengetahuan dan Teknologi

Era Penjelajahan dimulai ketika Eropa memasuki Abad Renaissans. Dengan adanya Renaissans menghasilkan sejumlah kemajuan di bidang pengetahuan dan teknologi memudahkan penjelajah untuk melakukan penjelajahan ke hal yang tidak diketahui. The Periplus of Erythraean Sea, sebuah dokumen yang berasal dari tahun 40-60 M, menggambarkan rute yang baru ditemukan melalui Laut Merah ke India. Deskripsi itu juga termasuk mengenai pasar di kota-kota di Laut Merah, Teluk persia, dan Samudra Hindia, temasuk juga di sepanjang timur Afrika. Pengetahuan Abad Pertengahan Eropa tentang Asia di luar wilayah Kekaisaran Bizantium bersumber dari beberapa laporan yang sebagian besar legenda dan berasal dari masa penaklukan yang dilakukan oleh Alexander Agung dan penerus-penerusnya. Sumber lainnya adalah jaringan perdagangan orang Yahudi Radhan yang didirikan sebagai perantara antara Eropa dan dunia Muslim selama Perang Salib.

Pada tahun 1154, Muhammad al-Idrisi membuat deskripsi dunia dan peta dunia, Tabula Rogeriana di Istana Raja Roger II dari Sisilia, tetapi Afrika hanya sebagian yang diketahui. Peta itu dibuat berdasarkan keterangan orang Kristen seperti Genoa dan Venesia dan para pelaut Arab yang hanya memberikan gambaran bagian utara Afrika sedangkan wilayah selatannya tidak diketahui. Meskipun ada informasi mengenai Gurun Sahara, tetapi pengetahuan itu sangat terbatas karena blokade yang dilakukan oleh orang Arab di Afrika Utara sehingga menghalangi penjelajahan ke pedalaman.

Baca Juga  Penjelajahan Bangsa Portugis Yang Di Sponsori Fernao Gomes (1469-1482)

Peta Afrika yang bersentuhan dengan Samudra Atlantk terfragmentasi dan sebagian besar berasal dari informasi peta Yunani dan Romawi Kuno berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Kartago, termasuk waktu penjelajahan Romawi di Mauritania. Laut Merah hampir tidak dikenal dan hanya melakukan hubungan dagang dengan republik maritim, khususnya Republik Venesia yang mengumpulkan pengetahuan maritim lebih akurat. Sedangkan rute perdagangan di Samudera Hindia dilalui oleh para pedagang Arab dan Tiongkok yang dipelopori Zheng He sekitar tahun 1405-1421.

Salah satu kemajuan utama adalah dalam bidang kartografi, seni dan ilmu pembuatan peta. Pada awal 1400-an, seorang sarjana Italia menerjemahkan sebuah buku kuno berjudul Guide to Geography dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. Buku tersebut ditulis oleh Ptolemeus pada abad ke-2 M. Salinan cetak dari buku tersebut mengilhami minat baru dalam bidang kartografi. Pembuat peta Eropa menggunakan karya Ptolemeus untuk menggambar peta yang lebih akurat.

Penemuan-penemuan yang dilakukan oleh penjelajah memberikan informasi baru kepada pembuat peta untuk melakukan pekerjaan. Hasilnya adalah perubahan dramatis dalam pandangan orang Eropa tentang dunia. Pada tahun 1500-an, globe dibuat untuk menunjukkan bahwa Bumi sebagai sebuah bola. Pada tahun 1507, seorang kartografer Jerman membuat peta pertama yang dengan jelas menunjukkan pera Amerika Utara dan Selatan terpisah dari Asia.

Pada gilirannya, peta yang lebih baik membantu penjelajah dengan mempermudah navigasi. Ahli geografi Renaisans yang paling penting, Gerardus Mercator, membuat peta menggunakan garis bujur dan lintang yang lebih baik. Teknik pembuatan peta Mercator ini sangat membantu para navigator. Desain kapal yang mengalami peningkatan juga membantu para penjelajah. Pada tahun 1400-an, pembuat kapal Portugis dan Spanyol membuat karavel. Kapal-kapal ini kecil, cepat, dan mudah bermanuver. Dasarnya yang dangkal memudahkan penjelajah untuk melakukan perjalanan di sepanjang garis pantai yang airnya tidak dalam. Karavel juga menggunakan layar lateen (segitiga), ide ini diadopsi dari kapal-kapal Muslim. Layar ini dapat diposisikan untuk memanfaatkan tenaga angin ke mana pun angin bertiup.

Di Jawa, orang-orang membangun kapal dagang yang mampu berlayar di samudera yang disebut Po sejak abad ke-2 yang memiliki panjang lebih dari 50 m dan mampu membawa 700 orang dengan muatan 250-1000 ton. Kapal ini dibangun dengan beberapa lapis papan yang dapat menahan badai dengan 4 layar.

Seiring dengan kapal yang lebih baik, alat navigasi baru membantu para pelaut melakukan perjalanan dengan lebih aman di lautan lepas. Pada akhir abad ke-15, teknologi kompas jauh lebih baik. Kehadiran kompas juga menjadi pendorong penjelajahan samudra bagi bangsa Eropa. Kompas telah digunakan untuk navigasi bagi pelayar Tiongkok sejak abad ke-11 dan diadopsi oleh para pedagang Arab di Samudera Hindia. Kompas mulai menyebar di Eropa pada akhir abad ke-12 atau awal abad ke-13. Penggunaan kompas untuk navigasi di Samudera Hindia diperkirakan dimulai pada tahun 1232. Para pelaut menggunakan kompas untuk membantu mereka dalam menemukan arah perjalanan. Astrolabe membantu para pelaut mengetahui jarak utara atau selatan mereka dari khatulistiwa.

Akhirnya, perkembangan teknologi persenjataan yang lebih baik memberi orang Eropa keuntungan yang besar atas orang-orang yang mereka temui dalam penjelajahan mereka. Para pelaut Eropa dapat menembakkan meriam mereka ke sasaran di dekat pantai tanpa meninggalkan kapal. Di darat, senjata penduduk asli seringkali tidak terlalu sepadan dengan senjata, baju besi, maupun juga dengan kuda Eropa.

Dengan faktor-faktor pendukung inilah bangsa Eropa melakukan penjelajahan yang berhasil sampai ke Asia, Afrika dan Amerika. Abad penjelajahan ini pun menjadi awal mula dari adanya eksploitasi sumber daya alam dan juga manusia pada abad-abad selanjutnya.

Daftar Bacaan

  • Manguin, Pierre-Yves. September 1980. “The Southeast Asian Ship: An Historical Approach”. Journal of Southeast Asian Studies. 11 (2): 266–276.
  • Manguin, Pierre-Yves. 1993. “Trading Ships of the South China Sea. Shipbuilding Techniques and Their Role in the History of the Development of Asian Trade Networks”. Journal of the Economic and Social History of the Orient: 253–280.
  • Nassaney, Michael Shakir. 2014. Smith, Claire (ed.). “North America During the European Contact Period”. Encyclopedia of Global Archaeology. New York: Springer
  • Pagden, Anthony. 1993. European Encounters with the New World: From Renaissance to Romanticism. New Haven: Yale University Press.
  • Paine, Lincoln. 2013. The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. New York: Random House, LLC.
  • Parry, J. H. 1973. The Age of Reconnaissance: Discovery, Exploration, and Settlement, 1450–1650. London: Cardinal
  • Raychaudhuri, Tapan. 1982. The Cambridge Economic History of India: Volume 1, C.1200-c.1750. Cambridge: Cambrige University Press.
  • Temple, Robert. 2007. The Genius of China: 3000 Years of Science, Discovery Invention. London: Andre Deutsch.
  • Washburn, Wilcomb E. 1962. “The Meaning of “Discovery” in the Fifteenth and Sixteenth Centuries”. The American Historical Review. JSTOR. 68 (1): 1–21.
error: Content is protected !!