Covering Law Model Dalam Eksplanasi Sejarah

CLM (Covering Law Model) adalah salah satu model eksplanasi sejarah. Covering Law Model atau yang disingkat CLM adalah model yang dikembangkan oleh Carl Gustav Hempel untuk memberikan penjelasan sejarah. Model Covering Law Model ini berawal dari pikiran David Hume (1712-1776) seorang filsuf yang berasal dari Skotlandia. Di dalam artikel ini akan dijelaskan tentang pengertian Covering Law Model dalam eksplanasi sejarah.

Hakekat CLM (Covering Law Model)

David Hume, seorang filsuf dari Skotlandia merumuskan modul pertama mengenai Covering Law Model. Pada abad ke -18 banyak orang terkesan oleh prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh ilmu alam. Maka masuk akal apabila ada ide untuk menerapkan metode-metode dan penelitian ilmu alam terhadap masyarakat manusia. Ada pertimbangan-pertimbangan lain yang ikut memainkan peranan. Seperti alam raya tetap sama, tetap setia trhadap kodratnya, demikian pula kodrat manusia tidak dapat berubah. Seperti alam diatur oleh hukum-hukum tertentu, demikian pula perbuatan-perbuatan manusia tunduk kepada prinsip-prinsip tertentu yang “konstan dan universal”. David Hume menganjurkan agar metode-metode yang di gunakan dalam ilmu alam juga diterapkan terhadap perbuatan manusia.

Covering Law Model Dalam Eksplanasi Sejarah

Auguste Comte seorang filsuf dari abad ke- 19 (1798-1857) berpendapat bahwa cara kerja seorang peneliti sejarah harus sama dengan metode kerja seorang peneliti alam raya. Itulah yang di rumuskan Comte dengan istilah “Positivisme”. Bila di rumuskan secara umum maka menurut positivisme hanya terdapat satu jalan dalam memeperoleh pengetahuan yang benar dan dapat di percaya, entah apa objek penelitian kita (alam hidup, alam mati, sejarah dan sebagainya), yakni menerapkan metode-metode ilmu eksata.

Baca Juga  Konsep Perubahan Dan Keberlanjutan Dalam Sejarah

Contoh Covering Law Model yang menerangkan pemikiran Carl Gustav Hempel yakni: mengapa seorang tokoh Belanda sudah menyerah pada tanggal 8 Maret 1942 kepada panglima Jepang? kedua premis yang menghasilkan suatu keterangan berbentuk sebagai berikut:

a) Selalu bila musuh menyerang dengan kekuatan militer yang lebih unggul, khusus di udara maka perlawanan dihentikan;

b) Tentara Jepang dengan jelas memperlihatkan bahwa lebih unggul dari tentara Belanda Kesimpulan dapat ditarik peristiwa yang ingin kita terangkan (eksplanadum) diterangkan dengan memuaskan (eksplanans). Di atas telah dibicarakan jenis peristiwa-peristiwa tanda-tanda yang di gunakan (C1,C2,…), serta E (event) menunjukka peristiwa-peristiwa itu. Kadang- kadang dengan salah satu objek terjadi sesuatu, misalnya Tentara Jepang melihatkan keunggulannya, dapat di gunakan simbol X (C1, C2, C3,…) dan XE. Objek X yang mempunyai sifat-sifat C1, C2, C3, dan E. Dapat di rumuskan kembali sebagai berikut:

1) X (C1,C2,C3,…..) XE

2) X (C1,C2,C3,…..) XE

Yang kemudian dibaca sebagai berikut :

a) Bagi semua X (yakni semua barang yang berupa X), berlaku pola hukum bahwavbila mempunyai sifat-sifat C1,C2,C3, dan seterusnya juga mempunyai sifat E;

b) Ternyata X mempunyai sifat-sifat C1,C2,dan seterusnya;

c) Jadi X juga mempunyai sifat E

error: Content is protected !!

Eksplorasi konten lain dari Abhiseva.id

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca